yoondiction

Sepulang kuliah, Darel langsung membawa teman-temannya mengunjungi rumah keluarga Ravindiar. Ketika melewati pos keamanan, Karel langsung berdecak kagum. Pasalnya, rumah keluarga Ravindiar terletak di dalam sebuah perumahan elit di kota itu. Julio yang sedang menyetir sudah biasa melewatinya, karena secara kebetulan keluarganya tinggal di kawasan elit tersebut.

“Baru kali ini gue ke sini. Kenapa lo nggak pernah ngajak kita ke sini, Jul?” protes Bian kepada Julio.

“Kalian pasti nanti nggak percaya kalau gue itu tajir,” jawab Julio setengah mencibir.

“Soalnya tampilan lo tidak mencerminkan orang tajir, Jul,” sahut Mentari yang duduk di kursi depan sambil tertawa.

“Jahat banget lu sama gue, Tar,” ucap Julio dengan nada sedih. Ketika melewati blok rumahnya, ia hanya menoleh sekilas, lalu bertanya kepada Darel.

“Rel, rumah lu blok berapa?”

Darel yang dari tadi diam langsung tersentak kaget. “Apa? Oh, blok H, yang paling belakang.”

Mendengar itu, Julio sontak terkejut. “Blok itu nggak bisa sembarangan orang masuk, lho, Rel. Keamanannya ketat banget, gue aja waktu itu dicegat, nggak boleh masuk kalau nggak ada kartu khusus atau izin khusus, gitu.”

“Aman itu, ada gue kok,” kata Darel menenangkan. Julio mengangguk, percaya saja kepada Darel.

Mereka diberhentikan di depan palang pos satpam blok rumah Darel. Julio menurunkan kaca kemudi, agar dapat berbicara kepada satpam yang berjaga.

“Selamat siang, bisa saya lihat kartu atau izin khususnya?” tanya sang satpam kepada Julio.

Darel ikut menurunkan kaca, “selamat siang, Pak. Ini kartu saya,” ucap Darel sambil menunjukan sebuah kartu berwarna putih.

“Mas Darel? Baru pulang?” tanya sang satpam saat melihat wajah Darel.

“Iya, Pak. Bareng sama temen-temen saya juga,” jawab Darel sambil tersenyum ramah.

“Oke lah, kalau begitu. Silakan masuk, Mas.” Akhirnya mereka diizinkan untuk masuk. Julio sedikit takjub, ternyata temannya tinggal di blok khusus pada perumahan itu.

“Anjir, rumahnya gede-gede, cok,” celetuk Bian yang duduk di kursi paling belakang.

“Wah, gila. Keluarga lo setajir apa sih, Rel? Sampai bisa tinggal di kawasan khusus gini,” tanya Julio dari kursi kemudi.

“Ntar juga lo tau sendiri,” jawab Darel seadanya. Ia tidak ingin membahas tentang pencapaian keluarganya saat ini.

“Rumah lo nomer berapa? Masih jauh, nggak?” tanya Julio lagi.

“Nomer 14, di samping rumah yang pager merah,” jawab Darel sambil menunjuk rumah berpagar merah menyala yang selalu ia cibir.

“Ada, ya, orang yang pakai pager merah kayak gitu,” celetuk Bian dengan ekspresi heran.

“Gue juga nggak ngerti, sih,” sambung Darel ikut heran.

“Yang ini, ya?” Pertanyaan Julio membuat semua perhatian tertuju pada rumah tak berpagar di hadapan mereka.

“Iya, yang itu,” jawab Darel. Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah keluarga Ravindiar.

“Halaman rumah lu luas bener, Rel. Jadi bingung mau parkir di mana,” celetuk Julio.

Darel tertawa saja, dan menyuruh Julio untuk parkir di depan garasi saja. Halaman rumah keluarga Ravindiar sangatlah luas, membuat Julio sedikit bingung akan memarkirkan mobilnya di mana.

Saat turun dari mobil, Darel langsung menuntun teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah Darel sudah bisa terlihat dari luar, membuat Mentari semakin penasaran keadaan di dalam rumah pemuda itu.

“Selamat datang, guys, di rumah gue,” ucap Darel sesaat setelah mereka semua masuk ke dalam rumah.

Keempat temannya berdecak kagum, bahkan Karel sudah memisahkan diri untuk melihat beberapa foto yang tergantung pada dinding di dekat mereka.

“Eh, sudah tiba rupanya.” Suara Bunda membuat Darel berbalik, lalu tersenyum.

“Kenalin, guys. Ini Bunda gue.”

Sontak, keempatnya langsung menyalami Bunda secara bergantian.

“Bun, kenalin, ini temen-temenku. Ini Julio, ini Bian, ini Melati, dan yang di ujung sana itu Karel.” Darel memperkenalkan satu persatu temannya.

“Halo, saya Bundanya Darel, semoga bisa temenan terus sama Darel, ya.”

Tak selang beberapa lama, tiba-tiba Ibu dan Mami keluar dari ruang tamu. “Eh, teman-temannya Darel sudah tiba?” ucap Ibu dengan kaget.

“Iya, barusan baru tiba,” jawab Bunda dengan senyum di wajahnya.

Darel melirik teman-temannya, merasa bimbang. Apakah ia harus memperkenalkan the mothers kepada teman-temannya?

Darel mengalihkan pandangannya kepada Ibu. Suasana menjadi sedikit aneh, membuat Mentari menggamit lengan Julio yang juga sedikit bingung.

Ibu memberi kode kepada Darel dengan menggelengkan sedikit kepalanya. Namun, Darel sepertinya tidak menangkap maksud dari kode yang diberikan Ibu.

