yoondiction

Setelah dihubungi berkali-kali, Samuel tetap tidak menjawab telepon. Waniar yang khawatir hanya bisa menghela nafas kasar. Ia juga tidak tahu keberadaan adiknya. Juga, tidak ada yang dapat ia tanyai perihal keberadaan Samuel. Waniar akhirnya memutuskan untuk menunggu saja, siapa tahu adiknya akan muncul beberapa saat berikutnya.

Waniar menyandarkan kepala kepada sandaran sofa di belakangnya. Ia memejamkan mata, dan menghela nafas berat. Sepertinya ia terlalu khawatir. Benar saja, tak sampai beberapa lama Samuel akhirnya muncul di hadapan Waniar yang terlihat tidak bersemangat. Sepertinya Samuel sedang keluar rumah ketika Waniar tiba.

“Lho, Kak? Udah berapa lama di sini?”

Bukannya menjawab, Waniar justru langsung memarahi adiknya itu. “Lo bisa nggak, sih, sehari aja jangan buat orang khawatir? Handphone lo udah nggak ada gunanya kalau nggak lo aktifin, Sam! Gimana kalau ada apa-apa? Gue nggak bisa tolongin lo kalau gue nggak tau keadaan lo!”

Samuel diam, lalu dengan lirih mengucapkan permintaan maaf kepada sang kakak. “Sori, handphone gue tadi mati, gue nggak sadar pas keluar. Sori, karena nggak ngasih tau lo kalau gue mau keluar bentar. Gue juga nggak maksud untuk bikin lo sama Kak Satria khawatir, kok.”

Waniar yang tadinya menatap Samuel dengan tatapan tajam langsung membuang pandangannya ke sembarang arah. Sepertinya ia terlalu berlebihan memarahi Samuel atas hal yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan.

“Sori, Sam. Gue kelepasan. Nggak seharusnya gue marahin lo.”

Samuel tersenyum saja. Ia tentu mengerti kenapa kakaknya bisa seperti itu. Karena ia tahu, ia bisa kehilangan Samuel kapan saja.

Waniar berdeham kecil setelah atmosfir dalam apartment Samuel mulai aneh. “Mau makan di luar nggak?”

Samuel yang semula tertunduk langsung menoleh dan mengangguk.

Keduanya memutuskan untuk mencari makan di sekitar apartment saja, sambil berjalan kaki menikmati suasana kota yang ramai. Tadinya Waniar menolak ide tersebut, karena ia merasa sangat lelah, tetapi Samuel membujuknya hingga ia tidak dapat menolak lagi.

Tidak ada suara yang keluar dari keduanya. Tidak ada yang tahu isi pikiran masing-masing. Tetapi mereka mengerti apa yang dirasakan mereka masing-masing.

tw // selfharm

Belinda mengerutkan keningnya saat melihat Waniar yang bekerja dalam diam. Tidak ada percakapan di antara keduanya, membuat suasana sangat canggung. Belinda ingin beranjak saat jam istirahat tiba, namun ketika melihat Waniar yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, membuat Belinda mengurungkan niatnya. Dia juga tidak begitu lapar, tugasnya di sini hanya mengamati, menemani, dan membantu Waniar bekerja.

Keduanya kembali sibuk, sampai suara bel ponsel milik Waniar mengganggu pekerjaan mereka. Belinda mengernyit bingung, menurut pengamatannya, Waniar adalah tipe orang yang selalu meninggalkan ponselnya dalam mode silent, ternyata ia memasang bel khusus untuk beberapa orang yang ia anggap penting.

Waniar melirik sekilas, walaupun sudah tahu siapa yang menelepon, tetapi tetap saja ia juga penasaran.

“Halo, Kak. Kenapa?” Itu kali kedua Belinda mendengar suara Waniar hari itu, ia masih belum terlalu terbiasa mendengar suara partner kerjanya.

“Belum, gue belum ketemu dia hari ini.”

“…”

Setelah mendengar perkataan kakak sulungnya dari telepon, pemuda itu langsung berdiri dari tempatnya. Ia terlihat sedikit panik.

“Gue ke sana sekarang, nanti gue kabarin lagi.” Setelah itu Waniar menutup telepon, dengan gerakan cepat, ia segera memakai jaket yang tadinya ia lepas.

Belinda mengernyit bingung ketika pemuda itu berdiri di hadapannya.

“Lo bawa mobil, kan? Ayo ikut gue sekarang.” Tak sempat Belinda membuka mulutnya, ia langsung ditarik Waniar keluar dari ruangan kerja mereka. Belinda hanya sempat meraih ponsel dan kunci mobilnya.

Waniar yang menyetir, sedangkan Belinda duduk di kursi penumpang. Gadis itu sempat mengira kalau Waniar membawanya hanya untuk menjadikannya sebagai sopir pribadi pemuda tinggi itu.

Belinda melirik sedikit ke arah Waniar, pemuda itu terlihat panik walaupun wajahnya tetap datar. Mobil yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan rata-rata, Waniar selalu tau batasan jika mengemudi di jalan raya.

Tak sampai setengah jam kemudian, keduanya sudah tiba di daerah salah satu apartment di dekat mall besar. Tanpa sadar, Waniar menggandeng tangan Belinda saat mereka melintasi lobby. Tujuan mereka saat ini ada di lantai 7, Waniar mengeluarkan kartu akses yang Satria berikan padanya sesaat setelah salah satu adiknya pindah ke sana.

Mereka menaiki lift menggunakan kartu akses tersebut. Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di depan kamar yang dituju.

Lantai itu mempunyai 6 unit, dan salah satunya ditempati oleh salah satu adik Waniar. Belinda sangat bingung sekarang, kenapa mereka hanya berdiri diam selama satu menit di depan pintu tanpa melakukan apa-apa?

Waniar mengeluarkan ponselnya, lalu menekan salah satu nomor yang telah ia bintangi. Tidak ada respons apa-apa, membuat Waniar menghela nafasnya kasar.

Dengan terpaksa ia harus masuk sendiri untuk bertemu dengan adiknya.

Bip.

Pintu terbuka, menampilkan keadaan apartment yang sangat berantakan. Penghuninya tidak terlihat di sekitar ruang tamu, begitu juga dengan open kitchen yang entah bagaimana menjadi satu-satunya ruangan yang terlihat bersih.

“Samuel!” Suara waniar menggelegar di ruangan itu, membuat Belinda terlonjak kaget.

Waniar bergerak menuju kamar mandi tamu di dekat jendela besar, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Ia kemudian mengecek setiap kamar dan ruangan di dalam unit Samuel, sampai ia menemukan salah satu kamar mandi yang terkunci.

