William pulang

Jeffry baru saja bangun dari tidurnya, hendak mengambil minum di dapur, ketika ia mendapati William yang sedang tidur di sofa ruang tamu, masih lengkap dengan jaket dan baju kerja yang ia gunakan kemarin. Tak jauh darinya, ada gitar yang tergeletak tidak berdaya, dan juga tas kerja yang isinya sudah jatuh berserakan.

Jeffry mendekat ke arah sang Adik, lalu perlahan melepaskan jaket dan kemeja yang masih melekat di tubuh pemuda itu, menyisakan kaos hitam yang sudah basah dengan keringat. Diliriknya buku-buku jari tangan kiri William yang terbungkus plester, sepertinya ia mengalami malam yang panjang bersama gitar kesayangannya.

Sang Kakak menghela nafas berat, emosi yang ia rasakan kemarin perlahan diganti oleh kelegaan. Setidaknya sang Adik pulang dengan selamat. Sembari menunggu William bangun, Jeffry memutuskan untuk menyiapkan sarapan dan mencuci baju-baju kotor William yang menumpuk, menunggu pemiliknya sadar.

2 jam setelahnya, saat Jeffry tengah sibuk dengan pekerjaannya, William terdengar mengerang kecil, membuat Jeffry langsung datang menghampiri. William membuka matanya perlahan, masih beradaptasi dengan cahaya yang masuk. Setelah itu ia menoleh ke arah sang Kakak yang sedang berdiri dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya sangat menjelaskan kalau pemuda itu sedang marah.

William perlahan duduk menghadap yang lebih tua, bersiap menerima sumpah serapah dan amarah.

“Ke mana aja lo semalam?” tanya Jeffry dengan nada dingin.

William menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung ingin menjelaskan.

“Di alun-alun,” jawab William dengan suara pelan.

“Kenapa nggak diangkat teleponnya?”

Handphone gue mati.”

“Emang nggak berguna, ya, itu handphone, dibuang aja, udah.” ujar sang Kakak masih dengan amarah yang memuncak.

William menghela nafasnya, merasa bersalah. “Maaf, Kak, gue nggak kasih kabar dulu. Maaf udah bikin lo khawatir. Maaf gue nggak bisa dihubungi kemarin.”

“Lo kalau ada masalah, tuh, cerita. Biar gue ngerti. Ngomong, kalau pengen sendiri, jangan buat seakan-akan nggak ada yang peduliin lo gitu,” ucap Jeffry, membuat William tertunduk sempurna.

“Gue bingung kemarin, gue pusing, gue nggak tahu harus ngapain. Gue pilih satu-satunya jalan yang bisa bikin gue lari dari masalah gue.”

“Apa? Ngilang?”

William terdiam.

Jeffry menghela nafas berat, kemudian mendekat ke tempat adiknya duduk, lalu mengusao kepalanya pelan, “Intinya, jangan lupa kabarin gue. Gue nggak masalah kalau lu mau nongkrong sampai pagi, mau minum-minum, mau mendaki ke mana juga, terserah. Yang penting, kabarin gue.”

William mengangguk, diam-diam merasa bersalah sudah membuat Kakaknya yang sibuk ini khawatir.

Jeffry menjauhkan tangannya, lalu berbalik menuju dapur.

“Sini, makan dulu. Gue udah masak.”

William menurut, dan segera beranjak ikut ke dapur.

“Lo buka baju gue, ya, Kak?” tanya William ketika ia sadari kini dirinya hanya memakai kaos.

“Iya, soalnya lo keringetan tadi,” jawab Jeffry sembari memberikan piring kepada sang Adik.

“Oh, iya. Gue kemarin sempet kabarin Kak Satria dan kayaknya dia agak marah. Tapi, nanti gue yang urus, lah. Lo makan aja dulu.”

William yang sedang menyendokkan lauk sontak berhenti dan memandang Jeffry dengan pandangan horror. Sang Kakak meringis saja, dan menepuk kepala William pelan, “Udah, nggak apa-apa, gue yang ngomong nanti.”

Tetap saja, William sudah tidak punya selera makan lagi, ia ingin mati sekarang juga.