Kaget kan?
“Halo, Ma. Novita udah nyampe nih, Novita harus gimana abis ini? Ke dalem apa nunggu aja?” tanya Novita kepada Mamanya di seberang telepon.
“Kamu ke dalem sini, Novita. Langsung masuk aja,” ujar sang mama.
Novita mendongkak sedikit untuk bisa melihat rumah besar di hadapannya. Dengan langkah ragu, gadis muda itu melangkah menuju pintu coklat yang tidak tertutup rapat.
“Permisi,” gumam Novita saat berjalan masuk ke dalam rumah besar tersebut.
“Novita! Sini!” Suara sang mama memenuhi rongga pendengaran Novita, gadis itu langsung tahu keberadaan mamanya hanya dari suara saja.
Tanpa kata, Novita langsung berlari memeluk wanita paruh baya yang berstatus mamanya itu.
“Novita kangen banget sama mama,” gumam Novita disela-sela pelukannya.
“Mama juga kangen banget sama Novita,” ucap sang mama.
Setelah sesi berpelukan selesai, Novita langsung dikenalkan dengan seorang wanita paruh baya berwajah ramah.
“Novita, kenalin. Ini Tante Tika, temen mama waktu SMA dulu,” kata ibunya mengenalkan.
“Halo, Tante Tika. Aku Novita.”
Tante Tika langsung menarik Novita ke dalm pelukannya. Awalnya Novita sangat canggung, namun ketika mendengar sebuag perkataan dari bibir Tante Tika, Novita langsung tersenyum kecil.
“Makasih, Novita. Makasih sudah mau menjadi kebahagiaan Aurel,” lirih wanita itu dalam pelukan.
Setelah pelukan mereka terlepas, Tante Tika langsung mengajak Novita dan mamanya untuk beranjak menuju ruang makan. Di atas meja makan, sudah tersedia banyak hidangan yang mengiurkan.
Novita langsung duduk di sebelah mamanya, sedangkan Tante Tika masih sibuk dengan pelayan rumahnya.
“Maaf ya, tante masih harus nyuruh anak tante buat gabung di sini.” Novita mengangguk saja, menandakan bahwa hal itu bukan apa-apa.
“Suami lo gak pulang, Tik?” tanya Mama Novita penasaran.
“Engga, Rel. Tadi pagi udah gue bekalin kok,” jawab Tante Tika santai.
Tak lama ada sebuah suara yang memenuhi ruang makan yang hening itu.
“Aku makan nanti aja deh, Ma. Aku lagi sibuk.” Suara berat milik anak Tante Tika memenuhi ruang makan.
“Gak boleh. Kamu makan di sini, sama tamu-tamu mama. Okay?”
Putra bungsunya mendengus sebal. Tanpa kata ia langsung bergabung di meja makan. Novita yang penasaran langsung mendongkak, pandangannya langsung bertemu dengan mata coklat milik pemuda itu.
“Loh? Vita?”
Novita tersedak, ia sungguh kaget dengan kehadiran pemuda itu di hadapannya.
“Lo..Fael? Rafael?”
Rafael tidak kalah terkejutnya, bahkan pemuda itu sampai menerjabkan matanya beberapa kali, sebelum sang mama mencubitnya pelan.
“Kamu kok kayak ketemu setan gitu sih?” Rafael meringis pelan mendapat cubitan itu. Ia tidak mempedulikan perkataan mamanya, perhatiannya hanya tertuju kepada Novita saja.
“Loh, kalian kenal?” tanya Mama Novita memandang keduanya bergantian.
“Dia temen sekelasku, Ma.”
“Vita ketua kelasku, Tante.”
“Oh, wow. Kebetulan macam apa ini?” Tante Tika menatap tidak percaya Mama Novita.
Setelah hening sejenak, tiba-tiba keempatnya tertawa lepas atas segala kebetulan yang terjadi. Tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi.