ajakan dinner
“Sekian untuk hari ini, terima kasih atas kerja samanya!” ucap William menutup kegiatan mereka malam hari itu. Dilepaskannya headphone yang ia kalungkan dan meletakkannya di sebelah monitor. Sambil mendorong sedikit kursinya ke belakang, William merenggangkan tubuhnya.
“Kak William, boleh ngomong sebentar?” ucap Tari yang baru saja akan bersiap-siap berdiri.
“Kenapa, Tar? Ada yang mau kamu ulangin?” tanya William sambil berbalik menghadap kepada Wanita yang lebih muda darinya itu.
“Engga, Kak. Cuman mau nanya, Kakak besok sibuk nggak?”
William terlihat berpikir sejenak. “Nggak terlalu sibuk, sih, palingan ada janji aja. Kenapa emangnya?”
“Besok mau dinner bareng, nggak, Kak? Sebagai ucapan terima kasih juga,” ujar Tari sambil merapikan barang bawaannya.
“Aduh, kalau dinner nggak bisa, Tar. Aku udah ada janji sama pacarku,” balas William.
Tari menghentikan pergerakannya, lalu menatap William dengan panik, “Eh, sorry, Kak. Aku nggak tahu kalau Kak Will udah punya pacar. Maaf ya, aku udah lancang ngajak dinner.”
William tertawa kecil menanggapi kepanikan Tari, “Nggak apa-apa, Tar. Kamu juga nggak ada maksud apa-apa, kan? Santai aja, pacarku nggak galak, kok.”
“Ya… tetep aja, Kak, aku ngerasa nggak enak.”
“Kalau mau tetep dinner, nanti cari waktu lain aja, kita sesuaiin jadwal masing-masing.”
“Beneran nggak apa-apa kalau aku ajak Kak Will dinner?”
“Nggak apa-apa harusnya, Tar. Kenapa kamu jadi nggak enak gitu?” ujar William sambil terkekeh. “Nggak enak sama pacar kakak, takutnya dia mikir macem-macem.”
“Santai aja, Tar. Dia juga nge-fans sama kamu, jadi harusnya dia bolehin.”
“Eh, dia nge-fans sama aku? Aduh jadi makin nggak enak,” ujar Tari sedikit panik.
William tertawa saja melihat reaksi Tari, “Kalau emang nggak enak, izin langsung aja, Tar. Santai kok orangnya.”
“Duh, ya udah deh, Kak. Nanti selanjutnya lewat chat aja, sekalian cocokin jadwal sama aku izin dulu ke pacar kakak,” ucap Tari akhirnya. Ia kemudian berpamitan untuk segera keluar dari studio, karena harus menyelesaikan beberapa hal lagi.
Sepeninggalan Tari, William mengeluarkan ponselnya untuk mengecek beberapa notif yang belum sempat ia baca selama ia dalam mode ‘do not disturb’.
Ada beberapa notif dari grup keluarganya, juga dari Ibunya. Ia sempatkan membaca hampir 200 chat yang dikirimkan para saudaranya di grup, lalu ia beralih kepada ruang chat sang Ibu yang bertanya beberapa hal kepadanya.