yoondiction

TW/ SELF HARM

Samuel mengacak rambutnya frustasi, ia bingung kenapa semua hal menjadi sangat rumit sekarang, padahal minggu lalu ia mulai merasa kehidupannya sudah berjalan dengan baik. Rasanya ia ingin berteriak dan menangis yang kencang, mengerluarkan segala perasaan yang ia tahan saat ini.

Langkahnya lunglai, berjalan menuju unit apartment yang ia tinggali. Samuel memasuki unit apartment-nya tanpa menyalakan satu pun lampu di dalamnya, ia sudah terlampau lelah untuk melakukan hal kecil seperti itu. Kini yang ada di dalam pikirannya hanyalah cara agar rasa frustasinya bisa hilang.

Samuel berjalan menuju kamar mandi, lalu segera masuk dan menunci pintu agar ia bisa melakukannya dengan tenang. Dibukanya kotak P3K yang tergantung di samping cermin, dan meraih cutter yang telah ia sembunyikan di belakang kapas yang masih utuh.

Pemuda dengan rambut yang sudah acak-acakan itu membalikkan tubuhnya, lalu duduk di atas kloset yang telah tertutup. Ia main-mainkan sejenak cutter yang ia pegang, kembali merenungkan perasaan-perasaan yang ia tahan selama ini.

Matanya memanas, dadanya sesak, ia tidak sanggup lagi. Samuel menangis dalam diam, dadanya terasa lebih sesak dari sebelumnya. Disilangkan kedua tangannya, dan meremas pelan kedua bahunya, menyalurkan rasa frustasi yang ia rasakan. Tubuhnya kembali bergetar, rasa ketakutan menyelimutinya sejak bertemu dengan Bagas tadi.

Setelah beberapa lama menangis dalam diam, Samuel melepaskan tangannya dari bahu, lalu kembali memainkan cutter yang belum ia lepas dari tangan kanannya. Dengan gerakan pelan, ia menggulung lengan kemeja kirinya, hingga ia bisa melihat bekas luka yang belum sembuh sempurna dari seminggu lalu. Kini, ia akan menambahkan luka kefrustasiannya itu.

Samuel menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Tubuhnya bergetar akibat tangis yang ia tahan. Pemuda itu mengangkat lengan kirinya, lalu mengarahkan cutter yang ia genggam di tangan kanan pada tangan kirinya. Ia menggoreskan cutter pada tangan kirinya dengan gerakan lambat, membuat tangannya mengeluarkan darah segar dari goresan yang ia buat.

Tak hanya sekali, pemuda itu melakukannya beberapa kali hingga lengan kemeja yang ia gulung terkena darah yang mengalir dari tangan kirinya. Tangisan Samuel sudah berhenti, digantikan wajah datar, seakan-akan tidak ada hal serius yang terjadi padanya. Pemuda itu mati rasa, setiap goresan yang ia ciptakan membuat perasaan frustasinya pergi.

Setelah merasa lebih baik, Samuel kembali berdiri dan kembali menyembunyikan cutter miliknya. Selanjutnya, ia beranjak membersihkan diri, mandi dan segera mencuci kemeja yang lengan kirinya telah berlumuran darah.


“Udah makan belum, Sam?” tanya Waniar yang baru saja tiba di unit apartment Samuel tanpa mengabari terlebih dahulu.

“Belum, Kak,” jawab Samuel yang dengan gugup berusaha menutupi lengan kirinya. Ia lupa memakai baju berlengan panjang, dan ia tidak mengantisipasi bahwa Waniar akan datang secara tiba-tiba seperti ini.

“Mau makan di luar, nggak? Gue baru gajian, nih,” tawar Waniar sambil berjalan mendekati sang adik.

“Bebas, sih, Kak. Yang penting makan,” jawab Samuel tidak seceria biasanya. Waniar menyadari bahwa ada yang berbeda dari adiknya hari ini, pemuda itu terkesan menghindari dan membatasi dirinya terhadap Waniar.

Tanpa disangka-sangka, Waniar tiba-tiba saja menarik tangan kiri Samuel yang dari tadi ia sembunyikan, membuat yang lebih muda terkejut dan panik.

“Lo kenapa, Dek?” tanya Waniar dengan wajah terkejut melihat banyak sekali luka sayatan pada pergelangan hingga lengan bawah sang adik.

Wajah Samuel berubah, ia tidak dapat mengeluarkan suaranya saat ini. Waniar juga tidak dapat berkata-kata lagi. Ia tahu, saat ini Samuel tidak bisa untuk dinasehati atas tindakannya, yang adiknya perlukan adalah support darinya. Untuk itu, Waniar segera menarik yang lebih muda kepelukannya, memberikan perasaan tenang yang Samuel butuhkan sekarang.

Samuel membalas pelukan sang kakak, mencari sebuah ketenangan. Elusan yang diberikan Waniar sukses membuat Samuel terisak, entah kenapa perasaan-perasaan yang ia pendam kembali muncul lagi.

“Kenapa lo lakuin pas Kak Satria mau ke sini, sih, Sam? Gimana gue jelasin ke dia…” lirih Waniar yang dibalas gelengan kecil oleh Samuel. Ia pun tidak tahu harus memberikan pembelaan apa kepada sang kakak.

“Kak… Gue beneran nggak berguna, ya? Gue nggak bisa apa-apa, gue bodoh, gue bahkan nggak bisa ngelawan waktu ditindas, gue cuman jadi beban doang,” isak Samuel, membuat Waniar yang mendengar perkataannya kaget.

“Selama ini lo ditindas? Kenapa nggak cerita, Samuel?” Tanya Waniar, masih belum melepas pelukannya.

“Gue nggak mau bikin Kakak khawatir. Selama ini lo juga lagi ada masalah di kantor, gue nggak mau nambah beban pikiran elo, Kak.”

Hening sejenak, isakan Samuel belum juga mereda, dan pelukan mereka masih belum terlepas. Waniar tahu, jika ia melepas pelukannya, Samuel tidak akan ada keberanian untuk bercerita. Mereka masih terlalu canggung jika bercerita di hadapan satu sama lain.

“Kak, selama ini gue cuman bisa bikin malu nama keluarga, ya?” Tanya Samuel tiba-tiba, suaranya serak akibat terlalu lama menangis.

“Lo nggak bikin malu nama keluarga, lo itu hebat dengan cara lo sendiri,” ucap Waniar sambil mengelus pelan punggung adiknya. Tangisan Samuel kembali pecah, kini lebih keras dari sebelumnya.