“Hm, guys. Kenalin, ini-”

“Kami sahabat Bundanya Darel,” ucap Ibu memotong perkataan Darel.

Darel menoleh sedikit, melemparkan tatapan bertanya. Apakah tidak apa-apa seperti ini?

“Ah, iya. Kami berdua dan beberapa teman lainnya sedang berkunjung juga ke sini,” tambah Mami.

“Tante dan beberapa teman memang berteman sejak dahulu, bahkan sebelum Darel lahir. Mereka yang ikut menjaga Darel dari kecil, begitu juga tante dan teman-teman tante menjaga anak satu sama lain,” tambah Bunda sambil menunjuk Mama, Ibun, dan Mommy yang baru memasuki kawasan rumah utama.

“Wah, pertemanannya keren banget,” kata Mentari berdecak kagum.

Bunda tertawa canggung sambil melirik Ibu, ini terasa salah.

Julio, Bian, dan Karel hanya diam saja, merasa bingung. Entah kenapa atmosfer di dalam rumah ini terasa aneh.

“Darel, mau main di mana? Biar nanti Bunda siapin snack sama minuman,” tanya Bunda.

“Kayaknya kita makan siang aja dulu, Bun. Terus nanti kita mainnya di ruang santai aja,” jawab Darel dengan gerakan canggung.

“Oke. Kalau begitu tunggu sebentar, Bunda siapin dulu,” kata Bunda sambil mengajak Mami dan Ibu ke dapur.

“Eh, Tante. Aku bantu boleh, nggak?” tanya Mentari sebelum Bunda berbalik pergi.

“Tidak usah, kamu kan tamu, jadi tidak boleh, ya,” larang Bunda.

Mereka akhirnya menunggu di ruang tamu, di mana lokasi paling aman untuk Darel saat ini.

Ia sangat bingung dan merasa tidak enak dengan the mothers, karena harus terus-terusan bersembunyi begini.

“Rumah lu gede juga, Rel.” Perkataan Julio langsung membuyarkan lamunan Darel.

“Nggak juga,” balas Darel sembarangan, ia tidak tahu harus membalas apa.

“Nggak apanya, cok. Padahal masih ada paviliun di sebelah, tadi gue lihat,” protes Bian tidak terima.

Darel meringis saja.

“Rumah segede ini cuman lo sama Bunda lo yang tinggalin?” tanya Karel yang duduk di sebelah Julio.

“Nggak lah. Dulu ada kakak-kakak gue, tapi mereka pada merantau sekarang,” jawab Darel.

Setelah itu hening, tidak ada yang membuka suara lagi. Sampai Bian tiba-tiba bertanya, “Gue penasaran deh, lo ada berapa bersaudara, Rel?”

Darel diam saja, ia bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang satu itu. Untungnya suara Bunda mengalihkan perhatian mereka kepada Darel.

“Ayo, makanannya udah siap. Oh, iya, nanti kalau butuh apa-apa, langsung ke paviliun belakang aja, ya, Rel. Atau nggak chat Bunda aja.”

Darel mengangguk, kemudian menyuruh teman-temannya untuk mengikutinya menuju ke ruang makan.


Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Setelah main selama beberapa lama, Julio, Karel, Bian dan Mentari akhirnya pamit untuk pulang. Masih ada tugas yang harus mereka selesaikan hari itu. Darel mengantar mereka hingga teras rumahnya, hendak mengucapkan salam perpisahan.

“Makasih buat hari ini, ya, Rel,” ucap Mentari kepada Darel yang berdiri di sampingnya.

“Iya, sama-sama,” balas Darel singkat.

“Makasih juga buat makan siangnya, Rel. Enak banget makanannya tadi,” tambah Bian.

“Iya, sama-sama. Jangan lupa mampir lagi, ya, nanti,” balas Darel sambil merangkul Bian yang berdiri tak jauh darinya.

“Gila, kalau nggak temenan sama lo, pasti gue nggak akan pernah masuk ke kawasan khusus ini, Rel,” kata Julio yang sedang mengamati sekitar halaman rumah Darel.

“Nanti juga lo sering ke sini, Jul. Percaya deh.”

“Oke lah, kalau gitu kita duluan, ya, Rel. Sampai ketemu di kampus.” Karel menepuk bahu Darel sekilas, lalu mulai berjalan mengikuti Julio yang sedang melambai kepada Darel.

Darel balas melambai, juga membalas senyuman Mentari kepadanya. Hari ini ia cukup puas, dan lelah. Banyak hal yang ia lalui hari ini.

Setelah mobil Julio keluar dari halaman rumah Darel dan melaju pergi, si bungsu keluarga Ravindiar itu masuk ke dalam rumah. Ia harus bercerita kepada kakak-kakaknya tentang beban pikirannya sejak tadi.

Vincent datang pertama, diikuti Satria beberapa jam kemudian. Jeffry dan William datang sesuai rencana, begitu juga Samuel yang menyusul satu minggu kemudian. Ke-6 saudara itu berkumpul bersama kembali, walaupun rasanya tetap saja sepi tanya sisa saudara yang lain.

The mothers dan sang ayah tentunya senang akan kunjungan itu, karena rumah mereka kembali hidup setelah berbulan-bulan sepi. Banyak hal yang mereka lakukan bersama lagi, seperti mengobrol, memasak, menghabiskan waktu di pekarangan rumah, hingga jalan-jalan bersama lagi.

