yoondiction

Jeffry baru saja bangun dari tidurnya, hendak mengambil minum di dapur, ketika ia mendapati William yang sedang tidur di sofa ruang tamu, masih lengkap dengan jaket dan baju kerja yang ia gunakan kemarin. Tak jauh darinya, ada gitar yang tergeletak tidak berdaya, dan juga tas kerja yang isinya sudah jatuh berserakan.

Jeffry mendekat ke arah sang Adik, lalu perlahan melepaskan jaket dan kemeja yang masih melekat di tubuh pemuda itu, menyisakan kaos hitam yang sudah basah dengan keringat. Diliriknya buku-buku jari tangan kiri William yang terbungkus plester, sepertinya ia mengalami malam yang panjang bersama gitar kesayangannya.

Sang Kakak menghela nafas berat, emosi yang ia rasakan kemarin perlahan diganti oleh kelegaan. Setidaknya sang Adik pulang dengan selamat. Sembari menunggu William bangun, Jeffry memutuskan untuk menyiapkan sarapan dan mencuci baju-baju kotor William yang menumpuk, menunggu pemiliknya sadar.

2 jam setelahnya, saat Jeffry tengah sibuk dengan pekerjaannya, William terdengar mengerang kecil, membuat Jeffry langsung datang menghampiri. William membuka matanya perlahan, masih beradaptasi dengan cahaya yang masuk. Setelah itu ia menoleh ke arah sang Kakak yang sedang berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya sangat menjelaskan kalau pemuda itu sedang marah.

William perlahan duduk menghadap yang lebih tua, bersiap menerima sumpah serapah dan amarah.

“Ke mana aja lo semalam?” tanya Jeffry dengan nada dingin.

William menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung ingin menjelaskan.

“Di alun-alun,” jawab William dengan suara pelan.

“Kenapa nggak diangkat teleponnya?”

Handphone gue mati.”

“Emang nggak berguna, ya, itu handphone, dibuang aja, udah.” ujar sang Kakak masih dengan amarah yang memuncak.

William menghela nafasnya, merasa bersalah. “Maaf, Kak, gue nggak kasih kabar dulu. Maaf udah bikin lo khawatir. Maaf gue nggak bisa dihubungi kemarin.”

“Lo kalau ada masalah, tuh, cerita. Biar gue ngerti. Ngomong, kalau pengen sendiri, jangan buat seakan-akan nggak ada yang peduliin lo gitu,” ucap Jeffry, membuat William tertunduk sempurna.

“Gue bingung kemarin, gue pusing, gue nggak tahu harus ngapain. Gue pilih satu-satunya jalan yang bisa bikin gue lari dari masalah gue.”

“Apa? Ngilang?”

William terdiam.

Jeffry menghela nafas berat, kemudian mendekat ke tempat adiknya duduk, lalu mengusao kepalanya pelan, “Intinya, jangan lupa kabarin gue. Gue nggak masalah kalau lu mau nongkrong sampai pagi, mau minum-minum, mau mendaki ke mana juga, terserah. Yang penting, kabarin gue.”

William mengangguk, diam-diam merasa bersalah sudah membuat Kakaknya yang sibuk ini khawatir.

Jeffry menjauhkan tangannya, lalu berbalik menuju dapur.

“Sini, makan dulu. Gue udah masak.”

William menurut, dan segera beranjak ikut ke dapur.

“Lo buka baju gue, ya, Kak?” tanya William ketika ia sadari kini dirinya hanya memakai kaos.

“Iya, soalnya lo keringetan tadi,” jawab Jeffry sembari memberikan piring kepada sang Adik.

“Oh, iya. Gue kemarin sempet kabarin Kak Satria dan kayaknya dia agak marah. Tapi, nanti gue yang urus, lah. Lo makan aja dulu.”

William yang sedang menyendokkan lauk sontak berhenti dan memandang Jeffry dengan pandangan horror. Sang Kakak meringis saja, dan menepuk kepala William pelan, “Udah, nggak apa-apa, gue yang ngomong nanti.”

Tetap saja, William sudah tidak punya selera makan lagi, ia ingin mati sekarang juga.

Masih dengan nafas yang terpatah-patah, William menepi ke pinggir lapangan dan duduk di sebelah Tari yang juga ikut dalam permainan tenis mereka hari itu. Awalnya Gio hanya mengajak William saja, tetapi ternyata Tari dan beberapa rekan mereka juga ingin bergabung. Jadi, di sinilah mereka. Berganti-gantian untuk menonton dan bermain tenis bersama.

William membuka botol air, lalu meneguk setengah isinya. Menghempaskan rasa haus dan lelah yang menyerangnya saat bermain melawan salah satu rekan yang cukup tangguh.

“Kayaknya capek banget ya, Kak?” ujar Tari sambil tertawa saat melihat wajah William yang sudah memerah.

“Iya. Gila, Bang Jalu jago banget. Aku nggak bisa ngimbangin,” balas William sambil mengatur nafasnya yang belum pulih.

Tari tertawa lagi, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan lagi. “Tapi, ya, Kak, ini perasaan aku aja atau gimana, kamu kayak kelihatan berlebihan ngeluarin tenaganya. Lagi ada yang dipikirin, ya?”

Pertanyaan Tari membuat Willam terkejut. “Emang kelihatan banget?”

“Kamu kayak lagi ngelampiasin sesuatu gitu. Mainnya kayak pakai emosi. Bukan hanya pas sama Kak Jalu aja, sama Kak Hasan juga gitu tadi,” ucap Tari sambil menatap wajah William lekat-lekat.

William menghela nafasnya berat. Memang benar, iya sedang mencoba melampiaskan perasaannya saat ini, karena menghadapi dan memikirkan Fanny benar-benar mengacaukan kewarasannya.

“Kakak ada masalah sama pacar Kakak?” pertanyaan Tari tepat menusuk di jantungnya.

“Ya, gitulah, Tar. Masalah komunikasi aja, sih. Dia lagi di luar kota sekarang, tapi belakangan chat-ku nggak dibalas. Aku jadi bingung, khawatir, dan takut. Apalagi, aku nggak tau kapan dia bakal pulang, jadi kayak… aku buta sama keadaannya.”

Tari yang mendengar itu jadi terdiam, bingung bagaimana meresponi cerita William.

“Kakak sempat coba chat di aplikasi lain, nggak? Kayak ke Instagram, atau Twitter?”

“Sempat. Disuruh sama saudaraku. Siapa tau dibalas.”

“Terus, dibalas, nggak?”

William menggeleng, membuat Tari kembali terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Menurut kamu… Kemungkinannya dia ke mana, Tar?”

“Kakak mau aku ngomong jujur, atau nggak?”

William menelan ludahnya kasar, sepertinya yang saat ini dia butuhkan adalah perkataan menenangkan, jadi ia putuskan untuk menggeleng.

“Karena kakak bilang dia lagi di luar kota, ada kemungkinan dia ada di tempat yang dekat pantai atau pulau-pulau gitu. Bisa aja handphone-nya kecebur ke laut, atau nggak rusak selayar-layarnya, dan nggak ada tempat service handphone atau nggak ada yang jualan handphone.”

Perkataan Tari malah membuat kepala William kembali sakit. Tidak masuk akal, tetapi tetap ia terima.

“Iya, terima kasih, Tari. Walaupun tidak menenangkan, tapi terima kasih sudah berusaha.”

Balasan William membuat Tari tersenyum kecut, ternyata tidak membantu, ya?