Tidak ada kata-kata yang keluar lagi dari bibir kedua kakak-adik itu. Setelah tangis Samuel mereda pun mereka masih mempertahankan posisi berpelukan, sampai Samuel melepas pelukan sang kakak terlebih dahulu.

“Udah mendingan?” Tanya Waniar dengan senyuman hangat. Samuel mengangguk saja, merasa canggung karena sudah menangis dengan keras di hadapan kakaknya.

“Mau makan sekarang, nggak?” Tanya Waniar sekali lagi sambil mengeluarkank handphone dari saku celananya.

“Nggak sekarang, deh, Kak. Lagi nggak ada nafsu makan,” jawab Samuel dengan suara serak sehabis menangis.

“Ya udah, nggak apa-apa. Kalau mau makan, kasih tahu aja, ya,” ucap Waniar sambil mengusap kepala Samuel. Pemuda itu kemudian berlalu menuju kamar tidurnya. Keduanya merasakan canggung, namun berusaha sebisa mungkin untuk peduli satu sama lain.


Setelah makan malam, keduanya kembali berbincang. Membahas Satria yang tiba-tiba akan datang dan menggelar reuni kecil-kecilan di kota yang mereka tinggali. Teman-teman semasa SMA Satria sudah tersebar ke berbagai daerah, namun kebanyakan berada di kota yang sama dengan Samuel dan Waniar, sehingga Satria memutuskan akan mengadakan acara reuni kecil-kecilan.

“Katanya dia bakal buka kantor cabang perusahaan di sini.”

“Serius!?” Seru Samuel yang kaget.

Waniar mengangguk saja. Ia juga sama kagetnya dengan Samuel ketika diberitahu Satria tentang rencananya untuk membuka kantor cabang perusahaan di kota yang mereka tinggali. Pasalnya, sudah beberapa tahun RAV Group tidak lagi membuka kantor cabang di kota mana pun dan tetap berjalan sesuai kemauan Ayah. Rencana Satria ini juga sebagai bukti, bahwa ia telah benar-benar mewarisi perusahaan.

By the way, Kak. Gue mau cerita dikit soal Ayah sama kak Satria, boleh?” Ungkap Samuel sambil menurunkan kedua kakinya yang tadi ia silankan di atas kursi.

“Boleh aja, kenapa?”

Samuel menarik nafas sejenak, rasanya masih sedikit ada keraguan dalam dirinya untuk bercerita.

“Cerita apa, Sam?” Tanya Waniar yang menyadari keraguan dalam diri adiknya itu.

“Dulu, gue pernah ngelihat Ayah nampar Kak Satria karena nggak bisa dapet ranking satu. Waktu itu, Ayah marah-marah sambil teriak kalau Kak Satria itu anak gagal, nggak bisa menuhin ekspetasi Ayah. Mulai dari situ, gue selalu tanemin dalam otak gue kalau Ayah nggak suka lihat orang gagal, Ayah nggak suka lihat anak yang nggak berguna, Ayah pengen anak-anaknya bisa menuhin ekspetasinya, kalau nggak Ayah bakal marah terus mukul kita,” tutur Samuel sambil mengingat kembali ingatan pahit tersebut. Ia masih bisa merasakan perasaan takut yang muncul ketika ia mengintip kejadian tersebut dengan matanya sendiri. Kejadian tersebut tanpa sadar mempengaruhi Samuel hingga ia tumbuh dewasa, membuat sebuah luka batin terhadap Ayahnya sendiri.

Waniar terdiam, ternyata selama ini banyak cerita yang tidak ia dan saudara-saudaranya ketahui tentang Kakak sulung mereka. Mungkin ada lebih banyak lagi cerita menyakitkan terkait masa kecil Satria.

Pemuda itu menatap Samuel yang diam sehabis bercerita. Adiknya juga menyimpan banyak cerita menyakitkan di balik senyuman dan tingkahnya yang menyebalkan. Mungkin ia harus lebih peduli lagi terhadap perasaan Samuel, sebisa mungkin agar luka batinnya bisa sembuh perlahan-lahan.

“Sam, apapun yang terjadi di masa lalu, gue harap lo bisa lupain itu. Apa yang Ayah lakuin itu memang perbuatan yang buruk, tapi sekarang lo nggak perlu khawatir, Ayah sudah nggak kayak gitu lagi, kok. Kita ber-13 bisa bikin Ayah bangga dengan bidang masing-masing. Kesalahan Ayah di masa lalu nggak perlu diingat lagi, kita hanya perlu fokus dengan apa yang terjadi di depan. Gue juga bakal bantu lo, apapun yang lo butuhin. Jadi, ayo kita fokus ke masa depan bareng-bareng, Dek,” ucap Waniar yang tersenyum hangat kepada Samuel, yang dibalas senyuman tipis oleh adiknya itu.

Thank you, udah mau dengerin dan temenin gue di masa-masa sulit gue, Kak. Gue beruntung punya Kakak kayak lo,” balas Samuel yang menutup percakapan serius di malam itu.

Siang itu Samuel berencana untuk menyusul Felicia di kantin FK, namun sebelumnya ia hendak menghampiri salah satu teman yang meminta bantuannya pagi tadi. Setelah ia selesai dengan urusannya, Samuel berencana untuk segera berjalan menuju kantin FK, sebelum secara tiba-tiba ia mendengar namanya disebut-sebut dari arah meja di sebelah kirinya.

Samuel mengurungkan niat untuk pergi, membuat temannya bertanya-tanya. Samuel hanya tersenyum saja dan beralasan bahwa ia sedang menunggu seseorang sehingga tidak jadi beranjak pergi. Temannya hanya mengangguk saja, dan senang karena Samuel bisa menemaninya sebentar.

Dipakainya tudung jaket yang ia kenakan, dan menajamkan pendengarannya untuk bisa mendengar obrolan di meja sebelah.

“Ditemenin si Feli, ya, dia?”

“Iya, nggak tahu deh kenapa si Feli tiba-tiba ikut campur.”

“Lagian, ya, dia nggak ada apa-apanya. Nggak pinter, nggak bisa diandelin soal kuliah, kok, kalian masih mau manfaatin, sih?”

“Anaknya aktif, banyak yang kenal, jadi bisa dimanfaatin lewat relasi.”