Pada malam hari, ke-6 bersaudara itu masuk ke dalam kamar Satria, mereka berencana untuk tidur bersama malam itu. Kasur milik Satria sudah dikuasasi oleh Darel, Jeffry dan Vincent, sedangkan sang pemilik berbergabung dengan William yang duduk di karpet. Samuel menguasai sofa, tentunya tidak ada yang bisa memprotes pemuda itu.

“Mau nonton apa ini?” tanya William yang sedang menekan-nekan remote TV, mencari film yang menarik.

“Avanger aja,” sahut Darel yang tidur dengan posisi tengkurap.

“Kebanyakan, anjir. Cari yang sekali nonton langsung selesai dong,” protes Samuel.

“Horror aja,” sahut Vincent tiba-tiba.

“Hah, ogah anjir,” kini giliran Darel yang protes.

“IT aja, Will,” ujar Jeffry tiba-tiba.

“Nah, iya. IT aja,” tambah Satria.

Perdebatan para bungsu terhenti tiba-tiba, mereka tidak berani jika memprotes pilihan sang kakak.

Film itu selesai dalam waktu 2 jam, dengan disertai teriakan-teriakan kaget dari Jeffry, Samuel dan Darel. Vincent sudah jatuh tertidur dengan posisi terlentang, ia seperti tidak peduli dengan isi film yang ditampilkan.

“Untung tidurnya rame-rame, kalau nggak pasti ada yang nggak bisa tidur,” celetuk William sambil melirik ke arah Darel.

“Apa sih, gue bisa kok tidur sendiri,” balas Darel tidak terima.

“Oh? Kalau gitu tidur sendiri sana, jangan gedror-gedor kamar gue nanti tengah malem, ya.” Darel langsung memasang wajah masam sambil menatap sang kakak sulung yang menggodanya.

“Jangan gitu, Sat. Ntar anaknya nangis ketakutan, lho,” ujar Jeffry sambil terkekeh pelan.

“Apaan sih, emangnya gue secengeng itu apa.”

“Heh, gue masih inget, ya. Beberapa malam sebelum gue sama Vincent pergi ngerantau kita sempet nonton horror, terus lo dengan sok beraninya tidur sendiri di saat gue sama Vincent tidur berdua. Taunya lo tengah malem ngegedor pintu gue, mohon-mohon supaya bisa tidur bertiga,” jelas Samuel mengingatkan kejadian memalukan yang Darel alami dulu.

“Hah, serius?” tanya William tidak percaya.

“Serius! Vincent saksi mata.”

Ke-5 bersaudara itu sontak berbalik melihat Vincent yang tertidur pulas. Mereka bingung, kenapa Vincent bisa tidur di antara suara teriakan-teriakan yang berada dekat dengannya?

“Ini anak bisa-bisanya tidur, anjir, pasti kalau diajak nonton bioskop dia bakal tidur doang,” celetuk William dengan tatapan heran.

“Nggak heran kalau orang-orang sebut dia ngebosenin,” ucap Jeffry sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sisa malam itu mereka habis kan untuk bercakap-cakap, mulai dari yang termuda hingga tertua mendapatkan bagiannya masing-masing.

“Kuliah lo gimana, Rel? Lancar?” tanya Satria di sela-sela keheningan.

“Lancar aja kok, Kak. Gue selama ini nggak pernah nunda tugas juga,” jawab Darel.

“Pertemanan lo? Kayak gimana?” giliran Samuel yang bertanya.

“Nggak gimana-gimana sih. Mungkin gue masih susah beradaptasi,” jawab Darel sambil mengusap tengkuknya.

“Nggak apa-apa, pelan-pelan aja, Dek,” kata Satria sambil mengusap paha adik bungsunya itu.

Satria beralih kepada Samuel yang duduk di sofa. “Kalau lo, gimana kuliahnya, Sam?”

“Lancar aja sih, Kak. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Samuel santai.

“Emang nggak heran ya, sama ini social butterfly satu,” puji Jeffry. Samuel tertawa saja mendengar itu.

“Kan, Sam selalu bisa diandelin juga, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan dari dia,” ucap William ikut memuji adiknya itu.

“Nah, kalau lo gimana kerjaannya, Will?” Kini giliran Jeffry yang bertanya kepada adik tengahnya.

“Nggak gimana-gimana. Akhir-akhir ini semuanya lancar, talent dan client gue juga puas dengan hasil yang gue kasih,” jawab William.

“Emang nggak usah diraguin lagi, William bakal selalu tuntasin kerjaannya,” ujar Satria sambil menepuk-nepuk bahu adiknya itu. William tertawa kecil, merasa malu jika digoda seperti itu.

“Kalau soal lo sama Fanny? Aman nggak?”

Pertanyaan Satria membuat William terdiam, entah kenapa ia tidak ingin membahas perihal hubungan asmaranya sekarang.

“Aman, Kak,” jawab William singkat.

“Beneran aman?” William mengangguk sebagai jawaban, ia tidak ingin masalahnya membuat kebersamaan malam itu menjadi suram.

“Ya udah kalau gitu. Lanjut deh, kalau lo gimana, Jeff? Kerjaan aman?” Satria beralih kepada Jeffry.

“Aman lah, gila. Kalau nggak aman pasti gue batal pulang,” jawab Jeffry dengan bangga.

“Baguslah, Kak. Kalau perihal pacar, gimana?” kini Samuel yang bertanya.

“Apaan pacar-pacar. Gue nggak punya. Lebih tepatnya nggak ada waktu buat ngurusin kayak gituan,” jawab Jeffry cepat.

“Idih, cari pacar sana, Kak. Inget umur,” ujar Darel.

“Lah, kalau masalah umur, gue kan sama kayak kakak kalian ini, jadi dia juga harus nyari pacar dong?” Jeffry menunjuk Satria yang dari tadi tertawa melihat Jeffry dijahili.