“Sekian untuk hari ini, terima kasih atas kerja samanya!” ucap William menutup kegiatan mereka malam hari itu. Dilepaskannya headphone yang ia kalungkan dan meletakkannya di sebelah monitor. Sambil mendorong sedikit kursinya ke belakang, William merenggangkan tubuhnya.

“Kak William, boleh ngomong sebentar?” ucap Tari yang baru saja akan bersiap-siap berdiri.

“Kenapa, Tar? Ada yang mau kamu ulangin?” tanya William sambil berbalik menghadap kepada Wanita yang lebih muda darinya itu.

“Engga, Kak. Cuman mau nanya, Kakak besok sibuk nggak?”

William terlihat berpikir sejenak. “Nggak terlalu sibuk, sih, palingan ada janji aja. Kenapa emangnya?”

“Besok mau dinner bareng, nggak, Kak? Sebagai ucapan terima kasih juga,” ujar Tari sambil merapikan barang bawaannya.

“Aduh, kalau dinner nggak bisa, Tar. Aku udah ada janji sama pacarku,” balas William.

Tari menghentikan pergerakannya, lalu menatap William dengan panik, “Eh, sorry, Kak. Aku nggak tahu kalau Kak Will udah punya pacar. Maaf ya, aku udah lancang ngajak dinner.”

William tertawa kecil menanggapi kepanikan Tari, “Nggak apa-apa, Tar. Kamu juga nggak ada maksud apa-apa, kan? Santai aja, pacarku nggak galak, kok.”

“Ya… tetep aja, Kak, aku ngerasa nggak enak.”

“Kalau mau tetep dinner, nanti cari waktu lain aja, kita sesuaiin jadwal masing-masing.”

“Beneran nggak apa-apa kalau aku ajak Kak Will dinner?”

“Nggak apa-apa harusnya, Tar. Kenapa kamu jadi nggak enak gitu?” ujar William sambil terkekeh. “Nggak enak sama pacar kakak, takutnya dia mikir macem-macem.”

“Santai aja, Tar. Dia juga nge-fans sama kamu, jadi harusnya dia bolehin.”

“Eh, dia nge-fans sama aku? Aduh jadi makin nggak enak,” ujar Tari sedikit panik.

William tertawa saja melihat reaksi Tari, “Kalau emang nggak enak, izin langsung aja, Tar. Santai kok orangnya.”

“Duh, ya udah deh, Kak. Nanti selanjutnya lewat chat aja, sekalian cocokin jadwal sama aku izin dulu ke pacar kakak,” ucap Tari akhirnya. Ia kemudian berpamitan untuk segera keluar dari studio, karena harus menyelesaikan beberapa hal lagi.

Sepeninggalan Tari, William mengeluarkan ponselnya untuk mengecek beberapa notif yang belum sempat ia baca selama ia dalam mode ‘do not disturb’.

Ada beberapa notif dari grup keluarganya, juga dari Ibunya. Ia sempatkan membaca hampir 200 chat yang dikirimkan para saudaranya di grup, lalu ia beralih kepada ruang chat sang Ibu yang bertanya beberapa hal kepadanya.

Hazel: HAI SEMUA!

Januar: Jangan teriak-teriak, Hazelio.

Hazel: Hehe. Maaf, gue kangen banget soalnya.

Waniar: Jangan bikin muntah, tolong.

Hazel: Jangan jahat-jahat dong sama gue.

William: Kak, lo baru banget balik, kan?

Hazel: Iya, kenapa?

William: Udah bersih-bersih belom?

Hazel: Oh, iya. Bentar, ya, nanti gue balik lagi.

Januar: Kebiasaan, deh.

William: Lagi ngapain, Wan? Kenceng amat suara keyboard lu.

Waniar: Biasalah, sumber stress gue.

William: Kadang gue kasihan sama lo, tapi gue juga harus kasihanin diri gue sendiri, anjir.

Januar: Aduh, kasihan banget budak-budak kerjaan ini.

Waniar: Lah, lu juga budak kerjaan, anjir.

Januar: Sorry, boss, Gue lagi free.

William: Tumben?

Januar: Lagi persiapan ke luar negeri.

Waniar: Ke mana?

Januar: Jepang.

William: Anjir, mau ikut, dong.

Januar: Ayo ikutan, kalau bisa.

William: Ah, sialan. Gue lagi sibuk-sibuknya, lagi.

Waniar: Project lu udah sampai mana, Will?

William: Aransemen-nya udah beres, udah mau ke tahap recording.

Hazel: EH, SPILL DONG TANGGAL-NYA.

Waniar: ANJING. Jangan teriak-teriak, Hazelio! Volume Headphone gue full, lama-lama gue budek gara-gara lo.

William: Tau, nih. Mana volume laptop-nya juga gue full-in.

Hazel: Maaf, guys. Nggak sengaja.

William: Nggak dimaafin.

Hazel: Ih, jangan gitu. Mendingan lu spill aja tanggal lagunya rilis.

William: Nggak dulu, itu rahasia.

Hazel: Nggak bisa pakai orang dalem, ya? Gue mau, please.

William: Nggak.

Hazel: Yahhh.

Hazel: Eh, btw, kalian udah bahas apa aja selama gue ganti baju?

Waniar: Nggak banyak, sih. Itu, si Januar mau ke Jepang.

Hazel: Eh, kapan? Biar gue susulin.

Januar: Masih rada lama, sih. Nanti gue kabarin, deh.

Hazel: Ngapain lu ke Jepang?

Januar: Kerja, lah. Gue ada syuting, di sana.

Waniar: Eh, film baru?

Januar: Iya. Palingan rilisnya 6-7 bulan lagi. Tungguin aja.

Hazel: Asik, project baru lagi, nih. Lawan mainnya siapa?

Januar: Nggak usah kepo, nanti juga lu tahu sendiri.

Hazel: Apa, sih, nggak asik.

Hazel: Eh, Will, gimana calon pacar gue.

William: Stop halu.

Hazel: Gue cuman nanya, anjir. Si Tari gimana?

William: Baik.

Hazel: Ih, anjir, gitu doang? Lu cuek-cuek gini ntar Fanny capek, lho.

William: Gue yang capek duluan.

Waniar: Hah?

Hazel: HAH? GIMANA, WILL?

Januar: Tumben...

Hazel: Lo ada apa sama Fanny, Will?

William: Nggak, gue lagi capek aja. Gue ngerasa dia lagi jauh aja, kayak hampir lepas dari genggaman gue.

Waniar: Kenapa lo bisa ngerasa gitu?

William: Aduh, susah. Kayak yang kalian tahu aja, gimana gue sama Papi-nya.

Hazel: Masalahnya dari dulu dari bokap-nya mulu, ya. Lo mending nyerah aja, dah.

William: Maunya gitu, tapi gue masih sayang banget. Kak Jeff juga berkali-kali nyuruh gue untuk nyerah, tapi gue nggak mau.

Waniar: Ya, gimana. Emang itu satu-satunya jalan untuk kalian. Mau dipaksain juga mentok, Will.

Januar: Kalau lo udah sampai capek gitu, udah emang limit lo segitu, Will. Jangan dipaksain lagi, nanti ujung-ujungnya kalian sama-sama sakit.

William: Aduh, anjir, gue bingung.

Hazel: Hal ini udah pernah kita omongin, lho, Will. Cuman lo aja yang batu banget.

William: masalahnya, gimana gue ngomong ke Fanny kalau gue pengen udahin ini, dia pastinya mau gue untuk tetap berjuang.

Januar: Lo ngomong aja pelan-pelan, Will. Komunikasiin, baru bisa lu ambil keputusan buat berdua.