“Samuel. Gue tau lo di dalam. Tolong buka, gue mau ngomong,” ucap Waniar sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan pelan.

“Sam, please. Kak Satria nyariin lo dari kemarin, jangan buat dia khawatir.”

Belinda menatap punggung lebar Waniar, entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar suara lirih pemuda itu.

“Gue bakal nunggu sampai lo mau keluar. Gue cuman pengen lihat keadaan lo doang, Sam.” Waniar menunggu di depan pintu kamar mandi selama lebih dari 5 menit, ia menunggu sampai tubuh Samuel muncul dari balik pintu.

Keadaan Samuel tidak lebih baik dari keadaan apartment-nya, rambutnya sangat berantakan, matanya sembap, tangannya penuh dengan garis-garis merah yang ia ciptakan sendiri. Pemuda itu hanya memakai kaus putih dan celana pendek, tampilannya seperti baru bangun dari tidur.

Waniar melirik keadaan kamar mandi di belakang Samuel. Sangat berantakan. Waniar meringis kecil saat mendapati banyak benda tajam yang berhamburan di dalam sana.

“Ke ruang tamu, langsung telepon Kak Satria,” perintah Waniar sambil mendorong sedikit tubuh Samuel agar ia bisa memasuki kamar mandi itu.

“Belinda, tolong jagain dia di ruang tamu, gue beresin ini dulu,” sambung Waniar.

Belinda agak kaget ketika namanya disebutkan, padahal dari tadi ia tidak mengajak gadis itu bicara sama sekali. Gadis itu mengangguk saja, kemudian ia mengikuti langkah Samuel yang berjalan menuju ruang tamu.

Waniar berjongkok, dengan tenang ia memunguti satu per satu benda tajam dari lantai. Setelah itu barulah ia mulai membersihkan kamar mandi itu menjadi seperti sediakala. Saat keluar dari kamar mandi, pandangan Waniar langsung tertuju kepada Samuel yang sudah memegang segelas teh di tangannya.

“Kak, maaf…” lirih Samuel kepada Waniar yang sudah duduk di hadapannya.

“Iya, nggak apa-apa. Udah telepon Kak Satri, belom? Tadi dia panik banget nyariin lo,” tanya Waniar.

“Belum… Gue masih takut, Kak.”

Waniar menghela nafasnya, matanya menangkap pergerakan Belinda yang bergabung dengan 2 gelas teh di tangannya.

“Mau teh?” tanya Belinda agak ragu. Waniar mengangguk, diulurkan tangannya untuk menerima gelas teh itu dari tangan Belinda.

Hening sejenak. Mereka sibuk menikmati minuman masing-masing.

“Besok Kak Satria ke sini, jadi malam ini gue nginep di sini.” Suara waniar memecahkan keheningan, membuat Samuel langsung menatap kakaknya.

“Gue nggak kenapa-kenapa, Kak. Nggak perlu sampai segitunya.”

“Lo udah nelepon Kak Satria?” Samuel menggeleng.

“Telepon dulu, biar jelas,” ucap Waniar sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.

Samuel awalnya menolak, sampai Waniar harus mewakili adiknya untuk menelepon sang kakak sulung.

“Halo, Kak. Ini Samuel udah sama gue.”

“…”

“Mendingan lo ngomong langsung ke orangnya deh, daripada ke gue lagi.”

Waniar memberikan ponselnya kepada Samuel, dan diterima dengan ragu-ragu oleh adiknya itu.

“Kak Satria mau ngomong,” kata Waniar saat ia tidak kunjung menempelkan telinganya pada benda pipih yang ia genggam.

Samuel berdiri, ia berjalan menjauh dari Waniar dan Belinda.


Kini ketiganya sudah berada di mall yang letaknya dekat dengan apartemen tempat Samuel tinggal. Setelah membereskan kekacauan yang diperbuat Samuel, Waniar mengajak Belinda dan adiknya itu untuk makan bersama.

Tadi, Waniar menyuruh Samuel untuk berganti baju terlebih dahulu. Tidak nyaman rasanya jika Samuel diberikan pandangan menyedihkan dari orang-orang asing nantinya. Samuel mengerti, ia sudah biasa menghadapi hal ini sendirian.

“Makan yang banyak, mumpung sama gue,” ucap Waniar saat pesanan mereka sudah datang. Samuel mengangguk saja. Terasa menyenangkan ketika ditraktir oleh kakaknya yang satu itu.

Setelah selesai makan, mereka berbincang sejenak. Meredakan segala kepanikan yang tadi menimpa mereka.

By the way, dia siapa, Kak? Kita belum kenalan dari tadi,” ucap Samuel, menyadarkan Waniar yang belum memperkenalkan keduanya.

“Oh iya, baru inget. Ini Belinda, partner kerja gue.”

Belinda tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kepada Samuel.

“Gue Belinda,” ucapnya kepada Samuel.

Samuel menerima uluran tangannya, lalu membalas, “Gue Samuel, adiknya Kak Waniar.”

Belinda manggut-manggut saja. Satu fakta baru tentang Waniar hari ini, dia mempunyai adik.

“Gue baru tau kalau lo punya partner, Kak.”

“Baru-baru aja, kok. Baru sebulanan.”

Wajar saja Samuel tidak tahu, karena Waniar memang tipe orang yang tertutup. Ia hanya bercerita hal-hal yang menurutnya penting.

“Terus, kenapa Kak Satria tiba-tiba mau ke sini? Masa, gara-gara gue doang?”

“Salah satu alasannya, ya, karena khawatir sama lo. Tapi, alasan sebenarnya dia ke sini karena gue ada urusan sama dia, masalah project gue.”

Samuel meringis pelan. Sebenarnya, ia sangat takut untuk bertemu dengan kakak sulungnya saat ini. Ia pasti akan diinterogasi habis-habisan.

“Kenapa tiba-tiba banget, deh.”

“Nggak tiba-tiba, kok. Lo-nya aja yang nggak bisa dihubungin,” cibir Waniar.

“Ya maaf, Kak.”

Samuel merunduk dalam. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.

“Nggak usah merasa bersalah gitu, Sam. Lo nggak salah. Lo juga nggak usah maksa cerita kalau emang nggak mau.” Ucapan Waniar memberikan Samuel sedikit ketenangan. Setidaknya, ada yang mengerti perasaannya saat ini.

“Udah, yuk, bayar. Gue sama Belinda mau balik kantor lagi, nih.”