“Kok jadi gue? Kan tadinya lo yang ditanyain, anjir.”

Jeffry menjulurkan lidahnya, ia tidak terima jika dipojokan sendiri.

“Dengar ya, adik-adikku. Umur kita berdua emang udah matang, tapi kita berdua masih mau mikirin kerjaan sama keluarga dulu, soal pacar atau jodoh kan bisa nanti,” jelas Satria.

“Kelamaan nanti nggak ada yang mau lho, Kak.”

“Soal jodohkan Tuhan udah atur, Darel. Pasti bakal dateng cepet atau lambat, kok,” balas Satria sambil mengusap wajah adik bungsunya itu.

“Nah, itu dia. Pasti bakal dateng cepet atau lambat,” kata Jeffry setuju.

William diam-diam saja mendengarkan perkataan kedua kakaknya. Di dalam hati ia bergumul dengan masalahnya, memikirkan tentang hubungannya yang berada di ambang kehancuran.

Sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah keluarga Ravindiar yang asri. Satria yang sedang mengobrol dengan tukang kebun mereka langsung berbalik. Wajahnya berubah cerah, dengan langkah cepat ia menghampiri mobil hitam yang baru saja berhenti.

Dua orang pemuda tinggi keluar dari dalam mobil. Yang lebih muda langsung menyadari kedatangan sang sulung, dan langsung tersenyum lebar kepadanya.

“Kak Satri! Apa kabar!” seru Davian riang.

“Dav! Jo! Kok baru tiba?” ucap Satria sambil merangkul Davian.

“Tadi kena macet dikit, mungkin karena lagi weekend,” jawab Jonathan tenang.

“Oh, gitu. Pantesan lama. Ayo sini masuk, the mothers udah nunggu kalian dari tadi.” Satria membantu kedua adiknya menurunkan bawaan mereka, sambil menanyakan kabar keduanya.

Baru saja mereka menginjakan kaki di dalam rumah, Bunda sudah datang memeluk Davian yang berada paling dekat dengannya.

“Davian! Jonathan! Selamat datang!” seru Bunda sambil mengelus-ngelus punggung Davian yang lebih tinggi darinya.

“Halo, Bunda. Apa kabar?” tanya Davian sambil balas memeluk.

“Baik, Davian. Bunda selalu baik.”

Tak perlu menunggu lama, dari atas muncul Ibun dan Mami. Keduanya dengan heboh berhamburan memeluk Davian dan Jonathan.

“Eh, Dav sama Jo udah dateng, sini makan dulu,” ujar Mama yang baru saja lewat di hadapan mereka.

“Iya, Ma. Nanti kita makan kok.”

Setelah melepas pelukan Ibun dan Mami, Davian dan Jonathan naik ke lantai atas, di mana kamar mereka berada. Satri masih berjalan di belakang mereka dengan santai, sambil membawa beberapa barang yang mereka bawa.

“Si Darel mana? Kok nggak kelihatan?” tanya Jonathan.

“Lagi keluar tadi, disuruh temenin Ibu,” jawab Satria. Jonathan mengangguk saja, kemudian mulai berbelok menuju lorong deretan kamar Ravindiar bersaudara. Kamar Jonathan berada di urutan ketiga, berhadapan dengan kamar Vincent, dan bersebelahan dengan kamar Januar di sebelah kiri, dan kamar Jeffry di sebelah kanan. Lorong kamar mereka lumayan luas, lebarnya bisa dilewati 3 orang sekaligus.

Kamar davian berada di ujung, bersebelahan dengan kamar William yang berada di tengah deretan kamar mereka, dan di sebelag kanan kamar Davian ada kamar Melvin.

Setelah menaruh barang-barang bawaan dan membersihkan diri, Jonathan dan Davian kembali turun untuk makan. Di tangga turun, mereka bertemu dengan mommy yang kaget akan kedatangan mereka.

Oh my gosh, Jo, Dav. Kalian kapan tiba? Kok mommy nggak sadar?” heboh wanita yang umurnya sebentar lagi akan menyentuh kepala 4.

“Barusan, mommy,” jawab Jonathan sambil memeluk mommy. Davian ikut memeluk wanita yang sudah menjaganya dari kecil.

Now, kalian mau ke mana? Apa kalian sudah bertemu Satria? Atau sudah bertemu ayah?”

“Kami sudah ketemu Satria tadi, mommy. Kalau ayah, kami belum bertemu.” Davian yang menjawab, sambil merangkul wanita itu agar mengikuti keduanya menuju ruang makan.

“Baiklah. Kalau begitu, apa kalian sudah makan? Mau makan dulu sebelum jalan-jalan?” tanya mommy, menawarkan diri untuk memasakan mereka makan siang.

“Sepertinya kami akan makan dulu, mommy. Soalnya Kak Satria belum tentuin mau ngajak kita ke mana,” jawab Jonathan sambil menyusul mommy ke dapur. Davian sendiri menunggu di ruang keluarga, ia sepertinya akan berlatih vokal sebelum makan.

Tak sampai sejam kemudian, hidangan simple sudah tertata rapi di atas meja makan mereka yang sangat besar. Jonathan dan Davian yang ditemani mommy makan dengan tenang.

Setelah makan dan membersihkan dapur, keduanya kembali berjalan menuju beranda rumah. Ibu dan Darel baru saja sampai, Jonathan dan Davian langsung bergantian memeluk Ibu dan adik bungsu mereka.

“Kalian udah makan? Ini ibu bawain roti dari bakery-nya Tante Lily,” tawar ibu dambil mengangkat kantong belanja.

