Kantin
Lintang menginjakan kaki di area kantin aambil menenteng buku paket dan catatannya. Tidak perlu mencari lagi ia langsung bisa melihat Jehan yang sedang duduk sendiri di tengah kantin.
“Kak Jehan,” panggil Lintang.
Jehan berbalik, dan melambai untuk menyuruh Lintang mendekat. Gadis yang ia panggil mendekat dengan riang, sepertinya ia sangat bersemangat pagi ini.
“Udah sarapan?” tanya Jehan sambil membuka sebotol air mineral di depannya.
“Udah kok kak, tadi sama Nana.”
“Nana itu yang mana ya? Belom pernah denger.”
“Itu loh kak, yang Nana Parwita.”
“Owalah, yang katanya galak itu?”
“Kata siapa kak?” Lintang menyemburkan tawanya, tidak tahan Nana dibilang galak begini.
“Kata Aly, dia bilang yang namanya Nana galak.”
Lintang belum habis dengan tawanya. Ia akui Nana memanglah galak, tetapi hal itu tidak berlaku untuknya. Nana di pandangan Lintang itu seperti anak kucing yang polos dan ceroboh.
“Iya mungkin menurut orang-orang si Nana galak, tapi dia gak gitu kok.”
“Oh, kalau lo? Galak juga gak?”
“Loh kok gue sih?”
“Engga nanya doang.” Jehan tertawa kecil, merasa gemas dengan respon Lintang.
“Katanya tadi mau bikin tugas, gimana sih?”
Lintang menepuk keningnya sendiri, ia sangat lupa dengan kewajibannya yang satu itu.
“Kerjain gih, gue tungguin,” kata Jehan singkat.
Benar saja, Jehan menungguinya hingga selesai Lintang mengerjakan tugas. Tak sampai di situ saja, bahkan Jehan menemani gadis itu hinggal bel masuk berbunyi.
“Gue duluan ya kak, makasih udah nemenin,” pamit Lintang. Namun sebelum ia benar-benar pergi Jehan kembali menahannya.
“Ini nomer gue, ntar ngobrolnya lewat situ aja ya,” kata Jehan sambil menyodorkan sebuah kertas yang dari tadi ia pegang.
Lintang menerimanya, setelah itu ia kembali berlari menuju kelasnya.