Waniar baru berkenalan dengan Belinda secara langsung ketika ia baru saja kembali dari liburannya. Dan kesan pertama yang timbul dalam benaknya adalah; Belinda itu wanita yang aneh. Wanita itu terus-terusan menatap Waniar dengan ekspresi wajah yang tidak bisa digambarkan. Entah ia bingung, kesal, atau merasa terganggu dengan adanya Waniar di ruangan itu.

Kesan pertama Belinda terhadap Waniar tidak jauh berbeda. Ia menganggap pria itu aneh. Dengan kacamata berlensa tebal yang entah mengapa cocok, dan pakaian yang dikenakannya tidak seperti pakaian karyawan lain dalam ruangan itu.

Kaos turtle neck putih dan jaket jeans berkerah. Membuat pemuda itu terlihat berbeda dari karyawan lain.

“Hayo… Jangan kelamaan tatapannya, nanti bisa jatuh cinta, lho,” goda salah seorang dari karyawan di dalam ruangan tersebut.

Waniar langsung membuang muka. Sudah waktunya untuk kembali bekerja.

Melihat Waniar yang berjalan menuju meja kerjanya. Di sana, ia membuka laci meja, lalu mengambil sebuah flashdisk. Setelah itu, Waniar meninggalkan ruangan tersebut, menuju ke tempat yang dikhususkan untuk pemuda itu bekerja.

Belinda mengerutkan keningnya bingung, membuat seorang pemuda yang duduk di sebelahnya membuka suara. “Nggak usah bingung, dia emang biasanya nggak kerja di sini. Kadang-kadang doang kalau ada tugas bareng,” jelasnya.

Demi menuntaskan rasa penasarannya, Belinda langsung bertanya, “Setelannya kenapa beda dari karyawan lain?”

“Dia emang gitu. Anak emasnya Direktur. Lagian, di divisi ini juga nggak ada aturan berpakaian, tapi anak-anak emang biasanya pakai kemeja aja.”

Belinda amat bingung. Kenapa hal tersebut tidak ada di kantor lamanya dulu.

“Udah, balik kerja aja sana. Nanti, kalau dia butuh, dia bakal balik lagi, kok.”

Belinda menurut saja. Ia juga masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


Seperti kata karyawan lain, Waniar akan kembali jika ia membutuhkan mereka.

Saat itu, Belinda sudah menyelesaikan pekerjaannya hari itu, sehingga ia bisa beristirahat sejenak. Dan tiba-tiba saja Waniar masuk ke dalam ruangan, dan langsung memberikan Belinda beberapa pekerjaan untuk mereka selesaikan bersama.

Hal yang membuat Belinda kagum adalah cara Waniar bekerja. Pemuda itu benar-benar fokus, dan cekatan. Tak lama, pekerjaan mereka telah selesai. Baru kali ini Belinda menyelesaikan pekerjaannya secepat itu.

“Kan, apa gue bilang. Dia bakal datang kalau emang ada kerjaan bareng. Nah, gimana, nih, kesan pertama kerja sama anak emas?” ujar James, karyawan yang memberi tahu Belinda informasi tentang Waniar.

Not bad, sih. Kerjanya cepet dan efisien.”

“Kan! Anak emas emang nggak usah diragukan, sih. Pokoknya dia, tuh, kebanggaan divisi ini banget.”

“Mumpung lagi istirahat, nih. Ada yang mau lo tanyain lagi tentang Waniar?” Salah seorang karyawan lain berseru.

Belinda menoleh, lalu mengernyit bingung.

“Gue Kalyan, kalau belum tau,” ucapnya saat menangkap tatapan bingung Belinda.

“Jadi, apa yang mau lo tanyain? Kali aja gue bisa jawab,” lanjut Kalyan bersemangat.

“Kalian nggak ada perasaan kesel pas dia disebut anak emas?” tanya Belinda tiba-tiba.

Kalyan dan James saling bertatapan, lalu tertawa bersama. “Kesel, sih, iya. Waktu pertama kali masuk. Soalnya, kita seumuran, tapi kenapa cuman dia yang diistimewakan. Tapi, pas tau kalau dia masuk duluan, dan termasuk senior, kita cuman bisa diem-diem aja. Terus, pas disatuin di satu proyek waktu itu, kita jadi ngerti kenapa dia jadi anak emas. Dia emang jenius, banget. Kita juga jadi lebih sering kerja bareng dia dibanding sama senior lain.”

Belinda menyimak penjelasan Kaylan dalam diam. Sepertinya perjalanannya untuk bekerja bersama Waniar masih panjang.

“Jadi, bisa dibilang kalau kalian lumayan deket?”

Kaylan dan James mengangguk bersama.

“Kita juga sering makan bareng di luar jam kerja. Dia anaknya juga asik.”

“Oh iya, lo belom tau satu fakta ini, kan?” seru James bersemangat, sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.

“Apaan?”

“Ini, lho, Waniar itu gamers, dia punya channel youtube pribadi.” James menyodorkan ponselnya kepada Belinda.

Belinda melebarkan matanya tidak percaya. 500 ribu pengikut. Sulit untuk dipercaya.

“Hebat, kan!”

Belinda mengangguk kaku. Wanita biasa sepertinya menjadi partner Waniar yang jenius? Jangan bercanda!

“Kayaknya besok gue ngajuin pindah kantor lagi, deh. Gue nggak bisa disandingin sama dia!”

Ketika Hazel keluar dari kamar, sudah ada Samuel dan Davian yang sedang mengobrol tepat di depan kamarnya. Tak lama, Melvin menyusul keluar dari dalam kamar.

“Sorry agak lama, gue ke toilet dulu tadi,” ucap Melvin meminta maaf.

“Santai, elah. Gue juga tadi habis dari toilet, kok,” balas Hazel sambil merangkul adiknya yang lebih tinggi.

“Udah, yuk, jalan, ngapain masih berdiri di sini?” Samuel berujar dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.

Ketiga yang lain mengangguk, kemudian beranjak dari depan kamar Hazel.

Ketika sampai di ujung koridor deretan kamar mereka, tiba-tiba saja mereka berhenti. Mereka menatap satu sama lain dan mundur satu langkah ke belakang. Pasalnya, lampu koridor tangga yang akan mereka lalui sedang mati, membuat jalur yang akan mereka pakai untuk menuju lantai bawah menjadi gelap gulita.

“Bukannya selalu dinyalain, ya? Atau, tadi lupa?” tanya Hazel yang sudah bersandar pada dinding koridor.

“Tadi pas gue naik masih nyala, kok. Lagi konslet doang kali,” balas Melvin sambil sedikit memastikan keadaan di sekitar tangga.