“Udah makan barusan, bu. Simpan aja rotinya, nanti kalau aku sama Kak Jo udah balik, baru kita makan, ya?” kata Davian sambil membantu membawakan kantong belanja yang ibu bawa.

“Kalian baru mau jalan-jalan? Kirain udah tadi,” ucap Darel pelan, sambil pundaknya dirangkul oleh Jonathan.

“Kak Satri bilang, nanti jalan sama dia. Tunggu dia selesai kerja dulu,” Davian menjawab. Tadi ia baru mendapat pesan dari kakak sulungnya itu, untuk menunggu sampai ia menyelesaikan pekerjaannya.

“Kalau begitu, Darel temenin kalian dulu, ya? Nanti malam baru kalian jalan ber-empat, gimana?” usul sang ibu yang daritadi menyimak percakapan anak-anaknya.

Ke-tiganya setuju. Maka dari itu, setelah membantu merapikan belanjaan ibu siang itu, Jonathan, Davian dan Darel langsung pergi betiga untuk berjalan-jalan sebentar.

Setelah bertemu di lobby sekolah, Jehan dan Lintang segera pergi menuju restoran cepat saji yang tak jauh dari sekolah. Jehan segera memesan, begitu juga dengan Lintang yang sudah lapar.

Mereka memilih untuk duduk tengah ruangan ketimbang di pojokan. Jehan membawakan pesanan mereka, dan Lintang yang memilih tempat mereka duduk.

“Lin, nih pesenen kamu.” Jehan memberikan pesanan Lintang setelah gadis itu duduk.

“Makasih, kak,” kata Lintang sambil tersenyum kepada Jehan. Sang lelaki balas tersenyum, tak lama ia juga ikut duduk di hadapan si gadis.

Ada keheningan lama sebelum Jehan membuka pembicaraan.

“Kelas 11 masih padet ya, jadwalnya?”

“Iya, kak. Masih. Bahkan seminggu ke depan kita bakal lebih sering pulang sore,” keluh Lintang.

“Kamu kalau pulang sore gitu, biasanya dijemput sama siapa?” tanya Jehan lagi. “Biasanya sama kakak sih, cuman mereka biasanya juga sering keluar masing-masing, makanya aku sering pulang naik gojek,” jawab Lintang setelah mengunyah makanan di dalam mulutnya.

“Kok gak pulang bareng temen-temenmu? Kan lebih aman.” Jehan mengeryitkan keningnya bingung, merasa tidak senang.

“Beda kelas, kak. Aly sama Monna juga beda arah sama aku, terus si Nana biasanya pulangnya lebih cepet,” jawab Lintang.

“Kok si Nana pulangnya lebih cepet?”

“Dia kan IPS, kak.”

“Hah? Serius?” Jehan menoleh kaget, tidak menyangka.

“Iya, ih. Kakak baru tau?”

“Iya, baru tau banget ini. Aku gak nyangka dia anak IPS, padahal tampangnya kayak anak IPA banget.” Perkataan Jehan mengundang tawa Lintang.

“Padahal tampangnya IPS banget loh, kak.”

“Dari mana ya, Lintang?”

“Dari mukanya, kak.”

“Muka serius kayak dia itu khas anak IPA banget loh, Lintang.”

“Hah, kok gitu? Kakak coba lihat Monna sama Aly deh. Atau gak aku deh, mukanya serius kayak anak IPA enggak?”

“Ya, engga sih.” Jehan mengelus tengkuknya, mulai berpikir tentang perkataan Lintang tadi.

“Nah kalua begitu, soal jurusan itu gak bisa dilihat dari tampang, kak. Banyak kok yang mukanya serius di jurusan IPS, begitu juga banyak yang mukanya santai di jurusan IPA.”

Jehan mengangguk-angguk saja, ia sedang asik menikmati wajah Lintang yang sedang cemberut, lucu menurutnya.

“Udah?”

“Apanya?” tanya Lintang bingung.

“Udah ngomongnya?” perkataan Jehan dibarengi oleh senyuman khasnya yang membuat Lintang langsung terdiam mematung.

“Kamu kenapa langsung diem? Ngomong lagi dong.” Pipi Lintang menimbulkan rona merah tipis, membuat Jehan tertawa melihatnya.

“Apaan sih, kak. Cepetan selesaiin makannya gih, kapan pulangnya kalau gini terus.”

“Kamu juga cepet selesaiin makannya dong, biar bareng.”

Sisa waktu makan itu Lintang habiskan untuk mempercepat laju makannya, dan Jehan sibuk sendiri memperhatikan gadis di hadapannya.

Di saat Lintang sudah selesai dengan makanannya, Jehan kembali membuka percakapan. “Kamu kalau pulang sore terus, boleh pulang sama aku kok.”

Perhatian Lintang langsung mengarah kepada Jehan. Gadis itu awalnya ingin menolak, tetapi setelah menimbang-nimbang beberapa lama, ia akhirnya mengangguk.

“Tapi beneran gak ngerepotin kan, kak? Aku jadi gak enak,” tanya Lintang ragu.

“Beneran, Lintang. Aku gak pernah ngerasa direpotin sama kamu.”

Lintang mengangguk saja, merasa canggung. Dengan lirih ia juga berterima kasih kepada Jehan, dengan dibalas senyuman tipis milik pemuda itu.

“Halo, Ma. Novita udah nyampe nih, Novita harus gimana abis ini? Ke dalem apa nunggu aja?” tanya Novita kepada Mamanya di seberang telepon.

“Kamu ke dalem sini, Novita. Langsung masuk aja,” ujar sang mama.