Waniar: Intinya balik lagi ke diri lo sendiri, sih, Will. Mau Kak Jeff atau Kak Satria yang ngomong, pasti lo tetap nggak akan gerak.

William: Ya udah, nanti gue renungin dulu, terus gue coba obrolin pelan-pelan.

Hazel: Nah, gitu. Sekarang mendingan kita nonton, deh, biar lo nggak nambah bingung.

Waniar: Kerjaan gue belom selesai, woi.

Hazel: Yah, budak kerja ini belom selesai, yang cepet dong, ganteng.

Waniar: Bacot. Tungguin gue.

Suara gitar masih berbunyi nyaring ketika William tiba-tiba saja merasakan nyeri pada kepalanya. Secara mendadak ia menghentikan segala aktifitasnya, dan segera meraih botol air di dekatnya. Tindakan pemuda itu sontak membuat rekan-rekannya ikut menghentikan kegiatan mereka.

“Kenapa, Will?” tanya salah seorang rekannya yang berpostur tubuh agak gempal.

“Gue tiba-tiba sakit kepala, Bang. Izin bentar, ya,” ucap pemuda itu sambil memijit pelipis kirinya.

“Eh, kok, tiba-tiba. Lo nggak apa-apa?” tanya rekan kerjanya yang lain. William mengangguk pelan, lalu segera berjalan keluar dari studio, meninggalkan Tari dan beberapa rekan kerjanya di dalam ruangan.

William berjalan menuju pantry kantor, ingin mencari sesuatu yang dapat meredakan sakit kepalanya. Sesampainya pantry, William segera mengambil gelas dan daun teh yang tersisa beberapa lembar lagi. Diseduhnya teh, lalu ia duduk di salah satu kursi yang ada di dalam pantry.

Sambil menunggu teh-nya dingin, William mengeluarkan ponselnya dan menekan salah satu nomor dari kontak telepon. Terdengar bunyi berdering dari benda yang ada di genggaman tangannya, lalu tak lama sang penelepon mendapat jawaban dari seberang.

“Halo, Will. Kenapa?” tanya suara dari seberang dengan setengah berbisik.

Merasa ada yang aneh, William langsung bertanya, “Kamu di mana, Fan?”

“Lagi nemenin Papi ketemu kolega, Will. Ini aku misahin diri dulu tadi,” jawab sang kekasih.

William menghela nafasnya, sepertinya ia harus menangani sakit kepalanya sendirian.

“Kenapa, Will? Kamu ada masalah? Atau kamu lagi pengen main? Aduh, aku nggak bisa kalau main, Will. Papi mau aku temenin sampai malam, aku nggak bisa kasih alasan apa-apa.”

William memijit pelipisnya pelan, kepalanya bertambah pusing.

“Kepalaku lagi sakit, Fan. Tadinya aku pengen kamu dateng ke studio, tapi sekarang udah mendingan jadi nggak usah,” balas William setengah berbohong. Keadaannya tidak semakin membaik, malah bertambah sakit.

“Kamu yakin nggak apa-apa? Aduh, aku pengen lihat keadaan kamu secara langsung, tapi susah.”

“Udah, nggak apa-apa, Fan. Kamu temenin Papi aja, takutnya nanti Papi kamu makin nggak suka sama aku karena kamu nyamperin aku ke sini,” balas William sambil terus memijat pelipisnya.

“Maaf, ya, Will. Aku bakal terus bujuk Papi biar bisa nerima kamu, kok, tenang aja.”

William lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya. Ia sudah tahu, mau sekeras apapun usaha Fanny membujuk Papi-nya, William tidak akan pernah diterima oleh pria itu.

“Eh, Will, udah dulu, ya. Asisten Papi udah manggil aku. Nanti kalau makin parah, kasih tahu aja, ya. Dadah.” Fanny segera menutup telepon sebelum William sempat untuk membalas.

Hubungannya bersama Fanny memang cukup rumit. Papi-nya tidak merestui hubungan sang putri bersama dengan William, walau pemuda itu sudah menjadi produser muda yang sukses. Posisinya jelas berbeda dengan para anak-anak dari kolega-nya yang jelas akan mewarisi perusahaan keluarga, atau dengan para pria yang memiliki pekerjaan stabil. Mereka jelas sudah mendapatkan lampu hijau dari sang Papi, dan William tetap tidak akan pernah bisa mendapatkan itu.

Diseruputnya teh yang sudah mendingin, kembali berpikir apakah jalan yang ia ambil sudah benar atau malah sebaliknya. Apakah ini balasan karena dulu ia menentang sang Ayah? William menggeleng pelan, menghapus segala kemungkinan yang terlintas di kepalanya.

Kepalanya lagi-lagi bertambah sakit. Sepertinya ia harus segera beristirahat. Ia segera menghabiskan teh yang ia seduh, lalu berjalan kembali menuju studio.

William mengetuk pintu ruangan meeting dengan pelan, lalu segera masuk ke dalamnya. Saat pintu sudah terbuka, tampaklah Tari yang sedang mengobrol berdua bersama sang manager. Melihat kedatangan pemuda itu, Tari segera berdiri dan memberi salam.

“Ah, halo. Aku Tari Laura,” ucap Tari memperkenalkan diri.

“Halo, Tari. Saya William, produser yang bakal bantuin kamu,” ucap William sambil melempar senyum tipis kepada Tari.

“Oh, maaf, Kak. Aku nggak tahu tadi,” ujar Tari sambil sedikit menundukan kepalanya.

William mengangguk saja, kemudian duduk di bagian paling ujung meja meeting mereka. Diletakkan laptop yang ia bawa ke atas meja, lalu membukanya untuk menyiapkan beberapa hal yang ia butuhkan.

“Kak, itu tadi Kak Gio ke mana, ya?” tanya Tari secara tiba-tiba.

“Ada urusan sebentar. Kita tunggu dia balik dulu, ya, terus mulai,” jawab William sambil terus fokus dengan laptopnya.

Tak lama setelah itu, Gio kembali masuk ke dalam ruangan bersama beberapa orang lainnya.

Sorry udah buat kalian nunggu. Ayo kita mulai,” kata Gio, membuka pertemuan pagi itu.

Pada pertemuan pagi itu, mereka membahas banyak hal. Mulai dari perkenalan tim, hingga menentukan konsep, genre, dan lirik lagu yang akan mereka ciptakan.

Awalnya, William berpikir bahwa Tari adalah gadis tomboi yang tegas dan tidak banyak bicara. Ternyata, Tari salah gadis yang sangat ekspresif dan banyak mengeluarkan celetukan dari bibirnya.

Banyak sekali ide-ide yang gadis itu keluarkan, membuat meeting itu jauh lebih panjang dari waktu yang ditentukan.

Melihat Tari yang mempunyai banyak ide menarik, membuat William kembali berpikir tentang konsep yang akan ia berikan kepada gadis itu.

Setelah pembahasan mengenai konsep sudah selesai, maka tiba saatnya mereka membahas genre dan lirik lagu. Inilah saat yang telah Tari tunggu-tunggu, ia sudah menyiapkan beberapa hal untuk ditampilkan di ruang meeting tersebut.

“Kak, aku mau nunjukin lagu yang aku tulis sendiri. Mungkin bisa jadi pertimbangan buat dikembangin, atau boleh juga buat nulis lagu baru,” ucap Tari sambil meraih gitar yang William bawakan tadi.

William memusatkan perhatiannya kepada Tari. Ketika gadis itu mulai bernyanyi, William seketika menyadari satu hal. Tari memang terlahir untuk menjadi seniman. Petikan gitar, lirik lagu, dan suaranya yang indah membuat semua orang di dalam ruangan itu terpukau.