“Ini gimana mau turun, anjir, gue takut,” omel Samuel.

“Ngapain takut, anjir, gini doang.” Melvin membalas perkataan Samuel dengan sedikit meremehkan.

“Iya deh, si paling berani. Sana, turun sendiri, dah,” balas Samuel sambil sedikit menantang.

Melvin langsung ciut, ia juga tidak berani melewati koridor tangga yang gelap sendirian.

“Terus ini gimana, anjir, gue mau makan.”

Davian terlihat berpikir sebentar, lalu tiba-tiba menyerukan ide yang sama sekali tidak disetujui oleh adik-adiknya.

“Gimana kalau kita bangunin Kak Satria buat temenin kita?”

“Dav? Lo gila apa gimana, sih. Ntar diamuk, anjir.” Melvin, Hazel dan Samuel menolak keras masukan Davian.

Belum sempat mereka berdebat lagi, pintu kamar Satria tiba-tiba saja terbuka, menampilkan si pemilik kamar yang terlihat belum tidur walaupun sudah menggunakan piyama.

“Kenapa ribut malem-malem? Katanya tadi mau makan?”

“Ini baru mau turun, Kak, tapi lampu di tangga tiba-tiba mati.” Hazel yang menjawab, karena ia yang berhadapan langsung dengan Satria.

Satria yang mengerti langsung menutup pintu kamarnya, lalu berjalan di depan adik-adiknya untuk menuntun mereka turun.

“Besok gue ganti lampunya. Gue juga baru tau kalau udah konslet,” kata Satria ketika mereka sudah melewati tangga dengan aman.

“Sori jadi ganggu lo, Kak, kita nggak maksud,” ujar Samuel yang berdiri di dekat kakak sulungnya. Ia merasa tidak enak karena sudah mengganggu tidur kakaknya, padahal dari kemarin ia disibukkan oleh urusan perusahaan yang membuatnya tidak sempat beristirahat.

“Santai, gue juga belum tidur, kok. Masih nonton tadi,” balas Satria. Jelas ia berbohong. Karena ia dari tadi tengah berusaha untuk mengistirahatkan badannya, namun tidak bisa karena otaknya sepertinya menolak akan hal tersebut.

“Lo nggak mau balik aja, Kak?” tanya Davian saat Satria terus mengikuti mereka hingga ke dapur.

“Nggak usah, gue ikutan kalian makan mie aja. Tiba-tiba laper soalnya.”

Melvin meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia gugup setengah mati jika sudah dipanggil oleh Satria secara pribadi seperti ini bersama kedua saudaranya yang lain.

Melvin bersama Davian dan Mattew kini telah duduk sempurna di hadapan Satria yang menatap mereka dengan pandangan mengintimidasi.

“Kalian tau kenapa gue manggil kalian bertiga malam ini?” tanya Satria dengan suara rendah.

Dengan ragu-ragu ketiganya menggeleng. Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya Satria memanggil mereka. Setelah makan malam bersama, Satria menyuruh Melvin, Davian, dan Mattew untuk mencuci piring. Sehabis itu, ia memanggil mereka secara pribadi saat para saudaranya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Satria menghembuskan nafas pelan, bersiap untuk memulai pembicaraan serius dengan ketiga adiknya.

“Gue mau ngomongin tentang kuliahan kalian. Kali ini, nggak ada yang bisa ngelak.”

Saat itu, ketiganya sudah tau apa yang akan dibicarakan oleh si sulung.

“Ini udah berapa bulan? Kalian mau main-main sampai kapan?” ujar Satria lantang. Ekspresinya tenang, tidak ada raut marah di wajahnya, tetapi ketiga adiknya tak berani menatap sang Kakak.

“Davian, gue denger lo udah masuk tahap skripsian. Gue minta tolong untuk fokus, jangan sampai karena lo sibuk kerja, skripsi lo jadi keteteran. Jangan sampai tambah semester akibat kelakuan lo sendiri.” Davian menelan ludahnya dengan susah payah ketika merasakan bahwa Satria mengharapkan dirinya untuk lulus tepat pada waktunya.

“Iya, Kak. Gue usahain supaya bisa selesai semester ini.”

“Gue pegang kata-kata lo, Davian.”

Kini sang sulung beralih kepada Melvin. Ia menghela nafasnya lelah, sepertinya ia lelah untuk menasehati adiknya yang satu itu.

“Lo mau sampai kapan main-mainnya, Melvin. Waktu cuti lo udah habis, lho. Gue pokoknya nggak mau denger alasan lo lagi. Cepetan balik kuliah, atau lo nggak usah kuliah sama sekali mendingan.” Perkataan Satria membuat Melvin diam tidak berdaya. Kali ini, ia harus benar-benar menuruti kemauan sang kakak. Melvin tidak ingin ada penyesalan jika tidak mengikuti perkataan sang sulung.

“Lo juga, Matt. Gue nggak permasalahin, sih, karena lo juga masih semester tengah. Tapi, gue nggak mau kalau Samuel sama Vincent nyusul atau ngedahuluin lo, padahal lo masuk kuliah duluan. Jadi, gue mohon, tolong balik dan selesain kuliah lo tepat waktu.” Beralih kepada Mattew, pemuda itu terlihat datar saja, tetapi tetap mengangguk. Satria tau semua hal tentangnya, ia tidak bisa mengelak dari si kakak sulung.

Setelah berbicara bersama ketiga adiknya, Satria segera berpamitan untuk tidur. Tubuhnya terasa lelah, dan untungnya tidak ada perdebatan hebat malam itu.

Sepeninggalan Satria, ketiganya segera menarik nafas lega. Mereka baru saja melewati situasi yang menegangkan tanpa ada keributan dari sang kakak.

Satria memanggil ketiganya atas perintah sang ayah yang sudah sangat lelah dengan kelakuan mereka yang seperti tidak memperdulikan pendidikan, dan memutuskan untuk fokus kepada pekerjaan yang telah mereka dapatkan di usia muda. Menghindari pertengkaran yang akan terjadi, Satria akhirnya yang turun tangan untuk berbicara kepada ketiganya. Ia sangat tahu, kehidupan ketiga adiknya tidak semudah itu. Ia tidak ingin menekan mereka, tetapi permintaan sang ayah tidak bisa ia tolak.

Satria percaya kepada adik-adiknya, dan adik-adiknya mengikuti perkataannya. Ikatan persaudaraan mereka tidak bisa diukur menggunakan apa pun.

“Kok, sepi, yang lain pada ke mana, Jo?” tanya Satria saat menemukan kediaman keluarganya yang terlihat tenang.