“Royal juga, njir. Kita selalu minta dibayarin, dan dia nggak pernah nolak.”

“Tapi sekarang anaknya sudah sombong gitu, udah susah dimanfaatin.”

“Yaelah, masih banyak yang bisa dimanfaatin, kok. Lebih untungin juga, bisa diandelin soal kuliah.”

“Iya, masih banyak, kok, yang bisa kita manfaatin.”

“Iya, lagian orang kayak Samuel nggak usah ditemenin lagi, nggak tahu diri banget. Udah enak kita mau jadi temennya, malah ninggalin pas sudah seneng sama teman barunya. Ntar, kalau ada maunya aja balik ke kita.”

“Iya, anjir. Udah bagus dikenalin ke Bang Juna waktu itu. Eh, sekarang malah ninggalin, si anjir.”

Samuel yang mendengar percakapan itu hanya bisa tersenyum sinis, padahal selama ini dia yang dimanfaatkan, kenapa dia yang disebut tidak tahu diri?

Samuel menghela nafas pelan, merasa sakit hati direndahkan seperti itu. Padahal dirinya selama ini sudah berusaha untuk tetap baik kepada mereka, tetapi apa yang ia dapatkan sekarang? Selama ini ia tidak melawan dan diam saja, berharap semuanya akan berubah menjadi lebih baik, ternyata ia salah semuanya menjadi lebih buruk.

Samuel rasanya ingin menghilang saja, berharap ia tidak pernah berkuliah di tempat ini dan bertemu dengan teman-teman yang selama ini telah memanfaatkannya.

Sebelum situasinya berubah menjadi lebih buruk, Samuel segera berpamitan kepada temannya tadi dan segera beranjak dari tempat itu.


“Kok lama banget, sih, Sam?” tanya Felicia ketika Samuel baru saja sampai di tempat mereka duduk.

“Tadi ada urusan bentar,” jawab Samuel seadanya.

“Urusan apa?” Kali ini Jaguar yang bertanya.

Samuel diam sejenak, mempertimbangkan apakah dia harus bercerita tentang pembicaraan geng Bagas tadi kepada Feli dan Jaguar atau tidak.

“Kenapa, Sam? Ada yang mau lo omongin? Kok, kayak ragu-ragu begitu?” Felicia yang peka akan perubahan Samuel langsung bertanya.

Samuel tersenyum tipis, lalu memutuskan untuk bercerita kepada kedua temannya.

“Tadi gue nguping obrolan geng-nya Bagas bentar. Mereka ngomongin gue,” ucap Samuel dengan senyuman yang dipaksakan.

“Mereka ngomongin apa?” tanya Felicia dengan wajah serius, ada raut tidak senang yang terpancar dari sana.

“Mereka ngejelekin gue, bilang gue nggak tahu diri. Mereka juga ungkapin kalau selama ini cuman manfaatin gue doang,” lanjut Samuel yang hanya bisa tersenyum saja.

“Yang bener saja, anjir? Mereka yang nggak tahu diri! Orang gila!” Seru Felicia dengan kesal.

“Nggak usah dipikirin, Sam. Yang nggak tahu diri itu mereka, lo nggak usah masukin ke hati,” ujar Jaguar yang duduk di sebelah Felicia.

“Awas aja kalau ketemu gue, habis mereka semua,” desis Felicia yang masih sangat kesal atas perkataan geng Bagas kepada Samuel.

“Udah, nggak apa-apa, Fel. Selama mereka nggak apa-apain Samuel, santai aja.”

“Iya, Fel. Gue juga nggak apa-apa, kok, santai aja. Mereka juga udah nggak gangguin gue, lo nggak perlu khawatir,” ucap Samuel dengan wajah santai. Padahal, dia diam-diam memikirkan perkataan mereka, apakah dia serendah itu di mata mereka? Selama ini hanya dimanfaatkan, dan rugi dalam waktu dan uang yang telah ia keluarkan.

“Iya, deh. Gue diem saja, tapi kalau sampai mereka habis ini masih gangguin lo, gue nggak bakal tinggal diam,” balas Felicia, masih dengan wajah kesalnya.

Samuel datang tepat sebelum pukul 9 pagi, dan sesuai dugaannya geng Bagas sudah terlebih dahulu menduduki kursi belakang, dan kali ini tidak bersama Samuel melainkan bersama Iksan. Samuel diam-diam melirik, dan mendapati Bagas sedang menatap ke arahnya. Samuel tidak peduli, ia segera mencari tempat kosong yang bisa ia duduki saat ini.

Samuel menoleh ke sebelah kanannya, mendapati salah seorang teman sekelasnya duduk di barisan kanan paling depan. Hanya itu bangku tersisa yang bisa ia duduki dan jaraknya paling jauh dari jangkauan Bagas. Tanpa berlama-lama, Samuel segera melangkahkan kakinya menuju meja di depan kelas.

“Hai, Fel. Di sini kosong, nggak?” tanya Samuel sambil menunjuk bangku yang kosong.

“Nggak bisa lihat? Ada tas-nya,” jawab Felicia dengan sedikit ketus. Samuel hanya tersenyum canggung, lalu hendak berbalik meninggalkan Felicia, si anak terpintar di kelas.

“Mau ke mana? Sebelah gue masih ada bangku kosong, kok,” Felicia kembali membuka suara sebelum Samuel sempat berbalik meninggalkannya.

Samuel lagi-lagi hanya tersenyum canggung, lalu tanpa berlama-lama ia segera duduk di bangku yang Felicia tunjuk.

Tak lama, perkuliahan pun dimulai, dan selama 2 jam perkuliahan Samuel selalu merasa tidak tenang. Entah karena perlakuan Felicia kepadanya, atau karena Bagas yang terus-terusan menatapnya dari belakang.

Setelah perkuliahan selesai, Samuel tidak langsung keluar dari kelas. Ia kembali menunggu agar Bagas dan teman-temannya keluar dari kelas terlebih dahulu, namun sepertinya keputusan yang ia buat salah.

“Sam! Kantin, yuk!” ajak Bagas dari bangku belakang.

Samuel menghela nafasnya, harusnya dia keluar duluan saja tadi.

Baru saja Samuel hendak mengiyakan ajakan Bagas, Felicia langsung memotongnya.

Sorry, tapi Samuel bareng gue hari ini. Gue sama dia sudah janjian,” ucap Felicia sambil menarik tas yang Samuel kenakan.