Setelah menyelesaikan bait terakhir dari nyanyiannya, Tari tersenyum kikuk kepada orang-orang yang tengah memperhatikannya. “Gimana, Kak?” tanya Tari, meminta pendapat.

William mengangguk saja, ia sedang memikirkan beberapa rancangan yang akan dia lakukan kedepannya dengan kemampuan yang Tari miliki. “Bagus, Tar. Nanti palingan aku mikirin aransemennya kayak gimana dulu. Kamu pernah bikin demo lagunya, nggak? Kalau ada, tolong dikirim, ya.”

“Ada, Kak. Tapi ada di hardisk. Nanti aku pindahin dulu.”

William mengangguk sekali lagi, lalu kembali meneruskan meeting hingga melewati jam makan siang.

Meeting-nya sampai di sini aja, untuk selebihnya bisa kita lanjutin pertemuan selanjutnya.”

William membereskan barang bawaannya, lalu berpamitan kepada Gio dan Tari yang masih berbincang serius.

“Eh, Kak. Aku boleh minta nomer kamu, nggak? Untuk ngirim demo lagu, sama buat diskusi,” pinta Tari sambil mengeluarkan ponselnya.

“Boleh, kok,” jawab William sambil menerima sodoran ponsel dari Tari.

Feel free buat ngehubungin aku kapan aja, ya, Tari,” ucap William kemudian.

Tari mengangguk senang, lalu melambaikan tangannya ketika William kembali berpamitan untuk keluar terlebih dahulu.

Fanny membuka pintu studio William dengan hati-hati. Di kedua tangannya terdapat banyak tentengan yang berisikan makanan untuk William. Gadis itu diam sejenak, ketika ia melihat William yang tengah sibuk dengan monitor di depannya.

Tak mau mengganggu, Fanny memutuskan untuk duduk di sofa studio. Sembari menunggu, ia mengeluarkan isi tentengannya ke atas meja, agar William bisa langsung menyantap makanan yang ia bawa.

Fanny mengeluarkan iPad yang ia bawa, hendak menonton film sambil menunggu kekasihnya yang belum menyadari keberadaan gadis itu di dalam studio.

30 menit berlalu, William tiba-tiba saja membanting headphone yang ia kenakan. Pemuda itu mengacak rambutnya yang berantakan, lalu memundurkan kursinya pelan.

Fanny yang terkejut melihat kejadian tersebut hanya bisa diam, otaknya berusaha memproses dengan cepat.

Tak lama, William berdiri dari tempatnya, lalu berbalik memandang kekasihnya yang diam mematung.

“Udah lama nunggunya?” William bertanya santai, seakan-akan tidak terkejut dengan kehadiran Fanny.

“Engga…, baru setengah jam, kok,” jawab Fanny dengan suara pelan.

“Mau makan dulu?” tanya Fanny yang prihatin melihat keadaan kekasihnya yang cukup ‘kusut’.

“Boleh, aku mau istirahat bentar.”

William mengambil posisi duduk di hadapan Fanny. Dengan tenang ia menunggu Fanny yang sedang membuka tutup tempat makan.

“Ayo dimakan, Will.”

William mengambil sendok yang Fanny sodorkan, lalu dengan segera ia menyantap hidangan yang tersedia di depannya. Fanny menatap kekasihnya itu dengan senyuman, ia sangat senang jika William memakan masakannya dengan lahap.

“Gimana masakanku kali ini?” tanya Fanny setelah William sesudah menyelesaikan makannya.

“Enak, seperti biasa,” jawab William sambil membersihkan bekas makanannya.

“Kamu kenapa tadi ngebanting headphone? Lagi ada masalah?”

William diam sejenak, lalu menjawab, “file rekamannya hilang, padahal udah deket tanggal rilis.”

William menghembuskan nafasnya kasar, merasa pusing seketika. Fanny meraih tangan William, dan menggenggamnya erat, menyalurkan semangat untuk kekasihnya itu.

“Jadinya gimana sekarang? Udah kamu cari di folder lain?”

“Udah, tapi tetap nggak ada. Aku udah hubungin Kak Gio, sih, siapa tahu dia bisa ngebantu,” jawab William sambil mengusap punggung tangan sang kekasih.

“Semoga Kak Gio bisa ngebantu. Kamu tenang, ya, jangan dibawa stres.”

Tak lama, pintu studio William dibuka secara tiba-tiba. Menampilkan wajah yang familiar bagi Fanny.

“Will, gimana ceritanya bisa hil—.”

Ucapan pemuda itu terputus ketika melihat Fanny dan William yang tengah bergenggaman tangan. Ia menampilkan senyum tipisnya, lalu menyapa Fanny.

“Halo, Fan. Gue nggak tahu lo lagi mampir.”

“Halo, Kak Gio. Maaf ganggu waktu kerjanya,” balas Fanny sambil membalas senyum tipis pemuda berkulit pucat itu.

“Nggak apa-apa. Gue pinjem William dulu, ya,” ucap Gio sambil memberi kode kepada William untuk mengikutinya keluar dari studio.

“Tunggu, ya, Fan. Nanti aku balik lagi,” ucap William sebelum ia beranjak berdiri, mengikuti Gio yang sudah keluar dari ruangan.

Sembari menunggu, Fanny membereskan alat-alat makan yang tadi dipakai, ia kembali memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa. Tak sampai 10 menit kemudian, William kembali masuk ke dalam studio, wajahnya terlihat lebih kusut dari terakhir kali ia meninggalkan ruangan.

“Fan, sorry. Kayaknya kamu mending pulang aja, aku mau ngeberesin masalahku dulu. Studionya mau dipakai, nggak enak kalau ada kamu,” ucap William sambil menyerahkan cardigan milik Fanny yang ia simpan di studio.

“Oh, ya udah. Aku pulang, ya, semoga masalahnya cepat selesai. Kabarin aku kalau ada apa-apa,” balas Fanny sambil mengambil cardigan miliknya dari tangan William.

“Kabarin aku kalau udah sampai, ya.” Fanny yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian melambai kepada William dan berjalan keluar dari ruangan.

Satria akan mengadakan acara reuni kecil-kecilan di salah satu restoran yang berada di tengah kota. Ia sudah menyewa satu restoran hanya untuk acara ini. Tentu saja ketiga adiknya akan ikut di malam nanti, dan diperbolehkan untuk membawa teman mereka masing-masing.

“Lo nggak ngajak partner lo, Kak?” tanya Samuel kepada Waniar yang sedang membongkar lemari pakaiannya.

“Udah gue ajak, bentar lagi udah mau nyampe,” jawab Waniar yang sedang mencoba kemeja biru miliknya.

“Ini perasaan gue aja, atau emang badan lo tambah gede, Kak?” tanya Vincent yang datang entah dari mana.

“Nggak, kok, biasa aja,” balas Waniar sambil memperhatikan bentuk tubuhnya dari cermin. Kemudian, ia kembali melepaskan kemeja biru yang ia pakai, terhitung sudah ada 4 kemeja yang ia coba, tetapi tidak ada yang cocok menurutnya.

“Udah pada siap belom?” tanya Satria dari ambang pintu kamar, ia sudah rapi dengan kemeja dan celana kain hitam.

“Kak Waniar belom, Kak. Dari tadi sibuk nyoba baju mulu,” ujar Samuel sambil bangkit dari posisi duduknya.

“Kenapa, sih, Wan? Lo pakai baju buat ngantor juga nggak apa-apa, kali. Santai aja,” kata Satria sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“10 menit lagi kita jalan, ya. Pakai yang bikin lo nyaman aja,” lanjut sang Kakak. Kemudian pemuda berusia 26 tahun itu melangkah pergi dari tempatnya berdiri, sepertinya ingin menelepon seseorang.


