Tenis bareng
Masih dengan nafas yang terpatah-patah, William menepi ke pinggir lapangan dan duduk di sebelah Tari yang juga ikut dalam permainan tenis mereka hari itu. Awalnya Gio hanya mengajak William saja, tetapi ternyata Tari dan beberapa rekan mereka juga ingin bergabung. Jadi, di sinilah mereka. Berganti-gantian untuk menonton dan bermain tenis bersama.
William membuka botol air, lalu meneguk setengah isinya. Menghempaskan rasa haus dan lelah yang menyerangnya saat bermain melawan salah satu rekan yang cukup tangguh.
“Kayaknya capek banget ya, Kak?” ujar Tari sambil tertawa saat melihat wajah William yang sudah memerah.
“Iya. Gila, Bang Jalu jago banget. Aku nggak bisa ngimbangin,” balas William sambil mengatur nafasnya yang belum pulih.
Tari tertawa lagi, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lapangan lagi. “Tapi, ya, Kak, ini perasaan aku aja atau gimana, kamu kayak kelihatan berlebihan ngeluarin tenaganya. Lagi ada yang dipikirin, ya?”
Pertanyaan Tari membuat Willam terkejut. “Emang kelihatan banget?”
“Kamu kayak lagi ngelampiasin sesuatu gitu. Mainnya kayak pakai emosi. Bukan hanya pas sama Kak Jalu aja, sama Kak Hasan juga gitu tadi,” ucap Tari sambil menatap wajah William lekat-lekat.
William menghela nafasnya berat. Memang benar, iya sedang mencoba melampiaskan perasaannya saat ini, karena menghadapi dan memikirkan Fanny benar-benar mengacaukan kewarasannya.
“Kakak ada masalah sama pacar Kakak?” pertanyaan Tari tepat menusuk di jantungnya.
“Ya, gitulah, Tar. Masalah komunikasi aja, sih. Dia lagi di luar kota sekarang, tapi belakangan chat-ku nggak dibalas. Aku jadi bingung, khawatir, dan takut. Apalagi, aku nggak tau kapan dia bakal pulang, jadi kayak… aku buta sama keadaannya.”
Tari yang mendengar itu jadi terdiam, bingung bagaimana meresponi cerita William.
“Kakak sempat coba chat di aplikasi lain, nggak? Kayak ke Instagram, atau Twitter?”
“Sempat. Disuruh sama saudaraku. Siapa tau dibalas.”
“Terus, dibalas, nggak?”
William menggeleng, membuat Tari kembali terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Menurut kamu… Kemungkinannya dia ke mana, Tar?”
“Kakak mau aku ngomong jujur, atau nggak?”
William menelan ludahnya kasar, sepertinya yang saat ini dia butuhkan adalah perkataan menenangkan, jadi ia putuskan untuk menggeleng.
“Karena kakak bilang dia lagi di luar kota, ada kemungkinan dia ada di tempat yang dekat pantai atau pulau-pulau gitu. Bisa aja handphone-nya kecebur ke laut, atau nggak rusak selayar-layarnya, dan nggak ada tempat service handphone atau nggak ada yang jualan handphone.”
Perkataan Tari malah membuat kepala William kembali sakit. Tidak masuk akal, tetapi tetap ia terima.
“Iya, terima kasih, Tari. Walaupun tidak menenangkan, tapi terima kasih sudah berusaha.”
Balasan William membuat Tari tersenyum kecut, ternyata tidak membantu, ya?