“Lagi pada kumpul sama temen-temennya, Kak. Kan, lusa udah banyak yang mau balik lagi,” jawab Jonathan.

“Siapa aja yang keluar?”

“Kak Jeffry, Hazel, Davian, Melvin sama Samuel.”

Satria mengangguk saja. Tak lama, terlihat Mattew yang baru saja turun dari lantai atas, di mana kamar mereka berada.

“Mau kemana, Matt?”

“Mau keluar sama temen. Bentar doang, kok, nggak sampai malem,” jawab Mattew sembari sibuk menutup resleting tasnya.

“Ya udah, hati-hati, ya.” Mattew mengangguk saja sebagai respon ucapan Satria. Ia dengan cepat langsung meninggalkan kediaman keluarganya.

“Darel gimana?” tanya Satria saat ia berjalan bersama Jonathan menuju dapur.

“Kayaknya mau keluar juga, tadi udah sempet ngomong sama gue.” Satria manggut-manggut, ia tidak mempermasalahkan jika adik-adiknya sibuk sendiri hari ini. Ia juga punya urusan sendiri.

Satria membuka kulkas, sepertinya ingin menemukan sesuatu untuk dimakan. “Lo mau makan, Kak? Mau gue masakin, atau mau pesen di luar?” Jonathan menawarkan diri.

Sang sulung menggeleng. “Nggak, gue mau istirahat aja, nanti makannya agak siangan aja,” tolaknya.

Setelah itu keduanya berjalan bersama menuju kamar masing-masing.


Menjelang makan malam, Hazel dan Samuel mengabarkan kalau mereka akan menginap di rumah salah satu teman mereka. Mattew dan Davian belum kunjung kembali, sepertinya mereka akan makan malam di luar malam ini. Jadilah makan malam hari ini mereka hanya bersembilan bersama the mothers. Ayah belum kembali, sepertinya akan memakan waktu lama mengurus urusannya.

Makan malam mereka diisi dengan cerita Jeffry dan Darel tentang kegiatan mereka hari ini, disambung dengan pertanyaan mengenai William yang seharian mengerjakan lagu barunya, dan ditutup dengan cerita Januar yang sore tadi menyempatkan diri untuk berjalan-jalan dan memberi makan kucing liar di sekitar perumahan.

Davian dan Mattew baru saja kembali saat meja baru dibersihkan. Saudara-saudaranya masih sibuk mencuci piring masing-masing. Sehingga keduanya memutuskan untuk segera membersihkan diri, dan mengistirahatkan badan.

Saat Melvin baru saja selesai dengan piring cuciannya, tiba-tiba saja Satria memanggilnya, sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu.

“Kenapa, Kak?” tanya Melvin bingung.

“Panggil Davian sama Mattew, gue mau ngomong sama kalian bertiga. Tapi tunggu sampai yang lain naik ke atas dulu, gue mau ngomong personal soalnya,” ucap Satria.

Melvin tau, ia dan ketiga saudaranya tidak akan selamat malam itu.

“Sok ganteng banget, anjir,” komentar Darel saat melihat foto Davian dan Mattew yang baru saja diposting di Instagram pribadi mereka.

“Sewot aja lo, bocil,” balas Mattew dengan setengah kesal.

Mereka sedang menunggu makan malam sambil menonton Hazel yang sedang karaoke di ruang santai. Setelah melalui kegiatan yang melelahkan, sebagian dari mereka bahkan sudah ketiduran di berbagai tempat, tidak terganggu dengan suara keras Hazel.

“Ini yang ketiduran nggak mau masuk kamar aja?” tanya Samuel yang daritadi menemani Hazel bernyanyi.

“Udah, biarin aja, kasihan kalau dibangunin,” Jeffry menjawab. Pemuda itu terlihat kelelahan, bahkan hampir saja ketiduran di sofa yang ia duduki.

Satria sedang ada urusan pekerjaan, jadi ia tidak ikut bergabung dengan saudara-saudaranya malam itu.

“MAKAN MALAM SIAP!” teriak Melvin yang kembali memasak untuk saudara-saudaranya.

Hazel langsung menghentikan kegiatannya dan berlari menuju ruang makan. Jeffry berdiri dari tempatnya duduk, dan mulai membangunkan para adik-adiknya yang ketiduran, dibantu Mattew, Samuel, dan Darel.

Mereka makan malam dengan suasana tenang, tidak ada keributan seperti biasanya karena beberapa dari mereka sudah kelelahan.

“Habis ini jangan langsung tidur, biarin makanannya turun dulu, ya,” kata Jonathan memperingatkan ketika mendengar Januar mengatakan akan langsung tidur sehabis makan malam.

Januar mengangguk saja, mengurungkan niatnya untuk segera tidur.

Setelah makan, mereka membantu mencuci piring, lalu kembali berkumpul di ruang santai. Hazel dan Samuel tidak lagi tertarik untuk karaoke, mereka akhirnya hanya memutar film di TV untuk ditonton bersama.

Tidak sengaja, mereka malah ketiduran di ruang santai hingga fajar tiba.

Pagi hari, Satria keluar dari kamarnya dan menemukan pemandangan para saudaranya yang tidur menempel satu sama lain. Pria itu menghela nafasnya, ingin membangunkan, tetapi tidak ingin mengganggu.

Ia mendekati Jonathan yang tidur di atas sofa, lalu menepuk pundaknya berkali-kali, berusaha membangunkan adiknya itu.

Jonathan mengerang, perlahan-lahan ia membuka matanya dan menemukan Satria sedang berdiri menatapnya.

“Kenapa, Kak?” tanyanya dengan suara parau.

“Temenin gue beli sarapan, mumpung yang lain masih tidur,” pinta Satria.

Jonathan tidak menolak, ia segera bangkit dari posisi tidur dan meregangkan badannya sedikit. Keduanya pergi dengan Jonathan yang menyetir.

Sekitar satu jam kemudian keduanya kembali dengan membawa 13 bungkus makanan untuk sarapan mereka hari itu. Ternyata, para saudaranya sudah bangun, dan sekarang sedang berkumpul di pinggir kolam. Satria dan Jonathan membawa sarapan ke halaman belakang, yang disambut oleh Hazel dan Samuel dengan bersemangat.

“Makanan tiba!” teriak Hazel sambil berlari ke arah kedua kakaknya bersama Samuel.

Beberapa yang sudah masuk ke dalam kolam kembali naik ke daratan. Mereka ingin sarapan terlebih dahulu sebelum menghabiskan tenaga di dalam air pagi itu.