Restoran yang Satria sewa sudah dihias sesuai dengan request dari pria itu sendiri. Ada beberapa meja bundar yang disusun di tengah-tengah restoran, ditambah dengan panggung kecil untuk band yang telah Satria hubungi, tak lupa di setiap meja diletakkan satu lilin beraroma lavender. Di beberapa titik juga diletakkan meja-meja untuk aneka minuman dan dessert.

Satria, ketiga adiknya, serta Belinda yang ikut dalam acara itu, duduk di salah satu meja bundar yang terletak di tengah ruangan. Mereka datang satu jam sebelum waktu acara yang ditentukan, karena Satria perlu menyiapkan beberapa hal.

“Kalian kalau mau, pesen aja duluan, nanti gue barengan sama yang lain,” kata Satria ketika sudah sekitar 15 menit mereka menunggu.

“Nanti barengan aja, Kak,” balas Waniar sambil melihat arloji di pergelangan tangannya. Satria mengangguk saja, lalu berpamitan sebentar untuk menjemput tamunya di luar.

“Jadi, lo juga adiknya Waniar, ya?” tanya Belinda kepada Vincent yang dari tadi hanya diam.

“Iya, Kak.”

“Wow. Kalian sebenarnya berapa bersaudara, sih?” Waniar yang mendengar itu langsung menatap kedua adiknya dengan sedikit panik.

“Nanti juga lo tau sendiri, Kak.” Samuel yang menjawab, membuat Waniar menatapnya heran.

“Oh, ya udah.”

Tak lama, Satria kembali ke dalam restoran bersama serombongan orang yang mengikutinya. Ia terlihat merangkul seseorang yang sepertinya merupakan teman dekat si sulung. Keempat orang yang sedang duduk itu tidak menyadari kedatangan Satria, sampai pria itu sendiri yang menghampiri mereka.

“Ada temen gue, disapa dulu,” ucap Satria kepada keempat orang di hadapannya. Keempatnya berdiri lalu menyapa segerombolan orang tersebut.

“Kenalin, ini adik-adik gue, terus yang cewek ini temennya adik gue. Nah, terus kenalin ini temen deket gue pas SMA, kita sering main bareng dan masih kontakan sampai sekarang,” ucap Satria memperkenalkan mereka satu sama lain.

“Halo, semua. Gue Juanda, temennya Satria, dan ini adik gue bareng temen-temennya, izin gabung, ya,” ucap Juanda memperkenalkan diri. Sehabis itu, ia bergeser sedikit untuk memperkenalkan adiknya.

Saat itu, tubuh Samuel langsung menegang, kepalanya terasa sangat pusing hingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Adik Juanda adalah si abang-abangan kampus, Arjuna. Keduanya bertatapan, membuat Samuel seketika mual. Arjuna sendiri keringat dingin, masih terbayang-bayang perkataan Bevilin tempo hari.

“Ayo, duduk dulu sambil nunggu yang lainnya. Kalau mau, pesen makan aja dulu, yang lain bisa nyusul.” Ucapan Satria memutuskan kontak mata antara keduanya. Samuel perlahan-lahan berusaha mengendalikan dirinya, berupaya untuk tetap bertingkah normal di depan Kakaknya. Samuel diam-diam melirik gerombolan tersebut, dan menemukan Bagas di tengah-tengah mereka, juga beberapa orang yang selama ini selalu mengikuti Bagas.

“Gue mau pesen makan, kalian juga mau, nggak? Biar disatuin,” kata Waniar sambil membuka menu di hadapannya. Vincent juga mengikuti, sepertinya pemuda itu juga sudah lapar.

“Gue mau,” balas Belinda juga ikut membuka menu. Sedangkan Samuel menggeleng, sepertinya ia tidak selera makan malam ini.

Acara tersebut berjalan cukup lama, membuat Samuel gelisah walaupun ia tahu Arjuna tidak akan berani untuk mengganggunya. Kegelisahan Samuel semakin bertambah ketika Satria dan Juanda bersama Arjuna berjalan menuju meja di mana ia duduk.

“Hai, sorry, kalau selama acara gue nggak ngobrol sama kalian, ya. Banyak banget yang harus gue sapa soalnya,” kata Satria saat ia duduk di meja yang Samuel tempati. Begitu juga dengan Juanda dan Arjuna yang duduk tepat di hadapannya.

“Santai aja, Kak. Ini juga acara lo, nggak enak kalau nggak membaur,” balas Waniar sambil menyesap kopi miliknya.

“Oh iya, gue belom kenalin temen gue ini secara lengkap, jadinya gue bawa dia balik lagi.”

“Apa, sih, Sat. Santai aja kali. Gue juga nggak penting-penting amat,” ucap Juanda sambil tertawa keras.

“Dia ini alumni kampus lo, Sam. Adiknya juga sekampus sama lo, kenal, nggak?” Pertanyaan Satria membuat Samuel lagi-lagi bertatapan dengan Arjuna. Dengan gerakan lambat ia menggeleng sambil tersenyum canggung.

“Padahal kalian sejurusan, lho, emangnya nggak ketemu di kampus?” tanya Satria sekali lagi.

“Sejurusan? Berarti sefakultas sama gue dong?” potong Juanda, membuat perhatian Samuel beralih kepada teman kakaknya itu.

“Iyalah, Ju.”

“Widih, keren. Lo kenal dia nggak, dek? Dia ini adiknya pemilik RAV group, lho, masa nggak kenal?” tanya Juanda kepada Arjuna. Yang ditanya hanya menggeleng sambil berusaha mencerna informasi. Samuel adalah adik pemilik RAV group? Perusahaan besar itu?

“Gue emang nggak terkenal, Kak. Nggak ada yang tahu kalau gue adiknya pemilik RAV group,” jawab Samuel sambil tersenyum kaku.

“Keluarga gue emang nggak ngumbar identitas, Ju. Lagian nggak ada untungnya juga buat ngumbar-ngumbar kayak gitu,” ujar Satria sambil merangkul Vincent yang berada di sebelahnya.

“Lho, rugi dong. Kan, untung bisa gampang magangnya?”

“Kakak ngelarang kita magang di Perusahaan, Kak,” jawab Waniar yang dari tadi hanya diam saja.

“Terus kalian magangnya gimana?”

“Kak Satria biasanya bakal bantu cariin, dan keterima atau enggaknya terserah dari Perusahaan.”

Juanda mengangguk-angguk saja, diam-diam merasa kagum dengan cara Satria tidak memanjakan adik-adiknya.

“Emang, sih, kenalannya banyak banget. Gue aja bisa dapat banyak relasi karena dia. Gue juga bisa bantuin adik-adik tingkat gue buat magang karena dia. Gelar Bintang Kampus gue nggak akan ada apa-apanya kalau bukan karena Kakak kalian ini.”

Samuel lagi-lagi melakukan kontak mata dengan Arjuna. Pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia merasa malu sekarang. Ternyata hal yang selama ini ia banggakan berasal dari ikatan keluarga Samuel. Hal-hal yang selama ini ia pakai untuk merendahkan Samuel malah berbalik ke arahnya.

“Kakak kalian ini orang hebat tahu, kesuksesan gue sekarang juga berkat dia,” ujar Juanda sambil menepuk-nepuk pundak Satria.

“Lo juga hebat. Bantuan gue nggak akan ada apa-apanya kalau lo sendiri nggak berusaha.”