Novita mendongkak sedikit untuk bisa melihat rumah besar di hadapannya. Dengan langkah ragu, gadis muda itu melangkah menuju pintu coklat yang tidak tertutup rapat.

“Permisi,” gumam Novita saat berjalan masuk ke dalam rumah besar tersebut.

“Novita! Sini!” Suara sang mama memenuhi rongga pendengaran Novita, gadis itu langsung tahu keberadaan mamanya hanya dari suara saja.

Tanpa kata, Novita langsung berlari memeluk wanita paruh baya yang berstatus mamanya itu.

“Novita kangen banget sama mama,” gumam Novita disela-sela pelukannya.

“Mama juga kangen banget sama Novita,” ucap sang mama.

Setelah sesi berpelukan selesai, Novita langsung dikenalkan dengan seorang wanita paruh baya berwajah ramah.

“Novita, kenalin. Ini Tante Tika, temen mama waktu SMA dulu,” kata ibunya mengenalkan.

“Halo, Tante Tika. Aku Novita.”

Tante Tika langsung menarik Novita ke dalm pelukannya. Awalnya Novita sangat canggung, namun ketika mendengar sebuag perkataan dari bibir Tante Tika, Novita langsung tersenyum kecil.

“Makasih, Novita. Makasih sudah mau menjadi kebahagiaan Aurel,” lirih wanita itu dalam pelukan.

Setelah pelukan mereka terlepas, Tante Tika langsung mengajak Novita dan mamanya untuk beranjak menuju ruang makan. Di atas meja makan, sudah tersedia banyak hidangan yang mengiurkan.

Novita langsung duduk di sebelah mamanya, sedangkan Tante Tika masih sibuk dengan pelayan rumahnya.

“Maaf ya, tante masih harus nyuruh anak tante buat gabung di sini.” Novita mengangguk saja, menandakan bahwa hal itu bukan apa-apa.

“Suami lo gak pulang, Tik?” tanya Mama Novita penasaran.

“Engga, Rel. Tadi pagi udah gue bekalin kok,” jawab Tante Tika santai.

Tak lama ada sebuah suara yang memenuhi ruang makan yang hening itu.

“Aku makan nanti aja deh, Ma. Aku lagi sibuk.” Suara berat milik anak Tante Tika memenuhi ruang makan.

“Gak boleh. Kamu makan di sini, sama tamu-tamu mama. Okay?”

Putra bungsunya mendengus sebal. Tanpa kata ia langsung bergabung di meja makan. Novita yang penasaran langsung mendongkak, pandangannya langsung bertemu dengan mata coklat milik pemuda itu.

“Loh? Vita?”

Novita tersedak, ia sungguh kaget dengan kehadiran pemuda itu di hadapannya.

“Lo..Fael? Rafael?”

Rafael tidak kalah terkejutnya, bahkan pemuda itu sampai menerjabkan matanya beberapa kali, sebelum sang mama mencubitnya pelan.

“Kamu kok kayak ketemu setan gitu sih?” Rafael meringis pelan mendapat cubitan itu. Ia tidak mempedulikan perkataan mamanya, perhatiannya hanya tertuju kepada Novita saja.

“Loh, kalian kenal?” tanya Mama Novita memandang keduanya bergantian.

“Dia temen sekelasku, Ma.”

“Vita ketua kelasku, Tante.”

“Oh, wow. Kebetulan macam apa ini?” Tante Tika menatap tidak percaya Mama Novita.

Setelah hening sejenak, tiba-tiba keempatnya tertawa lepas atas segala kebetulan yang terjadi. Tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi.

“Halo, Ma. Novita udah nyampe nih, Novita harus gimana abis ini? Ke dalem apa nunggu aja?” tanya Novita kepada Mamanya di seberang telepon.

“Kamu ke dalem sini, Novita. Langsung masuk aja,” ujar sang mama.

Novita mendongkak sedikit untuk bisa melihat rumah besar di hadapannya. Dengan langkah ragu, gadis muda itu melangkah menuju pintu coklat yang tidak tertutup rapat.

“Permisi,” gumam Novita saat berjalan masuk ke dalam rumah besar tersebut.

“Novita! Sini!” Suara sang mama memenuhi rongga pendengaran Novita, gadis itu langsung tahu keberadaan mamanya hanya dari suara saja.

Tanpa kata, Novita langsung berlari memeluk wanita paruh baya yang berstatus mamanya itu.

“Novita kangen banget sama mama,” gumam Novita disela-sela pelukannya.

“Mama juga kangen banget sama Novita,” ucap sang mama.

Setelah sesi berpelukan selesai, Novita langsung dikenalkan dengan seorang wanita paruh baya berwajah ramah.

“Novita, kenalin. Ini Tante Tika, temen mama waktu SMA dulu,” kata ibunya mengenalkan.

“Halo, Tante Tika. Aku Novita.”

Tante Tika langsung menarik Novita ke dalm pelukannya. Awalnya Novita sangat canggung, namun ketika mendengar sebuag perkataan dari bibir Tante Tika, Novita langsung tersenyum kecil.

“Makasih, Novita. Makasih sudah mau menjadi kebahagiaan Aurel,” lirih wanita itu dalam pelukan.

Setelah pelukan mereka terlepas, Tante Tika langsung mengajak Novita dan mamanya untuk beranjak menuju ruang makan. Di atas meja makan, sudah tersedia banyak hidangan yang mengiurkan.

Novita langsung duduk di sebelah mamanya, sedangkan Tante Tika masih sibuk dengan pelayan rumahnya.

