paskib

Lintang menguap beberapa kali sesaat setelah meinggalkan laboratorium fisika sekolahnya. Ia berjalan bersama salah satu teman sekelasnya, yang juga adalah tetangganya. Keduanya kini bersama ingin menuju parkiran untuk menunggu jemputan.

“Ngantuk In?” tanya si teman yang memanggilnya dengan sebutan Iin.

“Banget Re, begadang gue tadi malem,” jawab Lintang kepada Rena, teman sekaligus tetangganya.

Rena menggeleng-geleng saja. Tak sengaja ia melihat ke arah lapangan, di mana pasukan pengibar bendera mereka sedang berlatih di sana.

“Eh mereka latihan hari ini? Bukannya gak ada ekskul ya?” ucap Rena heran.

“Siapa Re?”

“Itu anak paskib, katanya kan ekskul belom mulai.”

Lintang ikut melihat ke arah pandang Rena. Ia meneliti satu persatu wajah yang ditampakan, siapa tau ada satu-dua orang yang ia kenal. Dan benar saja, ada satu wajah yang baru saja mencuri atensinya.

Si kakak kelas yang memecahkan kaca jendela kelasnya. Kakak kelas yang beberapa hari ini selalu ada dalam jarak atensi Lintang.

“Re, gue boleh nanya?”

“Hm? Nanya apa In?”

“Lo kenal itu gak, kakak kelas yang itu.” Lintang menunjuk si kakak kelas yang ia maksud, dan Rena mengikuti arah yang ditunjuk Lintang.

“Oh itu toh. Gue kenal tapi gak tau namanya coy, cuman sekedar tau muka masing-masing aja.”

Lintang mengangguk mengerti. Sepertinya si kakak kelas dikenal oleh semua orang di sekolah, tidak mengherankan lagi kenapa.

Malah Lintang merasa heran, kenapa dia harus mengenal pemuda itu dari eksiden kaca kelas-nya yang pecah.

Lintang menggeleng pelan, ia perlahan kembali dari pikirannya yang melayang ke mana-mana. Gadis itu kembali fokus kepada jalannya.