Juanda tertawa, lalu menepuk pundak adiknya pelan. “Nah, sekarang lo udah kenal sama adiknya Satria, kan? Baik-baik, ya, sama dia di kampus, soalnya kalau bukan karena Kakaknya gue nggak akan bisa ada di titik sekarang.” Ucapan Juanda sontak membuat Arjuna berkeringat dingin. Dengan gerakan pelan ia mengangguk. Ia merasa takut sekarang, takut Juanda tahu kelakuannya kepada Samuel.

“Jangan lupa disapa kalau ketemu. Setelah dari sini kalian juga ngobrol, deh, siapa tahu ada pertemuan kayak gini lagi, kan?” tambah Juanda sambil tersenyum lebar.

Samuel mengangguk dan membalas senyumannya dengan terpaksa. Kalau saja keduanya tahu kelakuan Arjuna padanya, pasti meja itu akan panas malam ini. Namun, Samuel memilih untuk membiarkannya saja. Ia juga sudah memiliki beberapa orang yang membantunya untuk melawan Arjuna dan gengnya, itu sudah cukup untuk membuatnya puas.

“Gue curiga, deh. Lu selama ini nongkrong di kantin FK itu karena mau mantau cowok lo, ya?” tanya Samuel ketika mereka kembali mengunjungi kantin FK.

“Kagak, anjir. Cowok gue anak bisnis,” sangkal Feli sambil memukul kepala Samuel dengan kertas di tangannya.

“Emang seneng aja dia di sini, Sam. Soalnya langganan dia tiba-tiba pindah ke kantin FK, jadi mau nggak mau harus ke sini,” ucap Jaguar sambil merangkul pundak Samuel.

“Kesel, anjir. Tiba-tiba pindah waktu gue lagi sayang-sayangnya.” Jaguar tertawa keras mendangar hal itu.

By the way, Sam. Lo tumben banget pakai baju panjang, nggak kepanasan?” tanya Feli yang sadar akan perubahan berpakaian Samuel.

“Engga, gue malah kedinginan, anjir,” jawab Samuel beralasan, sambil sesekali menutupi pergelangan tangan kirinya dari perhatian kedua temannya.

“Lo sakit?” tanya Jaguar sambil membandingkan suhu dahi Samuel dengan dirinya.

“Engga. Emang lagi dingin aja,” Samuel mengelak sambil menepis tangan Jaguar yang bertengger di dahinya.

“Kalau ngerasa sakit, nanti ngomong aja, Sam. Ada rumah sakit di sana,” ucap Feli sambil menunjuk ke arah Gedung FK. Samuel mencibir saja, lalu segera meletakkan tasnya di salah satu meja yang telah dipilih oleh Jaguar. Setelah itu, Feli dan Jaguar pergi untuk memesan makanan terlebih dahulu, meninggalkan Samuel yang menjaga barang bawaan mereka.

Sembari menunggu, Samuel mengeluarkan laptopnya untuk menyelesaikan beberapa tugas. Ketika sedang fokus dengan layar di depannya, Samuel tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang tengah memperhatikannya saat ini. Tak lama, ia dihampiri oleh orang-orang yang dari tadi sedang memperhatikannya.

Laptop Samuel diambil paksa, membuat pemuda itu terkejut. Ia mendongakkan kepalanya, dan menemukan Arjuna yang sedang mengamati layar laptop Samuel yang ia ambil. Samuel berdiri dengan panik, sambil berusaha untuk merebut kembali laptop miliknya. Arjuna dengan refleks langsung menjauhkan benda di tangannya dari hadapan Samuel. Ditutupnya layar laptop, lalu menentengnya di tangan kanan, sambil berjalan mendekati Samuel yang menampilkan wajah panik.

“Nggak akan gue apa-apain laptop lo, tenang aja. Gue cuman mau ngomong bentar doang,” kata Arjuna sambil mendorong Samuel untuk kembali duduk di tempatnya.

Dari belakang Arjuna, muncul Bagas yang menatap Samuel dengan pandangan merendahkan. Tentu saja, Samuel bisa menebak kalau hari ini akan datang juga, hari di mana ia akan berurusan dengan Arjuna.

“Gue denger, temen lu kemaren nyari ribut, ya?” Samuel menelan salivanya susah payah, nafasnya tercekat, ketakutan kembali menyelimutinya.

“Bagas bilang, kalau dia udah pernah peringatin lo, tapi lo nggak mau denger. Sekarang gimana, dong? Lo udah ngusik gue banget, dan gue ngerasa terganggu. Jadi, gimana caranya gue bisa buat lo diem?” ucap Arjuna sambil menepuk pelan kepala Samuel dengan laptop di tangannya.

“Harusnya gue yang nanya, gimana caranya biar lo diem” Suara dari belakang punggung Arjuna membuat pemuda itu mendecak sebal. Sepertinya ada seorang yang ingin menjadi pahlawan kesiangan di sini.

Di belakangnya, terlihat 3 orang pria yang salah satunya berbadan lebih besar dari pada Arjuna. Ketiganya terlihat terganggu akan kehadiran Arjuna di area kantin FK.

“Lo nggak usah ikut campur, ini urusan gue bareng junior gue,” seru Arjuna yang tidak senang akan kehadiran mereka.

“Lo udah ribut di meja gue, otomatis gue harus ikut campur,” balas pria yang berbadan besar.

“Oh, lo juga komplotan si cewek rese, ya? Pantesan pengen ikut campur juga. Tapi, gue peringatin aja, kalau mau hidup tenang di kampus ini, jangan cari ribut sama gue.”

“Emangnya lo siapa? Anak rektor? Anak yang punya kampus? Kalau nggak punya kuasa apa-apa, diem aja. Jangan sok jagoan.”

“Gue emang bukan siapa-siapa, tapi gue bisa bikin kehidupan lo di kampus ini nggak tenang. Orang-orang di kampus ini pada tunduk sama gue.”

“Oh, ya? Gue baru tau, lho. Coba, deh, bikin kehidupan gue nggak tenang, bisa nggak?”

“Kalau nggak bisa, diem-diem aja, dek. Jangan omongan doang yang gede,” ucap salah satu pria berbadan besar yang mendekati pemuda itu, lalu merebut kembali laptop milik Samuel.

“Ada apa rame-rame? Perasaan baru gue tinggalin bentar?” Feli yang baru saja kembali bertanya bingung. Pandangannya mengarah kepada ketiga pria yang berdiri tak jauh darinya, lalu kepada Arjuna yang berada di hadapan Samuel.

“Lo gangguin temen gue lagi, ya? Nggak cukup ancaman gue kemaren?” seru Feli marah kepada Bagas yang berdiri tak jauh darinya. Diletakkan nampan makanannya di salah satu meja, lalu ia berjalan menghampiri Bagas dan mencengkram kerah baju pemuda itu.

“Lo nggak ngerti Bahasa manusia atau gimana, anjing!? Udah gue bilang, tinggalin Samuel!” teriak Feli tepat di hadapan wajah Bagas. Pemuda yang sedang diteriaki itu panik, ia tidak menyangka bahwa Feli akan berani kepadanya saat ada Arjuna.

“Tenang, Feli. Tahan diri,” ucap pria berbadan besar sambil menarik Feli menjauh dari Bagas.

“Lo lihat sendiri gimana kelakuan mereka, Kak. Gue nggak bohong soal mereka,” ujar Feli kepada pria yang menariknya itu.

“Iya, gue udah lihat. Apalagi si jagoan yang ngancem temen lo ini, omongannya terlalu besar.”