Tanpa menunggu jawaban dari Bagas, Felicia segera menarik Samuel keluar dari kelas bersama salah seorang temannya yang mengikuti.


“Selama bareng gue, lo bakal aman,” ucap Felicia sambil menusuk plastik minumannya. Kini mereka berada di kantin FK, tempat yang sangat jarang dikunjungi oleh mahasiswa FISIP.

“Perasaan tadi lo ketus sama gue, kok sekarang jadi baik?” tanya Samuel sambil menyisihkan bawang goreng dari nasi gorengnya.

“Kenapa? Nggak boleh?”

“Nggak gitu…”

“Udahlah, emang begitu orangnya, Sam. Gengsinya ketinggian,” ucap Jaguar, teman Felicia yang menengahi keduanya.

“Diem lu, bocah nolep,” seru Felicia sambil memukul pundak temannya itu.

“Udah, intinya kalau lo selalu bareng gue, lo bisa aman dari itu bocah-bocah benalu. Mereka nggak akan berani sama gue,” ujar Felicia sambil mengepalkan tangannya.

Memang harus diakui, tidak ada seorang pun dari geng Bagas yang berani berurusan dengan Felicia, aset dari Ilmu Komunikasi. Otaknya yang pintar dan sering mewakili fakultas dan kampus membuat orang-orang segan berurusan dengannya, ditambah sifatnya yang agak ketus dan tidak kenal takut.

“Jadi official, nih?” tanya Jaguar ambigu.

Official apa, anjing?” Felicia menatap Jaguar galak, membuat yang ditatap terkekeh pelan.

“Temenan, anjing. Temenan sama Samuel,” jawab Jaguar sambil menunjuk Samuel yang duduk di hadapannya.

“Oh. Iya, mulai sekarang kita temenan, ya, Sam. Kalau lu diganggu sama Bagas, kasih tahu aja. Nanti gue yang urus.”

Samuel hanya menatap Felicia bingung, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Ah, reaksi lu nggak asyik. Seneng dikit, kek. Gue ngajak lu temenan, nih,” protes Felicia atas reaksi Samuel yang ia anggap biasa saja.

“Hah? Lu mau gue bereaksi kayak bagaimana, anjir?” tanya Samuel sambil kebingungan.

“Udahlah, nggak usah dituruti, Sam. Memang nggak jelas,” ucap Jaguar sambil merebut es teh yang sedang diminum oleh Felicia.

“Heh, anak anjing, es teh gue!” teriak Felicia sambil merebut kembali minumannya.

“Minta dikit, anjir, gue haus.”

“Beli sendiri, monyet!”

Samuel hanya duduk terdiam melihat kejadian di hadapannya itu. Kenapa hidupnya selalu dikelilingi oleh orang-orang aneh?

Samuel hanya menghela nafasnya saja ketika melihat sekitarnya yang dipenuhi beberapa mahasiswa kampusnya dari berbagai program studi. Tadinya, ia tak ingin ikut bergabung, namun entah dari mana Bagas tiba-tiba muncul di hadapannya dan menyeret pemuda itu untuk ikut dalam perkumpulan.

Samuel menatap pemuda di hadapannya dengan takut-takut. Dia adalah abang-abangan kampus yang begitu dihormati oleh teman-temannya. Dia adalah Arjuna, mahasiswa semester 12 yang tidak kunjung menyelesaikan skripsinya. Samuel masih bingung, apa istimewanya pemuda itu sehingga mahasiswa kampus begitu menghormatinya.

“Bang Arjuna keren, ya,” bisik salah seorang pemuda kepada Samuel.

Samuel berbalik dan menemukan salah seorang teman satu kelasnya di sana.

“Lo diajak ke sini juga?” lirih Samuel.

Iksan, pemuda dengan kacamata itu mengangguk. Ia sama seperti Samuel, sering dimanfaatkan. Tetapi, Iksan lebih bisa menerimanya dari pada Samuel, entah karena sifatnya yang polos atau ia tidak ingin menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri.

“Katanya, ya, kakaknya Bang Arjuna dulu Bintang Aktivis Kampus. Terus, dulu sebelum lulus udah jadi perebutan perusahaan-perusahaan besar, keren, kan?” jelas Iksan dengan suara lirih, tidak ingin menimbulkan kebisingan.

“Terus, istimewanya dia apa?” tanya Samuel lebih lirih dari suara Iksan tadi.

“Menurut temen-temen yang lain, nih, kalau lo deket sama Bang Arjuna, lo bakal lebih gampang buat magang di perusahaan-perusahaan besar. Udah banyak banget orang yang dibantu sama kakaknya Bang Arjuna, jadi orang-orang pada segan sama dia juga.”

“Jadi, intinya Bang Arjuna ini dihormatin karena kakaknya udah ngebantu banyak orang?” Iksan mengangguk.

Samuel terdiam setelahnya, ia seperti melihat dirinya sendiri. Tanpa kakaknya, ia juga bukan apa-apa. Bedanya, Arjuna memanfaatkan hal itu demi reputasi, sedangkan Samuel sama sekali tidak berani memanfaatkan nama besar keluarganya.

Samuel diam dan mendengarkan, walaupun kata-kata yang dikeluarkan oleh Arjuna sama sekali tidak berguna untuknya, dan malah membuat pemuda itu muak.

“Nah, sekarang gue mau tahu, dong, siapa aja yang baru gabung sama kita?” Arjuna bertanya, membuat beberapa orang mengangkat tangan, termasuk Samuel yang sebelumnya melamun.

“Lumayan juga, ya. Sini, dong, deket-deket kalau gitu, gue mau kenal sama kalian juga,” ucap Arjuna mengajak beberapa orang untuk duduk di dekatnya. Samuel mau tidak mau bertukar tempat dengan salah satu kakak tingkatnya yang duduk tepat di sebelah Arjuna.

Samuel menunduk, merasa tidak nyaman bersebelahan dengan Arjuna. Tanpa kata, pemuda yang lebih tua darinya tiba-tiba saja merangkulnya, membuat Samuel semakin tidak nyaman.

Arjuna mengeluarkan sekotak rokok dari saku jaketnya dan mengambil satu batang di antara beberapa batang yang tersisa di dalam kotak. Setelah itu, ia menyodorkannya kepada pemuda yang lebih kecil di sampingnya.

“Sebat nggak lo?” tanya Arjuna. Samuel menggeleng, lalu tersenyum kaku kepada Arjuna.