“Jam berapa lo bangun, Sat?” tanya Jeffry di sela-sela makan mereka. “Tadi gue nggak lihat jam, sih. Pokoknya, gue nggak langsung bangun tadi, gue lanjut tidur lagi. Terus, pas bangun gue nggak lihat Waniar sama Vincent di dalam kamar, kan, makanya gue mikir kalau udah kesiangan, taunya pada tidur di ruang santai.”

“Iya, buset, semuanya pada kecapekan,” Hazel menimpali.

“Berarti, kemaren malam lo bener-bener nggak keluar sama sekali dari kamar?” Melvin bertanya.

“Gue keluar pas kalian nonton, tapi akhirnya gue milih buat tidur duluan, karena kalian pasti lama kalau nonton.”

“Berarti lo udah beres waktu kita lagi nobar, ya?” Sebagai jawaban dari pertanyaan Darel, Satria mengangguk.

“Lama, anjir. Dari sore, kan, kemaren?” Lagi-lagi Satria mengangguk.

“Emang pekerja keras Bapak satu ini, bisa kali 10 juta masuk rekening,” goda Jeffry yang baru saja menyelesaikan makannya.

“Iya, bisa diatur,” balas Satria santai, yang disusul para saudaranya yang ikut meminta uang jajan padanya.

“Iya, nanti semua dapet bagian, kok,” ucap Satria menenangkan keadaan.

Setelah sesi sarapan pagi itu, Ravindiar bersaudara kembali pada aktivitas mereka, berenang. Mereka baru selesai pada tengah hari itu, di saat matahari mulai terik menyinari. Satria menyuruh Jeffry dan Jonathan untuk tetap tinggal saat para adik-adiknya beranjak untuk membersihkan diri.

“Kenapa?” tanya Jeffry cepat.

“Setelah ini kita ngapain?” Satria balas bertanya.

“Makan, mungkin?” Jeffry mengedikkan bahu, menjawab sesuai apa yang ada dipikirannya.

“Setelah itu?”

“Katanya mau pada pergi main flying fox.” Jonathan yang menjawab.

“Di mana tempatnya?”

“Nggak jauh dari tempat kemaren. Usulannya si Melvin.”

Satria terlihat berpikir, lalu mengangguk, “Okay, tapi gue nggak ikut hari ini.”

Jeffry terlihat akan protes, sebelum Satria melanjutkan perkataannya, “Ada kerjaan yang belom beres, Jeff. Nggak bisa gue tinggalin.”

Jeffry memutar bola matanya kesal, tetapi tidak protes.

Satria beranjak dari tempatnya duduk, hendak kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Nanti malem kita makan di luar, gue udah reservasi tempat. Jadi, jangan pulang kemaleman, ya,” ucap Satria sebelum ia benar-benar pergi.

Ravindiar bersaudara meninggalkan rumah pada pukul 3 sore. Sesuai rencana awal, mereka akan kulineran sambil berangkat menuju villa yang dituju. Mobil yang disetir oleh Jonathan diisi oleh Vincent, Jeffry, dan Mattew. Mobil yang disetir oleh Melvin diisi oleh Hazel, Darel, Samuel, dan Davian. Sedangkan mobil yang disetir oleh Waniar diisi oleh William, Satria, dan Januar.

Setelah satu setengah jam menyetir, mereka akhirnya melipir ke pinggir jalan setelah melihat penjual durian. Semuanya turun, kecuali William dan Vincent yang tidak menyukai buah berbau menyengat itu. Sesudah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga menemukan tukang sate di pinggir jalan. Mereka kembali turun untuk mengisi perut pada petang itu. Setelah makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan kembali berhenti di beberapa tempat untuk kulineran.

Pukul setengah delapan malam, mereka akhirnya tiba di villa, tempat mereka menginap. Pembagian kamar dilakukan oleh kakak-kakak tertua mereka.

“Ini kamar yang gede ada 3, yang kecil ada 4. Yang gede cukup untuk 3 orang, dan yang kecil untuk 2 orang. Kalau mau, kita pake semua kamar yang gede sama 2 kamar yang kecil aja, 3-3-3-2-2, gimana?” tanya Satria menawarkan.

“Boleh, Kak.”

Okay, deh. Kamar pertama, yang di ujung, bakal ditempati gue, Vincent, sama Waniar, ada yang keberatan?”

Tidak ada protes, Satria melanjutkan. “Kamar kedua, di samping kamar gue, bakal ditempati Januar sama William, gimana?”

Keduanya mengangguk setuju, dan langsung mengambil kunci kamar dari sang Kakak ketiga.

“Kamar ketiga, bakal ditempati Jeffry dan Darel, nggak protes, ya,” ucap Satria sambil menatap Jeffry.

“Lah, kenapa cuman bagian gue yang nggak boleh protes, anjir,” ujar Jeffry tidak terima sambil berjalan menuju Jonathan untuk mengambil kunci kamar.

Satria menggeleng saja, kemudian melanjutkan, “kamar keempat, ditempati Davian, Jonathan, dan Mattew, ya. Berarti kamar yang ujung kiri di tempatin sama Hazel, Samuel, dan Melvin. Sampai di sini, ada yang keberatan?”

Semuanya menggeleng, lalu Satria menyuruh mereka untuk menuju ke kamar masing-masing, ia juga memperingati mereka agar tidak terlalu ribut saat malam hari.

Satria menyuruh Vincent untuk membawakan barang-barangnya, sedangkan dia akan menaruh beberapa barang belanjaan yang tadi siang ia beli di dapur. Dengan ditemani oleh Jonathan dan Melvin, mereka membawa 3 kardus besar berisikan berbagai macam makanan dan minuman.

Saat mereka kembali, ruangan santai yang tadinya sepi sudah ramai dengan Samuel dan Davian yang berebutan hendak memutar lagu. Satria menggeleng-gelengkan kepala saja, sepertinya ia tidak akan ikut kegiatan mereka malam itu.

Di dalam kamar, Satria menemukan kedua adiknya yang sudah berbaring di atas kasur king size di tengah ruangan. Di sebelah kasur king size tersebut, terdapat satu kasur berukuran single, yang sepertinya akan menjadi tempat tidur Satria.

“Kalian nggak ikut di bawah?” tanya Satria sambil merebahkan dirinya ke atas kasur.

Vincent menggeleng, sedangkan Waniar malah balik bertanya, “mereka lagi karokean?”

“Iya, lo mau ikutan?”

Sebagai jawaban, Waniar beranjak berdiri dari tempatnya berbaring. “Gue mau ikutan,” katanya sebelum keluar dari kamar.