Pria berbadan besar itu mendekat ke arah Arjuna. Tangannya terangkat untuk memperbaiki kerah baju pemuda yang lebih pendek darinya, lalu bertanya kepada Arjuna, “Nama lo siapa?”

“Arjuna.”

“Arjuna, ya? Inget pesen gue, mendingan lo berhenti sok berkuasa di kampus, yang berpengaruh itu Kakak lo, bukan elo. Gue kenal sama dia, kita temenan dari maba sampai lulus, dan gue tau perjuangannya sampai dikasih julukan Bintang Kampus. Jangan karena kelakuan busuk lo di kampus ini, nama Kakak lo jadi jelek. Jadi, mendingan sekarang lo berhenti, dan fokus nyelesain skripsi lo, kampus nggak akan berbaik hati nampung lo sampai tua.” Setelah berujar demikian, cengkraman pada kerah baju Arjuna dilepaskan sambil bahunya didorong pelan.

By the way, lo bisa nanyain ke Kakak lo sendiri kalau nggak percaya gue temennya. Sebut aja nama gue, Bevilin Juanda,” lanjut pria berbadan besar bernama Bevilin itu. Arjuna diam saja, masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi.

“Lah, kok rame banget, sih?” tanya Jaguar yang baru saja kembali. Pandangannya mengarah ke arah Bevilin yang langsung tersenyum kepadanya.

“Beli apa, Ja?”

“Burger, Kak. Lagi promo di sana,” jawab Jaguar sambil menunjuk antrian di salah satu kedai.

“Kayaknya menarik. Gue beli makan dulu, deh, pada mau nitip nggak?” tawar Bevilin kepada kedua temannya, lalu kepada Samuel.

“Eh, nggak usah, Kak. Gue pesen sendiri aja,” tolak Samuel.

“Nggak apa-apa, gue yang traktir, nggak terima penolakkan,” paksa Bevilin sambil menepuk-nepuk kepala Samuel dengan gemas.

Seiring kepergian Bevilin bersama kedua temannya untuk memesan makanan, Arjuna juga beranjak bersama komplotannya, membuat Feli mencibir untuk kesekian kalinya. “Kenapa nggak dari tadi aja perginya, bikin kesel aja.”


“Gue Bevilin, yang ini Firza, terus yang diujung itu Jaki,” ucap Bevilin memperkenalkan diri juga teman-temannya.

“Kita bertiga mahasiswa S2 di kampus ini, dan emang sering hangout sama Feli dan teman-temannya,” lanjut Bevilin sambil memasukan sepotong kentang goreng ke dalam mulutnya.

“Wow, berarti emang pada beda-beda umur, ya?” tanya Samuel yang merasa kagum terhadap Feli. Pasalnya, koneksi dari gadis itu tidak hanya mahasiswa S1 saja, bahkan ada yang S2 hingga yang sudah bekerja. Samuel bertanya-tanya, sebenarnya gadis itu bergaul di mana saja?

“Iya, ada yang udah kerja juga. Kita yang S2 sebenernya berempat, ada satu cewek, tapi belom dateng.”

“Udah, kok. Itu lagi jalan ke sini,” balas Feli sambil menunjuk ke salah satu arah kantin.

“Eh, ada Samuel, ya!” teriak salah satu dari antara gerombolan orang yang ditunjuk Feli. Gadis berkepang dua yang berteriak tadi langsung berlari ke arah Samuel duduk, lalu menepuk-nepuk pundaknya dengan heboh.

“Senengnya ngumpul kalau ada Samuel,” ujar gadis berkepang dua itu senang.

“Halo, Seli, seneng juga bisa ketemu elo lagi,” kata Samuel sambil ber-tos ria bersama gadis bernama Seli itu.

“Hai, sori harus nunggu lama,” ucap salah seorang dari ketujuh orang yang baru saja datang.

Dari 7 orang yang baru saja sampai itu, Samuel sudah mengenal 3 orang lainnya. Ada Seli dari FH, Sarah dari FSRD, Keilan dari Psikologi.

“Samuel,” panggil Feli, yang membuat perhatian Samuel teralihkan dari Seli.

“Ini pacar gue, dari bisnis,” ucap Feli memperkenalkan seorang pemuda kepada Samuel. Pemuda itu mengenakan kaus yang dibalut jaket jeans, serta celana jeans, terlihat simple tetapi harus Samuel akui sangat menawan jika dipakai oleh kekasih Feli.

“Halo, bro. Gue Yonathan. Feli sering certain tentang lo, jadinya gue penasaran juga,” Yonathan mengulurkan tangannya, dan disambut Samuel dengan ramah.

“Oh iya, kenalin juga ini Kak Patrick yang udah kerja, ini Kak Grace yang lagi S2, dan ini Viar anak FK nggak pernah nongkrong waktu gue ajakin elo.” Feli kembali memperkenalkan ketiga orang lainnya kepada Samuel, yang disambut senyuman lebar oleh pemuda itu.

Semakin banyak orang yang ia kenal hari ini, ia bisa bercerita kepada teman-temannya nanti.

“Hai, Samuel. Semoga betah kumpul bareng kita, ya,” ucap Grace yang menepuk-nepuk pundak Samuel pelan sambil tersenyum.

Mereka berkumpul dan bercerita hingga waktu menunjukkan pukul 3 sore. Viar pamit terlebih dahulu karena ada jadwal kelas, diikuti Sarah yang harus kembali ke rumah sebelum pukul 4 sore. Pembicaraan terus berlanjut hingga langit berwarna jingga.

“Gue penasaran, deh, Kak. Kenapa grup ini bisa kebentuk?” tanya Samuel kepada Bevilin yang tengah menegak kopi kalengnya.

“Grup ini sebenarnya buat camping, tapi ternyata berlanjut ke grup tongkrongan. Tiba-tiba juga jadi grup buat main voli,” jelas Bevilin sambil terkekeh.

“Main voli? Kalian juga main voli?” tanya Samuel yang tiba-tiba bersemangat.

“Iya! Lo bisa main voli?” tanya Bevilin juga ikut bersemangat. Samuel menjawabnya dengan anggukkan kepala, membuat Bevilin langsung berdiri dari tempatnya dengan bersemangat.

“Ayo main bareng!”

“Ya ampun, Bev. Giliran bahas voli aja lu semangat banget,” seru Grace yang tertawa melihat kelakuan temannya itu.

“Iya, tuh. Udah tua tapi demen main sama anak muda,” tambah Firza yang duduk di sebelah Bevilin.

“Maklumin aja kenapa, sih,” cibir Bevilin sambil kembali duduk di tempatnya.

“Ya udah, nanti kalau mau main voli gue ajakin Samuel, deh,” kata Feli sambil memasukkan iPad miliknya ke dalam tas. Mereka sudah bersiap-siap untuk pulang karena hari sudah semakin gelap. Setelah pertemuan itu, Samuel merasa sangat senang, ia tidak sabar untuk pulang dan menceritakannya kepada teman-temannya yang lain.

“Udah makan belum, Sam?” tanya Waniar yang baru saja tiba di unit apartment Samuel tanpa mengabari terlebih dahulu.

“Belum, Kak,” jawab Samuel yang dengan gugup berusaha menutupi lengan kirinya. Ia lupa memakai baju berlengan panjang, dan ia tidak mengantisipasi bahwa Waniar akan datang secara tiba-tiba seperti ini.

“Mau makan di luar, nggak? Gue baru gajian, nih,” tawar Waniar sambil berjalan mendekati sang adik.

“Bebas, sih, Kak. Yang penting makan,” jawab Samuel tidak seceria biasanya. Waniar menyadari bahwa ada yang berbeda dari adiknya hari ini, pemuda itu terkesan menghindari dan membatasi dirinya terhadap Waniar.