“Hah? Masa enggak, sih? Cupu banget. Nggak usah mikirin soal kesehatan, deh, kita masih muda, masih sehat. Lagian cowok apaan coba yang nggak ngerokok? Banci, kali,” Arjuna terkekeh, ia menatap Samuel dengan pandangan meremehkan, membuat Samuel sekali lagi merasa tidak nyaman.

“Nama lo siapa, nih? Gue pengen tahu nama ‘si paling’ nggak ngerokok,” lanjut Arjuna yang sudah mengoper kotak rokoknya ke arah yang berseberangan dari Samuel.

“Gue Samuel, Bang…” jawab Samuel dengan perasaan sedikit takut.

“Oh, Samuel, ya? Siapa yang ngajak lu ke sini, Muel?” Arjuna semakin mempererat rangkulannya, membuat Samuel mau tidak mau mendekatkan kursinya kepada Arjuna.

“Gue, Bang.” Bagas yang duduk di belakang Arjuna mengangkat tangannya.

“Oh, elu, toh. Lain kali jangan ngajak orang cupu ke tongkrongan, yang ada cuman ngotorin aja,” ucap Arjuna sambil tersenyum sinis, dinyalakan rokok ditangannya menggunakan korek api salah satu mahasiswa di situ. Samuel menunduk, merasa dipermalukan.

“Sori, Bang. Tapi, gue bawa dia ke sini ada alasan juga, kok,” kata Bagas membela dirinya.

“Apa alasannya? Gue mau tahu.”

“Samuel ini orangnya royal, Bang, sering bayarin tongkrongan gue. Jadi, dia yang nanti bayarin tongkrongan kita hari ini, Bang.” Ucapan Bagas membuat Samuel menatapnya tidak percaya. Jelas-jelas ia selalu dipaksa untuk menalangi tagihan teman-temannya.

“Wah, gegayaan banget, beneran nggak, nih?”

Bagas menatap Samuel dengan tatapan memohon dan sedikit ketakutan. Samuel berpikir sebentar, jika ia menerimanya akan menghabiskan uangnya, sedangkan jika ia menolak reputasinya akan buruk mengingat betapa dihormatinya Arjuna.

Samuel mengangguk, membuat Arjuna tersenyum miring.

“Kalian udah denger, kan? Pesen aja yang kalian mau, nanti si Muel bayarin,” perintah Arjuna kepada para mahasiswa di situ.

“Bagus kalau lo tahu diri, Muel. By the way, thanks. Emang perlu effort kalau mau dihormatin kayak gue, jadi gue hargain usaha lo,” ucap Arjuna pelan di sebelah telinga Samuel, setelah itu ia melepaskan rangkulannya terhadap Samuel dan beranjak pergi. Ia juga ikut memesan, menikmati kesempatan yang diberikan oleh Samuel.

“Dapat payung dari mana?” tanya Kala saat Leo sudah berdiri di sebelahnya sambil menutup payung.

“Pinjem punya Ale, tadi,” jawab Leo tanpa memalingkan wajahnya dari payung yang sedang ia tutup.

“Kebiasaan banget, nggak pernah bawa payung kalau ke luar,” cibir Kala.

“Ya, ngapain juga kalau nggak hujan?”

“Jaga-jaga, lah, Le. Taruh di mobil.”

“Iya, bawel.”

Keduanya kini berjalan masuk ke dalam gedung fakultas lagi, entah akan ke mana arahnya.

“Mau ke mana?” tanya Kala ketika Leo menaiki tangga menuju lantai 2.

“Ketemu temen gue bentar, mau ngambil jas,” ucap Leo tanpa berbalik kepada Kala yang berjalan di belakangnya.

“Abis ngapain, sih, Lo? Perasaan tadi pagi lo masih pakai baju biasa?” tanya Kala yang heran melihat pakaian serba hitam yang Leo kenakan.

“Tadi diminta tolong sama anak fotografi. Dia ada tugas fashion fotografi, jadi minta bantuan gue sama beberapa orang lain, termasuk temen gue yang minjem jas ini,” jelas Leo.

Kala mengangguk saja, mengerti akan kebiasaan Leo yang sering membantu teman-temannya di jurusan fotografi hingga fashion design.

Setelah mengambil jas miliknya, Leo langsung mengajak Kala kembali kepada rencana awal mereka. Keduanya berjalan menuju parkiran mobil dengan posisi Leo memegangi payung untuk ia pakai bersama sang gadis.

“Lo lagi banyak kerjaan apa gimana, Le? Sibuk banget gue lihat-lihat,” komentar Kala yang melihat Leo sudah sibuk dengan ponselnya.

“Emang lagi banyak, Kal. Makanya gue pengen nyari inspirasi,” jawab Leo yang kembali mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana. Kini ia fokus sepenuhnya kepada Kala.

“Mau temenin gue sampai malam, nggak? Nanti gue antar pulang,” tawar Leo.

“Boleh, sih. Lagian gue nggak ada kesibukan apa-apa juga, jadi bebas aja,” jawab Kala menerima tawaran Leo. Tak ada salahnya juga jika ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan sang mantan.

“Tapi kita nggak di satu tempat aja, Kal. Terus, nanti lanjut ke studio gue, nggak apa-apa, kan?”

“Nggak apa-apa, lah, gue mau di mana aja boleh, kok.”

“Oke, kalau gitu. Makasih, Kal,” ucap Leo sambil membuka pintu mobil untuk Kala masuki.

Kala mengangguk saja, kemudian mengucapkan terima kasih kepada Leo. Setelah menutup pintu penumpang, Leo mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi.

“Jangan lupa pakai seatbelt, Kal,” tegur Leo sesaat setelah masuk ke dalam mobil.

Kala yang tersadar langsung menarik seatbelt di samping kursi untuk ia pakai. Dengan begitu keduanya siap untuk memulai perjalanan sore itu.

Samuel dan Waniar tetap pada tempat tinggal masing-masing, keputusan itu yang datang setelah ketiga bersaudara itu selesai berdiskusi. Samuel dan Waniar juga sepakat, jika Samuel sedang tidak baik-baik saja, ia akan menghubungi Waniar secepatnya.

Diskusi itu mereka tutup dengan makan malam, lalu disambung dengan menonton film bersama, walaupun Waniar tetap sibuk dengan laptopnya.