“Maaf ya, tante masih harus nyuruh anak tante buat gabung di sini.” Novita mengangguk saja, menandakan bahwa hal itu bukan apa-apa.

“Suami lo gak pulang, Tik?” tanya Mama Novita penasaran.

“Engga, Rel. Tadi pagi udah gue bekalin kok,” jawab Tante Tika santai.

Tak lama ada sebuah suara yang memenuhi ruang makan yang hening itu.

“Aku makan nanti aja deh, Ma. Aku lagi sibuk.” Suara berat milik anak Tante Tika memenuhi ruang makan.

“Gak boleh. Kamu makan di sini, sama tamu-tamu mama. Okay?”

Putra bungsunya mendengus sebal. Tanpa kata ia langsung bergabung di meja makan. Novita yang penasaran langsung mendongkak, pandangannya langsung bertemu dengan mata coklat milik pemuda itu.

“Loh? Vita?”

Novita tersedak, ia sungguh kaget dengan kehadiran pemuda itu di hadapannya.

“Lo..Fael? Rafael?”

Rafael tidak kalah terkejutnya, bahkan pemuda itu sampai menerjabkan matanya beberapa kali, sebelum sang mama mencubitnya pelan.

“Kamu kok kayak ketemu setan gitu sih?” Rafael meringis pelan mendapat cubitan itu. Ia tidak mempedulikan perkataan mamanya, perhatiannya hanya tertuju kepada Novita saja.

“Loh, kalian kenal?” tanya Mama Novita memandang keduanya bergantian.

“Dia temen sekelasku, Ma.”

“Vita ketua kelasku, Tante.”

“Oh, wow. Kebetulan macam apa ini?” Tante Tika menatap tidak percaya Mama Novita.

Setelah hening sejenak, tiba-tiba keempatnya tertawa lepas atas segala kebetulan yang terjadi. Tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi.

Lintang menginjakan kaki di area kantin aambil menenteng buku paket dan catatannya. Tidak perlu mencari lagi ia langsung bisa melihat Jehan yang sedang duduk sendiri di tengah kantin.

“Kak Jehan,” panggil Lintang.

Jehan berbalik, dan melambai untuk menyuruh Lintang mendekat. Gadis yang ia panggil mendekat dengan riang, sepertinya ia sangat bersemangat pagi ini.

“Udah sarapan?” tanya Jehan sambil membuka sebotol air mineral di depannya.

“Udah kok kak, tadi sama Nana.”

“Nana itu yang mana ya? Belom pernah denger.”

“Itu loh kak, yang Nana Parwita.”

“Owalah, yang katanya galak itu?”

“Kata siapa kak?” Lintang menyemburkan tawanya, tidak tahan Nana dibilang galak begini.

“Kata Aly, dia bilang yang namanya Nana galak.”

Lintang belum habis dengan tawanya. Ia akui Nana memanglah galak, tetapi hal itu tidak berlaku untuknya. Nana di pandangan Lintang itu seperti anak kucing yang polos dan ceroboh.

“Iya mungkin menurut orang-orang si Nana galak, tapi dia gak gitu kok.”

“Oh, kalau lo? Galak juga gak?”

“Loh kok gue sih?”

“Engga nanya doang.” Jehan tertawa kecil, merasa gemas dengan respon Lintang.

“Katanya tadi mau bikin tugas, gimana sih?”

Lintang menepuk keningnya sendiri, ia sangat lupa dengan kewajibannya yang satu itu.

“Kerjain gih, gue tungguin,” kata Jehan singkat.


Benar saja, Jehan menungguinya hingga selesai Lintang mengerjakan tugas. Tak sampai di situ saja, bahkan Jehan menemani gadis itu hinggal bel masuk berbunyi.

“Gue duluan ya kak, makasih udah nemenin,” pamit Lintang. Namun sebelum ia benar-benar pergi Jehan kembali menahannya.

“Ini nomer gue, ntar ngobrolnya lewat situ aja ya,” kata Jehan sambil menyodorkan sebuah kertas yang dari tadi ia pegang.

Lintang menerimanya, setelah itu ia kembali berlari menuju kelasnya.

Lintang menguap beberapa kali sesaat setelah meinggalkan laboratorium fisika sekolahnya. Ia berjalan bersama salah satu teman sekelasnya, yang juga adalah tetangganya. Keduanya kini bersama ingin menuju parkiran untuk menunggu jemputan.

“Ngantuk In?” tanya si teman yang memanggilnya dengan sebutan Iin.

“Banget Re, begadang gue tadi malem,” jawab Lintang kepada Rena, teman sekaligus tetangganya.

Rena menggeleng-geleng saja. Tak sengaja ia melihat ke arah lapangan, di mana pasukan pengibar bendera mereka sedang berlatih di sana.

“Eh mereka latihan hari ini? Bukannya gak ada ekskul ya?” ucap Rena heran.

“Siapa Re?”

“Itu anak paskib, katanya kan ekskul belom mulai.”

Lintang ikut melihat ke arah pandang Rena. Ia meneliti satu persatu wajah yang ditampakan, siapa tau ada satu-dua orang yang ia kenal. Dan benar saja, ada satu wajah yang baru saja mencuri atensinya.

Si kakak kelas yang memecahkan kaca jendela kelasnya. Kakak kelas yang beberapa hari ini selalu ada dalam jarak atensi Lintang.

“Re, gue boleh nanya?”

“Hm? Nanya apa In?”

“Lo kenal itu gak, kakak kelas yang itu.” Lintang menunjuk si kakak kelas yang ia maksud, dan Rena mengikuti arah yang ditunjuk Lintang.