Tanpa disangka-sangka, Waniar tiba-tiba saja menarik tangan kiri Samuel yang dari tadi ia sembunyikan, membuat yang lebih muda terkejut dan panik.

“Lo kenapa, Dek?” tanya Waniar dengan wajah terkejut melihat banyak sekali luka sayatan pada pergelangan hingga lengan bawah sang adik.

Wajah Samuel berubah, ia tidak dapat mengeluarkan suaranya saat ini. Waniar juga tidak dapat berkata-kata lagi. Ia tahu, saat ini Samuel tidak bisa untuk dinasehati atas tindakannya, yang adiknya perlukan adalah support darinya. Untuk itu, Waniar segera menarik yang lebih muda kepelukannya, memberikan perasaan tenang yang Samuel butuhkan sekarang.

Samuel membalas pelukan sang kakak, mencari sebuah ketenangan. Elusan yang diberikan Waniar sukses membuat Samuel terisak, entah kenapa perasaan-perasaan yang ia pendam kembali muncul lagi.

“Kenapa lo lakuin pas Kak Satria mau ke sini, sih, Sam? Gimana gue jelasin ke dia…” lirih Waniar yang dibalas gelengan kecil oleh Samuel. Ia pun tidak tahu harus memberikan pembelaan apa kepada sang kakak.

“Kak… Gue beneran nggak berguna, ya? Gue nggak bisa apa-apa, gue bodoh, gue bahkan nggak bisa ngelawan waktu ditindas, gue cuman jadi beban doang,” isak Samuel, membuat Waniar yang mendengar perkataannya kaget.

“Selama ini lo ditindas? Kenapa nggak cerita, Samuel?” Tanya Waniar, masih belum melepas pelukannya.

“Gue nggak mau bikin Kakak khawatir. Selama ini lo juga lagi ada masalah di kantor, gue nggak mau nambah beban pikiran elo, Kak.”

Hening sejenak, isakan Samuel belum juga mereda, dan pelukan mereka masih belum terlepas. Waniar tahu, jika ia melepas pelukannya, Samuel tidak akan ada keberanian untuk bercerita. Mereka masih terlalu canggung jika bercerita di hadapan satu sama lain.

“Kak, selama ini gue cuman bisa bikin malu nama keluarga, ya?” Tanya Samuel tiba-tiba, suaranya serak akibat terlalu lama menangis.

“Lo nggak bikin malu nama keluarga, lo itu hebat dengan cara lo sendiri,” ucap Waniar sambil mengelus pelan punggung adiknya. Tangisan Samuel kembali pecah, kini lebih keras dari sebelumnya.

Tidak ada kata-kata yang keluar lagi dari bibir kedua kakak-adik itu. Setelah tangis Samuel mereda pun mereka masih mempertahankan posisi berpelukan, sampai Samuel melepas pelukan sang kakak terlebih dahulu.

“Udah mendingan?” Tanya Waniar dengan senyuman hangat. Samuel mengangguk saja, merasa canggung karena sudah menangis dengan keras di hadapan kakaknya.

“Mau makan sekarang, nggak?” Tanya Waniar sekali lagi sambil mengeluarkank handphone dari saku celananya.

“Nggak sekarang, deh, Kak. Lagi nggak ada nafsu makan,” jawab Samuel dengan suara serak sehabis menangis.

“Ya udah, nggak apa-apa. Kalau mau makan, kasih tahu aja, ya,” ucap Waniar sambil mengusap kepala Samuel. Pemuda itu kemudian berlalu menuju kamar tidurnya. Keduanya merasakan canggung, namun berusaha sebisa mungkin untuk peduli satu sama lain.


Setelah makan malam, keduanya kembali berbincang. Membahas Satria yang tiba-tiba akan datang dan menggelar reuni kecil-kecilan di kota yang mereka tinggali. Teman-teman semasa SMA Satria sudah tersebar ke berbagai daerah, namun kebanyakan berada di kota yang sama dengan Samuel dan Waniar, sehingga Satria memutuskan akan mengadakan acara reuni kecil-kecilan.

“Katanya dia bakal buka kantor cabang perusahaan di sini.”

“Serius!?” Seru Samuel yang kaget.

Waniar mengangguk saja. Ia juga sama kagetnya dengan Samuel ketika diberitahu Satria tentang rencananya untuk membuka kantor cabang perusahaan di kota yang mereka tinggali. Pasalnya, sudah beberapa tahun RAV Group tidak lagi membuka kantor cabang di kota mana pun dan tetap berjalan sesuai kemauan Ayah. Rencana Satria ini juga sebagai bukti, bahwa ia telah benar-benar mewarisi perusahaan.

By the way, Kak. Gue mau cerita dikit soal Ayah sama kak Satria, boleh?” Ungkap Samuel sambil menurunkan kedua kakinya yang tadi ia silankan di atas kursi.

“Boleh aja, kenapa?”

Samuel menarik nafas sejenak, rasanya masih sedikit ada keraguan dalam dirinya untuk bercerita.

“Cerita apa, Sam?” Tanya Waniar yang menyadari keraguan dalam diri adiknya itu.

“Dulu, gue pernah ngelihat Ayah nampar Kak Satria karena nggak bisa dapet ranking satu. Waktu itu, Ayah marah-marah sambil teriak kalau Kak Satria itu anak gagal, nggak bisa menuhin ekspetasi Ayah. Mulai dari situ, gue selalu tanemin dalam otak gue kalau Ayah nggak suka lihat orang gagal, Ayah nggak suka lihat anak yang nggak berguna, Ayah pengen anak-anaknya bisa menuhin ekspetasinya, kalau nggak Ayah bakal marah terus mukul kita,” tutur Samuel sambil mengingat kembali ingatan pahit tersebut. Ia masih bisa merasakan perasaan takut yang muncul ketika ia mengintip kejadian tersebut dengan matanya sendiri. Kejadian tersebut tanpa sadar mempengaruhi Samuel hingga ia tumbuh dewasa, membuat sebuah luka batin terhadap Ayahnya sendiri.

Waniar terdiam, ternyata selama ini banyak cerita yang tidak ia dan saudara-saudaranya ketahui tentang Kakak sulung mereka. Mungkin ada lebih banyak lagi cerita menyakitkan terkait masa kecil Satria.

Pemuda itu menatap Samuel yang diam sehabis bercerita. Adiknya juga menyimpan banyak cerita menyakitkan di balik senyuman dan tingkahnya yang menyebalkan. Mungkin ia harus lebih peduli lagi terhadap perasaan Samuel, sebisa mungkin agar luka batinnya bisa sembuh perlahan-lahan.

“Sam, apapun yang terjadi di masa lalu, gue harap lo bisa lupain itu. Apa yang Ayah lakuin itu memang perbuatan yang buruk, tapi sekarang lo nggak perlu khawatir, Ayah sudah nggak kayak gitu lagi, kok. Kita ber-13 bisa bikin Ayah bangga dengan bidang masing-masing. Kesalahan Ayah di masa lalu nggak perlu diingat lagi, kita hanya perlu fokus dengan apa yang terjadi di depan. Gue juga bakal bantu lo, apapun yang lo butuhin. Jadi, ayo kita fokus ke masa depan bareng-bareng, Dek,” ucap Waniar yang tersenyum hangat kepada Samuel, yang dibalas senyuman tipis oleh adiknya itu.

Thank you, udah mau dengerin dan temenin gue di masa-masa sulit gue, Kak. Gue beruntung punya Kakak kayak lo,” balas Samuel yang menutup percakapan serius di malam itu.