Setelah makan malam dengan beberapa tamu undangan, dan bercengkerama selama berjam-jam, akhirnya acara ulang tahun Darel selesai juga. Tapi tidak hanya sampai di situ, karena para Ravindiar bersaudara harus membersihkan halaman belakang rumah yang dipakai hari itu. The mothers dan Ayah tidak ikut membantu, karena Satria menyuruh mereka untuk segera beristirahat.

Sambil mengembalikan meja dan beberapa kursi yang dipakai, Hazel, Melvin, Januar, dan Davian sibuk sendiri menghabiskan kue yang tersisa.

“Ya ampun, makan terus kerjaannya dari tadi, bantuin dikit dong,” protes Jeffry yang sedang mengangkat meja kecil dengan kedua tangannya.

Hazel yang baru saja memasukan potongan besar kue langsung mengatupkan kembali mulutnya.

“Kan, tadi kita juga ikut kerja, Kak. Ini baru bentar doang istirahatnya,” jawab Melvin yang baru saja menelan kue di dalam mulutnya.

“Kerja apanya, anjir. Dari tadi gue lihat kalian asik makan aja,” Samuel ikut memprotes di belakang Jeffry.

Januar cangar-cengir saja, tiba-tiba ia berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju tempat beberapa kursi ditumpuk. “Itu, sana, ngikut Januar ngangkat kursi,” ucap Jeffry, kemudian berlalu dari hadapan ketiga adiknya.

Davian meringis pelan, kemudian ikut beranjak untuk membantu. “Kuenya dibawa masuk dulu, Zel, lu bantu di dalem aja,” kata Melvin yang ikut berdiri untuk membantu.

Hazel mengangguk saja dengan mulut penuh, tak lama ia beranjak sambil membawa kue yang masih tersisa. Memasuki pintu, Hazel langsung dikomentari oleh Mattew yang sedang mencuci piring. “Lo bisa nggak, sih, jangan makan terus?” sinis Mattew dengan wajah datarnya.

“Udah, biarin aja, Matt,” ucap William yang membantu Mattew mencuci piring. Hazel tersenyum tipis, kemudian berjalan melewati keduanya untuk meletakkan kue yang tersisa di dalam kulkas.

“Gue bisa bantu apa, nih?” tanya Hazel kemudian.

“Bantuin Kak Satria beresin ruang tamu, sana. Ada Waniar juga,” jawab Mattew masih dengan nada sinis. Tanpa membantah lagi, Hazel langsung menuruti perkataan sang adik, ia sudah capek berurusan dengan mulut-mulut pedas para saudaranya.

“Kak, gue bisa bantu apa di sini?” tanya Hazel yang berdiri di depan lorong masuk ruang tamu.

Satria menoleh, kemudian berpikir sebentar. “Bantu ambil barang, sekalian check out hotel, bisa?” ucap Satria sambil menatap Hazel.

“Gue sendirian?” tanya Hazel ragu-ragu.

Satria hanya tertawa kecil, lalu menggeleng. “Nanti bareng Jonathan sama Darel. Mereka lagi gue suruh nunggu vendor di luar, sih, jadi tunggu aja,” jawab Satria, setelah itu kembali kepada pekerjaannya lagi.

Karena dirasa sang sulung tidak memerlukan bantuan apa-apa, Hazel akhirnya memutuskan untuk menyusul kedua saudaranya yang sedang berada di luar rumah. Angin malam membuat Hazel harus melepas gulungan lengan kemejanya. Dalam hati, ia merasa sudah lama tidak merasakan angin malam seperti ini, dalam arti lain, ia rindu dengan angin malam di Indonesia.

“Zel, kenapa keluar?” tanya Jonathan yang sedang duduk di halaman depan rumah bersama Darel. Keduanya memakai jaket hitam, dan kemeja yang dipakai saat acara tadi.

“Disuruh Kak Satria ikut elo, Kak,” jawab Hazel sambil berjalan mendekat. Jonathan mengangguk saja, lalu menarik satu kursi di dekatnya untuk diduduki Hazel.

Hening beberapa saat, sampai ketika Jonathan tidak sengaja melirik Hazel yang terlihat sedang menikmati angin malam. Jonathan tersenyum tipis, lalu bertatapan dengan Darel yang berada di seberangnya.

“Kangen, ya, Zel?” tanya Jonathan sambil mengalihkan pandangannya kepada sang adik.

Hazel berbalik, lalu tersenyum. “Gimana nggak kangen, udah lama gue nggak pulang, Kak.”

“Ya, lagian, lo sibuk banget, Kak,” ujar Darel, ikut dalam percakapan.

Hazel diam lagi, terlihat raut sedih dari wajahnya yang membuat Jonathan menggeser kursinya mendekat, begitu juga dengan Darel.

“Sumpah, gue bersyukur banget masih punya waktu buat kumpul lagi sama kalian, walaupun sebentar,” ucap Hazel, kemudian berbalik menatap Darel yang duduk di sebelahnya.

“Makasih, ya, Rel,” tambahnya.

Darel tersenyum, lalu merentangkan tangannya untuk bisa meraih bahu sang kakak. Rangkulan Darel diterima Hazel yang membalas rangkulannya.

“Nikmatin waktu lo di sini, Zel. Kita nggak bakal tau, kapan kita bisa ngumpul bareng kayak gini lagi. Hargai waktu yang ada,” ucap Jonathan sambil mengelus punggung Hazel.

“Makasih, ya, Rel. Jadi nggak enak, nih, dikasih makan terus,” ucap Julio saat baru saja menutup pintu mobil.

“Santai, bro. Lagian, gue nggak bakal bisa ngabisin kue dari kakak gue sendirian,” balas Darel sambil melangkah bersama Karel di sebelahnya. Bian dan Mentari jalan di belakang keduanya, dan Julio menyusul dari belakang mereka.

“Tapi orang rumah lu nggak masalah, kan, kalau kita mampir?” tanya Karel.

“Nggak masalah, kok. Malah bagus, soalnya nggak akan ada yang makan kue selain gue,” jawab Darel yang telah sampai di depan pintu rumahnya.

Darel diam sejenak, merasa ada sesuatu yang aneh, tetapi ia tetap mendorong pintu rumahnya hingga terbuka separuh. Ruangan gelap dan pengap, membuat Darel mengernyitkan keningnya.

Darel melangkah sedikit, hendak memastikan jika masih ada kehidupan di dalam rumah tersebut. Tak lama kemudian lampu dinyalakan, disusul oleh bunyi ledakan confetti dan seruan ‘selamat ulang tahun’ dari beberapa orang yang muncul dari balik tembok.