“Oh itu toh. Gue kenal tapi gak tau namanya coy, cuman sekedar tau muka masing-masing aja.”

Lintang mengangguk mengerti. Sepertinya si kakak kelas dikenal oleh semua orang di sekolah, tidak mengherankan lagi kenapa.

Malah Lintang merasa heran, kenapa dia harus mengenal pemuda itu dari eksiden kaca kelas-nya yang pecah.

Lintang menggeleng pelan, ia perlahan kembali dari pikirannya yang melayang ke mana-mana. Gadis itu kembali fokus kepada jalannya.


Lintang mendongkakan kepalanya saat ia mendengar namanya dipanggil. Wajahnya menjadi berseri-seri, sudah lama ia menunggu Aly untuk menjemputnya di kelas.

“Aly lama ih,” gerutu Lintang saat sudah berdiri di depan Aly.

“Hehe, sorry Lin, sibuk di kelas gue,” balas Aly sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Keduanya berjalan pergi, hendak menjemput kedua teman mereka yang lain. Setelah itu barulah mereka bersama berjalan menuju kantin sekolah.

Sesampainya di kantin mereka ber-empat bersama mengantre untuk memesan makanan. Beberapa kali Lintang berbalik hanya untuk menanggapi Monna yang bertanya-tanya kepadanya.

“Itu tadi beneran kaca pecah?” tanya Monna. Lintang mengangguk, “kalau gak percaya sana ke kelas gue gih, masih ada bekasnya.”

Monna sontak langsung memberi tahu Aly dan Nana untuk mampir ke kelas Lintang setelah makan. Memang Monna adalah orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, ia tidak puas kalau tidak melihat sendiri kejadian yang diceritakan.

Lintang menggeleng-gelengkan kepalanya saja, ia kembali menatap ke depan. Tak sengaja antrean mereka terdorong ke belakang karena ada beberapa orang yang menyerobot antrean. Lintang tentu saja kesal, apalagi karena cowok di depannya punya badan tinggi yang membuat Lintang hampir jatuh ke belakang dibuatnya.

Di tengah kekesalannya, Lintang tiba-tiba dikejutkan oleh suara cowok di depannya yang berteriak kesal ke arah beberapa orang yang tadi menyerobot antrean.

“Lo pada kalau gak tau etika, gak usah jajan sekalian. Sana kelaperan aja. Lo pikir di sini cuman lo yang butuh makan? Orang-orang yang dari tadi ngantri juga butuh kali.”

“Iya tuh, huu, gak tau etika banget.”

Seruan-seruan muncul dari beberapa orang di belakang Lintang, bahkan Monna juga ikut berseru kesal.

Karena malu diteriaki satu kantin, beberapa ornag yang tadinya menyerobot antrean pun perlahan pergi. Si cowok yang tadi meneriaki mereka berbalik ke arah Lintang, kemudian meminta maaf sekilas karena tadi Lintang terdorong olehnya. Yang Lintang kagetkan adalah, ternyata pemuda itu adalah pemuda yang tadi memecahkan kaca kelasnya. Lintang tersenyum kecil, ternyata cowok itu tidak begitu buruk.


kaget

Lintang mendongkakan kepalanya saat ia mendengar namanya dipanggil. Wajahnya menjadi berseri-seri, sudah lama ia menunggu Aly untuk menjemputnya di kelas.

“Aly lama ih,” gerutu Lintang saat sudah berdiri di depan Aly.

“Hehe, sorry Lin, sibuk di kelas gue,” balas Aly sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Keduanya berjalan pergi, hendak menjemput kedua teman mereka yang lain. Setelah itu barulah mereka bersama berjalan menuju kantin sekolah.

Sesampainya di kantin mereka ber-empat bersama mengantre untuk memesan makanan. Beberapa kali Lintang berbalik hanya untuk menanggapi Monna yang bertanya-tanya kepadanya.

“Itu tadi beneran kaca pecah?” tanya Monna. Lintang mengangguk, “kalau gak percaya sana ke kelas gue gih, masih ada bekasnya.”

Monna sontak langsung memberi tahu Aly dan Nana untuk mampir ke kelas Lintang setelah makan. Memang Monna adalah orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, ia tidak puas kalau tidak melihat sendiri kejadian yang diceritakan.

Lintang menggeleng-gelengkan kepalanya saja, ia kembali menatap ke depan. Tak sengaja antrean mereka terdorong ke belakang karena ada beberapa orang yang menyerobot antrean. Lintang tentu saja kesal, apalagi karena cowok di depannya punya badan tinggi yang membuat Lintang hampir jatuh ke belakang dibuatnya.

Di tengah kekesalannya, Lintang tiba-tiba dikejutkan oleh suara cowok di depannya yang berteriak kesal ke arah beberapa orang yang tadi menyerobot antrean.

“Lo pada kalau gak tau etika, gak usah jajan sekalian. Sana kelaperan aja. Lo pikir di sini cuman lo yang butuh makan? Orang-orang yang dari tadi ngantri juga butuh kali.”

“Iya tuh, huu, gak tau etika banget.”

Seruan-seruan muncul dari beberapa orang di belakang Lintang, bahkan Monna juga ikut berseru kesal.

Karena malu diteriaki satu kantin, beberapa ornag yang tadinya menyerobot antrean pun perlahan pergi. Si cowok yang tadi meneriaki mereka berbalik ke arah Lintang, kemudian meminta maaf sekilas karena tadi Lintang terdorong olehnya. Yang Lintang kagetkan adalah, ternyata pemuda itu adalah pemuda yang tadi memecahkan kaca kelasnya. Lintang tersenyum kecil, ternyata cowok itu tidak begitu buruk.