Waktu sudah berjalan menuju jam setengah sebelas malam. Samuel sudah tidur dengan nyaman di samping Satria yang duduk di sebelahnya, sedangkan Waniar yang duduk terpisah masih berkutat dengan pekerjaannya, menyisakan Satria yang sudah menonton film kedua. Tidak banyak yang ia lakukan selama mengunjungi kedua adiknya itu, sehingga rasanya seperti liburan biasa.

Waniar mengusap wajahnya pelan, sepertinya ia sudah mulai mengantuk. “Tidur aja, Wan, kalau nggak kuat,” ucap Satria tanpa membalikkan badannya kepada Waniar, seakan ia tahu kalau adiknya sudah mulai lelah.

“Tanggung, Kak,” balas Waniar tanpa memindahkan fokusnya.

“Lo lagi ngerjain apa, sih, Wan? Kayak sibuk banget dari tadi,” tanya Satria yang sudah mulai penasaran.

“Ngerjain laporan, Kak. Besok siang deadline-nya,” jawab Waniar dengan jari-jari yang masih bergerak di atas keyboard laptop.

“Kenapa mepet banget lo kerjainnya?”

“Baru diminta tadi pas makan malam, gimana nggak pusing, coba?” keluh Waniar dengan nada kesal. Walaupun sudah terbiasa mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa orang di kantor, Waniar tetap saja bisa kesal.

“Kalau gitu istirahat dulu, jangan sampai stres,” ucap Satria mengingatkan.

Waniar mendengus saja, tak menuruti ucapan sang sulung. Tak berapa lama kemudian, ia kembali membuka suara.

“Lo nggak capek, Kak?” tanya Waniar tiba-tiba.

“Capek kenapa?” Satria balik bertanya, ia sepertinya bisa menebak arah percakapan ini.

“Capek selalu ngurus adek-adek lo, walaupun udah nggak satu rumah.”

“Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Lo juga capek, ya?”

“Nggak, gue cuman penasaran. Lo, kan, manusia, pasti capek juga dengan tanggung jawab lo selama ini.”

Satria terdiam lama, kemudian malah balik bertanya, “Kalau lo sendiri gimana, Wan? Pasti capek juga, kan?”

Waniar hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

“Gue lagi mau denger cerita lo, Kak. Jadi jangan balikin pertanyaannya ke gue.” Satria akhirnya mengalah.

“Gue mau ngeluh capek juga percuma, Wan. Gue salah satu yang jaga keseimbangan rumah, jadi mau nggak mau harus kuat,” ucap Satria mulai mengeluarkan isi kepalanya.

“Gue tumbuh di bawah tekanan Ayah, harus jaga adek-adek gue, harus sempurnain akademik gue, harus buktiin diri kalau gue bisa ngewarisin perusahaan Ayah. Lo bisa bayangin, lah, gimana diaturnya hidup gue dari kecil sampai besar. Gue lakuin ini juga supaya nggak berimbas ke kalian, biar kalian bisa ngeraih apa yang kalian mau.”

Waniar menatap sang Kakak yang berbicara tanpa melihat dirinya. Ternyata selama ini si sulung telah berkorban demi adik-adiknya. Ia rela mendapat tekanan dari Ayah, asal hal itu tidak berimbas kepada adik-adiknya.

“Lo selama ini ditekan Ayah, tapi nggak pernah ngeluh sedikit pun?” ujar Waniar heran.

“Kan, udah gue bilang, Wan. Ngeluh pun percuma,” balas Satria sambil tersenyum getir, ia masih tidak menatap adiknya. Waniar menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, perasaannya campur aduk.

“Yang mengkhawatirkan di sini itu elo, Kak, tapi kenapa lo masih bisa khawatir sama orang lain, sih?”

“Gue takut, Wan. Gue takut kehilangan salah satu dari kalian, adik-adik gue. Gue nggak apa-apa hancur sendiri, asal kalian semua nggak perlu ngerasain apa yang gue rasain.” Kini Satria melirik Samuel yang tengah tertidur di sebelahnya. Wajah tenang pemuda itu membuat Satria meringis, menyadari kenyataan bahwa adiknya sudah menyakiti dirinya sendiri beberapa hari yang lalu.

“Nggak adil rasanya, Kak. Lo tau semua tentang adek-adek lo, tapi gue dan yang lain nggak tau tentang lo. Tolong, setidaknya anggap saudara-saudara lo sebagai tempat lo berlindung juga, Kak,” pinta Waniar, ia sudah tidak peduli dengan laporan setengah rampung yang ia tinggalkan.

Satria mengangguk kecil. Hal itu sudah ia lakukan dari dulu, ia selalu menjadikan saudara-saudaranya sebagai tempat pulangnya, tempat ia bisa melupakan sejenak hidupnya yang semakin lama semakin tidak berarah.

“Kalau gue minta lo untuk nggak sering-sering khawatir, boleh nggak?” lanjut Waniar.

Satria melengos, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa. “Entah kenapa perasaan khawatir gue selalu nggak bisa hilang. Mungkin itu dilandasi karena gue nggak mau kehilangan salah satu dari kalian, jadi sebisa mungkin gue mau memastikan kalian baik-baik aja supaya gue bisa tenang.”

Keadaan hening sesaat, sepertinya Waniar sedang mencerna perkataan sang Kakak.

“Seumur hidup gue udah mati-matian bertahan demi kalian, dan sekarang giliran gue mati-matian buat salah satu dari kalian bertahan demi gue. Berat rasanya keadaan berbalik kayak gini,” lanjut Satria setelah jeda sejenak sambil mengelus rambut Samuel yang tertidur di sebelahnya.

Waniar menundukkan kepalanya sambil mengelus rambutnya yang sedikit panjang. Perasaannya sungguh campur aduk, baru kali ini ia melihat sisi lain dari si sulung. Pemuda tinggi itu beranjak dari tempatnya, hendak mengambil minuman dingin di kulkas.

“Jangan minum yang dingin-dingin, udah malam,” tegur Satria seakan tahu pergerakan Waniar, padahal dirinya sedang duduk membelakangi tempat Waniar berdiri sekarang.

“Kadang lo nyeremin, tau, Kak,” ujar Waniar yang beralih dari kulkas ke kepada air mineral di atas meja.

Satria terkekeh saja, seperti biasa ia selalu tahu pergerakan adik-adiknya.