Darel menganga tidak percaya, tidak menyangka jika beberapa kakaknya datang di saat ia ulang tahun. Belum sempat berkata-kata lagi, Darel sudah dihadiahi lemparan tepung dari sampingnya. Januar tertawa dengan melengking setelah melempari sang adik dengan seloyang tepung.

“Selamat ulang tahun, Dek,” seru Januar girang.

Serangan selanjutnya datang dari depan, Samuel melempari sang adik dengan seloyang tepung lagi. “Selamat ulang tahun, Dek!” seru Samuel sambil melipir ke pinggir.

Serangan terakhir datang dari Hazel yang memasuki ruangan dengan topeng Iron Man-nya. “Siap-siap serangan terakhir datang dari Kapten Hazel!” seru pemuda dengan mata sipit itu sebelum melemparkan seloyang besar tepung yang ia bawa.

Darel menghela nafasnya berat saat semua serangan telah selesai. Ia tidak menyangka akan mendapat serangan bertubi-tubi dari sang kakak, apalagi Hazel yang tidak disangka-sangka akan datang saat ulang tahunnya.

Satria menarik tangan sang adik, menuntunnya untuk berjalan beberapa langkah hingga Darel dapat melihat dapur rumahnya yang penuh dengan dekorasi. Pada pintu kaca yang menghubungkan halaman belakang dan rumah utama, ditempelkan beragam fotonya dari ia kecil hingga foto yang baru saja diambil beberapa minggu lalu. Tidak hanya itu, beberapa fotonya bersama sang kakak-kakak juga ikut ditempelkan di sana.

Saat sedang sibuk melihat beberapa foto yang ditempelkan, Darel tidak sadar bahwa dari tadi ada beberapa sosok di belakang pintu kaca yang sedang menunggunya. Pintu kaca itu ditutupi kain hitam, sehingga Darel tidak tahu bahwa masih ada beberapa hal lagi yang kakak-kakaknya siapkan.

Tanpa kata, Januar membuka pintu kaca tersebut, dan menarik Darel untuk segera melewati pintu tersebut. Darel mengikuti saja, ia menyibakkan kain hitam tersebut, dan segera menemukan Davian yang sedang berdiri bersama Melvin, Mattew, dan Jeffry. Mereka menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ secara bersamaan, dan membiarkan Darel untuk berjalan mendekati Davian yang membawa kue.

Setelah nyanyian selesai, Satria menyuruh Darel untuk mengucapkan permohonan. Darel berpikir sejenak, lalu menutup matanya. Setelah selesai, Darel langsung mengipas beberapa lilin yang menancap pada kue.

Darel tersenyum sambil menatap satu persatu kakak-kakaknya yang telah datang hanya untuk merayakan ulang tahun bersamanya. Ia meraih tangan Satria yang berdiri tepat di sebelahnya, “Makasih, Kak. Makasih udah ngumpulin semuanya di sini,” lirih sang adik.

Satria menarik Darel kepelukannya, diikuti Jeffry dan Jonathan yang memeluk keduanya dari belakang. “Ini nggak mau pada gabung, apa? Canggung banget pelukan cuman berempat, anjir,” protes Jeffry ketika tidak ada lagi yang bergabung dalam pelukan mereka.

Dengan bersemangat, Hazel, Melvin, Davian, Samuel, dan Januar ikut bergabung. Sedangkan Mattew, Waniar, William, dan Vincent dengan ragu-ragu merentangkan tangan mereka dan ikut bergabung.


Setelah melepas pelukan mereka satu persatu, Samuel langsung berjalan menuju tempat teman-teman Darel berdiri. Ia juga menarik Vincent untuk ikut bersamanya. Darel yang melihat itu, menyusul dari belakang, sepertinya Samuel dan Vincent ingin berkenalan dengan temannya.

“Halo,” sapa Samuel menginterupsi percakapan Julio dan kawan-kawan.

“Eh? Halo, Kak.” Julio membalas sapaan Samuel sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Julio, kan? Kenalin, gue Samuel yang minta bantuan lo kemarin,” sambung Samuel.

Julio sontak langsung menyalami Samuel yang berdiri di depannya, ternyata mereka sudah saling mengenal.

“Halo, Kak. Maaf tadi nggak kelihatan, jadinya gue nggak tau.” Samuel tertawa saja, lalu memperkenalkan Vincent kepada Julio.

“Makasih, ya, udah mau bantuin,” kata Samuel sesaat kemudian.

“Santai aja, Kak. Kan, buat ulang tahun Darel, jadi nggak masalah.”

“Lho, kalian kenalannya kapan?” tanya Darel yang baru saja menyimak pembicaraan keduanya.

“Belum lama, kok, kayaknya baru seminggu yang lalu,” jawab Julio.

“Lo ngajak kenalan temen gue?” tanya Darel kepada Samuel.

“Iya…, kenapa emangnya?” Darel menggeleng saja, tidak ada masalah serius.

“Eh, by the way, Makasih banyak, ya, udah mau temenan sama Darel,” kata Samuel sambil meraih tangan Julio yang berdiri tak jauh darinya.

“Gue nggak tau lagi gimana nasib Darel kalau nggak ada kalian, mungkin bakal sendirian selamanya,” lanjut Samuel dengan sedikit dramatis.

“Apaan, dah. Nggak separah itu juga kali,” protes Darel tidak terima.

Mentari tertawa kecil saat menonton pertengkaran kedua kakak-beradik itu. Tak lama, mereka sudah dipanggil bergabung. Kegiatan selanjutnya adalah makan kue bersama-sama.

“Ini nggak sekalian manggil Melati ke sini?” tanya Jeffry dengan nada berbisik kepada Satria.

“Keluarganya lagi nggak di rumah, jadi kata Ayah nanti aja makan malam,” jawab Satria sambil menggoyang-goyangkan sedikit gelas soda di tangannya. Jeffry mengangguk saja, kemudian berpindah tempat ke samping Januar.

Setelah memakan kue dan mengobrol banyak, Julio, Melati, Bian, dan Karel pamit untuk pulang. Masih ada beberapa tugas kuliah yang harus mereka selesaikan hari itu.

Ravindiar bersaudara menuntun ke-empatnya keluar dari rumah hingga meninggalkan kediaman keluarga mereka.

“Tadi pas ditanya, kalian jawab apa?” tanya Jeffry sesaat setelah mereka kembali memasuki rumah.

“Sepupuan,” jawab Januar, Waniar, Samuel, Hazel, dan Davian hampir berbarengan.

Jeffry mengangguk mengerti. Rahasia mereka masih tersimpan dari teman-teman Darel.