Setelah minum, Waniar ingin mengatakan sesuatu kepada Satria, tapi entah kenapa hal itu terasa akan sangat kaku bila ia ucapkan. Pada akhirnya Waniar hanya menggeleng pelan, kemudian kembali ke tempatnya duduk. Namun, setelah memikirkannya kembali, Waniar memutuskan akan mengatakan hal lain kemungkinan tidak akan menimbulkan reaksi aneh dari sang Kakak.

“Kak,” panggil Waniar.

Satria berbalik menatap adiknya yang akan kembali pada pekerjaannya.

“Gue seneng lo masih ada sampai sekarang.”

Leo menghela nafas berkali-kali, tidak habis pikir dengan tindakan gadis yang sedang makan di depannya saat ini. Saat membuka pintu kamar Kala tadi, ia menemukan gadis itu dengan wajah pucat dan tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Benar seperti dugaanya, Kala sedang sakit.

“Kenapa nggak bilang kalau lagi sakit?” Suara Leo yang dingin menembus indra pendengaran Kala. Membuat gadis itu tidak jadi menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.

“Biar lo nggak ke rumah, puas lo?” balas Kala tak kalah dingin.

“Gitu, ya, ngomongnya. Padahal tadinya mau minta bantuan gue,” ucap Leo sambil menatap Kala dengan tatapan tengilnya.

Kala yang tadinya menatap Leo datar, kini membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia tidak bisa mengelak kalau tadinya gadis itu ingin meminta bantuan Leo.

“Udah baikan belum, sekarang?”

Kala mengangguk sebagai jawaban.

Leo menatap gadis itu lamat-lamat, kemudian tanpa aba-aba ia mendekat dan meraba kening Kala menggunakan punggung tangannya.

“Badan lo panas, ada parasetamol, nggak?”

“Ada, kayaknya,” jawab Kala sambil meraba keningnya sendiri, memastikan perkataan Leo.

“Beneran ada, nggak?”

“Ada, bawel. Coba cek di laci kamar gue.”

Leo berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan menuju kamar Kala untuk mencari parasetamol.

Kala kembali melanjutkan kegiatan makannya, membiarkan Leo mencarikan parasetamol untuk dirinya. Sembari makan, Kala memegang kepalanya yang kembali pusing, sepertinya ia harus lebih banyak istirahat.

“Kenapa lo? Pusing?” tanya Leo yang baru saja kembali.

Kala mengangguk, ia sudah tidak tahan.

“Mau ke rumah sakit, nggak? Gue anter,” tawar Leo sambil mendekat kepada Kala. Dengan lembut ia menyentuh tangan Kala yang sedang memegang kepalanya, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

“Bukannya lo ada rapat? Gue pergi sendiri aja, deh, nggak apa-apa,” jawab Kala yang mengingat perkataan pemuda itu di chat tadi.

“Gampang, elah. Yang penting elo dulu, nggak tenang gue kalau gini, Kala,” ucap Leo yang menatap Kala dengan pandangan khawatir.

“Terus rapat lo gimana, anjing? Elo, kan, ketua.”

“Ntar gue suruh wakil gue. Ayo sekarang ke rumah sakit, nggak ada penolakkan,” ucap Leo final. Kala ingin membantah, tetapi dengan gerakan cepat Leo langsung menggendongnya tanpa aba-aba, membuat Kala tidak bisa menolak.

“Gue bisa jalan sendiri, Leo,” ucap Kala, ingin turun dari gendongan Leo.

“Ntar lo kabur, lagi. Udah, diem.” Kala menurut, nanti juga ia akan diturunkan saat sudah sampai mobil.

Suara bell menginterupsi Waniar yang sedang membuat kopi. Satria dan Samuel sedang pergi keluar, membuat Waniar hanya seorang diri di dalam unit apartemen. Pria itu membuka pintu, dan menemukan Belinda yang masih memakai piyama sambil membawa sebuah kotak di tangan kirinya. Wanita itu tersenyum, lalu menyodorkan kotak di tangannya kepada Waniar.

Cookies pesanan Kak Waniar sudah datang, selamat menikmati,” ujar Belinda dengan nada riang. Waniar tersenyum tanpa sadar, membuat mood-nya pagi itu menjadi lebih baik.

“Masuk dulu, Lin, gue buatin kopi.”

“Eh, nggak usah repot-repot, nggak enak gue sama Kakak lo,” tolak Belinda.

“Nggak apa-apa, Kakak gue juga lagi nggak di rumah, kok. Sekalian sarapan bareng,” bujuk Waniar. Entah ada dorongan dari mana ia bisa bersikeras begini, padahal biasanya ia menghindari untuk berinteraksi dengan orang lain. Belinda seperti mempunyai magnet yang bisa membuat semua orang nyaman bila bersamanya.

“Ya udah, kalau gitu gue mau,” ucap Belinda sambil tertawa kecil.

Waniar menuntun Belinda untuk duduk di meja makan, setelah itu ia menuju ke dapur untuk mengambil piring dan gelas untuk keduanya pakai. Setelah menyeduh kopi dan meletakkan beberapa cookies di piring, Waniar kembali ke area meja makan.

“Thank you, Wan,” ujar Belinda ketika menerima satu gelas kopi dari Waniar.

Keduanya menikmati sarapan pagi itu sambil mengobrol. Baru kali itu Waniar memiliki kesempatan untuk mengobrol panjang dengan Belinda. Padahal, biasanya mereka hanya membicarakan seputar pekerjaan saja dan tak pernah membahas hal lainnya.

By the way, gimana keadaan adik lo? Udah baikan?” tanya Belinda ketika ia melihat sebuah pigura yang terpajang di dinding area meja makan.

“Kayaknya udah lumayan, sih. Udah balik kayak biasa lagi pas Kakak gue dateng.”

Belinda mengangguk mengerti. “Baguslah kalau gitu. Gue juga ikut khawatir waktu itu, soalnya dia sempet nangis sesegukan pas balik ke ruang tengah.”

Waniar menoleh dan menatap Belinda dengan tatapan tidak percaya. “Dia sempet nangis lagi?”

“Iya, tapi waktu itu gue sempet tenangin jadi agak reda juga.”

Waniar menatap wanita di hadapannya lama. Padahal ia dan Samuel baru saja bertemu selama beberapa menit, tetapi Samuel bisa merasa tenang dan nyaman bersama Belinda. Wanita itu aneh, tetapi dapat membuat Waniar penasaran.

“Kak, temen gue kayaknya tertekan gara-gara lo, deh,” sahut Waniar ketika sedang berkumpul bersama Satria dan Samuel di ruang tengah unit apartemen milik Samuel.

Satria mengangkat alis bingung. “Kenapa emangnya?”

“Katanya aura lo ngeri, buat orang tertekan,” jawab Waniar sambil sedikit tertawa.

“Ada-ada aja, Wan. Emangnya gue se-mengerikan itu, kah?” ucap Satria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Lah, emangnya lo nggak sadar, Kak?” Samuel ikut mengangkat suara.

“Emangnya iya? Kok, gue nggak ngerasa gitu?”

“Lo nggak pernah ngerasain berhadapan sama diri lo sendiri, sih. Kan, kalau kita udah sering berhadapan sama lo, Kak.”

Waniar mengangguk-angguk saja, karena semua yang ingin dia sampaikan sudah diwakilkan oleh Samuel.

Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya benar apa yang dikatakan adik-adiknya.

“Oh iya, Kak. Lo sampai kapan di sini?” tanya Samuel setelah hening karena ketiganya sedang menikmati tontonan di TV.

“Sampai lo ngerasa lebih baik dan nggak aneh-aneh lagi,” jawab Satria tanpa menoleh kepada adiknya.

“Apa, sih, Kak. Gue nggak apa-apa, kok,” ujar Samuel sambil tertawa canggung.

“Terus yang gue lihat kemarin itu apaan, Sam?” Waniar menimpali. Jujur ia masih sangat khawatir dengan adiknya itu.

Samuel menatap Waniar takut-takut. Semalaman penuh Waniar terus menjaganya dan tidak pernah meninggalkan dia sendirian di dalam kamar. Waniar menunggu Samuel hingga pemuda itu bisa tertidur di pukul 3 pagi.

Satria mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Samuel dengan erat. Menyalurkan sebuah kekuatan yang bisa dirasakan dalam persaudaraan mereka.

“Gue nggak akan paksa lo untuk cerita, tapi gue cuman pengen lo tau kalau gue akan selalu ada dipihak lo sampai kapanpun. Mau seberat apapun langkah lo, dan sesakit apapun diri lo, gue selalu siap buat nyamperin lo,” Satria mendekat kepada Samuel demi bisa memeluk tubuh adiknya itu. Sebuah pelukan yang jarang mereka lakukan selama hidup bersama.

Waniar ikut mendekat dan memeluk keduanya walaupun merasa canggung.

“Kalau lo belum ngerasa baikan, mau coba ke psikolog, nggak?” tawar Satria.

Samuel menggeleng, ia merasa keadaannya tidak separah itu untuk dibawa menemui bantuan profesional.

“Ya udah, tapi nanti kalau lo emang butuh, kabarin gue aja, ya,” ucap Satria sambil mengelus kepala yang lebih muda.

“Sam, gimana menurut lo tentang partner gue tadi siang?” tanya Waniar saat keduanya sedang berbaring di atas sofa sambil menonton siaran televisi.

Samuel mengangkat alisnya sambil berpikir sejenak. “Menurut gue dia orangnya baik, sih. Dia tahu apa yang gue butuhin tadi. Dan yang gue lihat tadi, dia bisa nempatin dirinya sendiri di berbagai situasi berbeda.”

“Menurut lo, gue bakal cocok temenan sama dia, nggak?”

“Menurut lo gimana, Kak? Lo cocok nggak kerja sama dia, atau ada di sekitar dia?” Samuel menatap yang lebih tua dengan tatapan serius. Tidak biasanya sang kakak meminta pendapat darinya, sehingga ia ingin membantu sebisa mungkin.

“Selama ini, sih, gue nggak merasa terganggu sama kehadiran Belinda. Tapi, gue cuman nggak mau terlalu ngerepotin dia aja. Soalnya, dari yang gue denger dari karyawan lain, dia dipaksa buat pindah cabang, terus akhirnya disuruh jadi partner kerja gue.”

“Anjir, kasihan banget,” Samuel meringis sambil membayangkan betapa berat berada di posisi wanita itu.

“Menurut lo gue harus ngapain, Sam? Coba untuk akrab, atau kayak biasa aja?”

“Kalau lo mau, coba akrabin diri, deh. Kan, nggak tau kalian bakal kerja bareng sampai kapan.”

Waniar menundukan kepalanya, ia sedang mempertimbangkan masukan dari Samuel.


Saat Waniar tiba di kantor, matanya langsung tertuju kepada Belinda yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Waniar berjalan mendekat, ia ingin mencoba untuk mengakrabkan diri kepada Belinda. Pria itu berdeham pelan, mencuri atensi dari sang wanita.

Belinda yang tadinya fokus, langsung mendongakkan kepalanya demi melihat Waniar yang mencuri atensinya dari laptop di hadapan wanita itu. Melihat Waniar yang berdiri dengan tas di pundaknya membuat Belinda tersenyum kecil, tak lupa dengan sapaannya yang aneh.

“Udah bangun pagi ini?”

Waniar mengangguk saja, walaupun belum terbiasa dengan sapaan aneh dari partner-nya.

“Lo mau ikut gue ngadep produser, nggak?” tanya Waniar tanpa basa-basi.

“Mau serahin yang kemarin, ya? Ikut, deh.”

“Tapi nanti, setelah makan siang,” seru Waniar cepat saat Belinda sudah bersiap untuk berdiri dari tempatnya.

“Oh, bilang dong.” Belinda kembali menyandarkan tubuhnya.

Tanpa kata, Waniar langsung berbalik dan meninggalkan Belinda yang kembali sibuk. Namun, pria itu kembali lagi ketika teringat bahwa ia ingin menanyakan sesuatu.

“Kemarin lo kenapa?”

“Oh, engga. Kemarin gue cuman lagi overthink dikit. Maaf kalau tingkah gue yang kemarin aneh banget, gue nggak maksud, kok,” jawab Belinda dengan kikuk. Ia juga tidak mengerti kenapa pikirannya membawa ia melakukan hal yang memalukan seperti itu.

Sejujurnya, ia juga tidak siap dengan respons Waniar kepadanya hari ini.

“Santai aja, Lin. Lo kalau mau temenan nggak apa-apa, sih. Lagian, kita itu partner, jadi harus bisa deket, kan?”

Belinda menatap Waniar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Saat itu, ia bisa melihat sisi lain dari Waniar yang tidak ia tunjukan kepada orang-orang di sekitarnya.